Ardika meraih kedua pipi Sanya dan mencubitnya gemas. “Karena wajah imut ini mirip kelinci,” katanya, mencubit sedikit lebih kuat hingga Sanya meringis. “Sakit,” keluh Sanya. Ardika melepas cubitan itu tanpa rasa bersalah. Sanya mengusap pipinya yang memerah. “Merah, sayang,” kekeh Ardika. Sanya merengek manja tak terima. “Maaf,” ucap Ardika sambil tertawa lepas, lalu mengecup pipi Sanya berkali-kali. Obrolan tentang tulisan tangan Ardika itu pun terlupakan begitu saja. “Mana ponselnya? Coba aku telepon, ya,” saran Sanya. Ardika mengangguk setuju. Tak lama, suara dering terdengar dari arah rak buku besar. Ardika mengembuskan napas lega. “Ih, bisa-bisanya ditaruh di situ lalu lupa,” omel Sanya sambil berjalan ke arah rak. Ia mengambil ponsel Ardika yang terselip di antara deretan

