Sanya menjerit sambil melempar kotak itu asal. Di dalamnya, seekor hewan kecil tergeletak tak bernyawa, tubuhnya berlumur darah. Terselip foto dirinya bersama keluarga di sana. Dengan tangan gemetar, Sanya meraih ponselnya dan segera menghubungi Ardika. Nada sambung terdengar sekali … dua kali … hingga suara deringan itu jelas terdengar bersama suara pintu terbuka. Ardika melangkah masuk. Lelaki itu langsung menangkap sosok Sanya yang meringkuk di ujung sofa, memeluk lututnya sendiri. “Sanya,” panggilnya, cepat melangkah mendekat. Tatapan Sanya terangkat penuh takut dan harap. “Aku terima paket,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu siapa yang kirim. Aku… aku takut.” Ardika langsung memeluknya. Satu tangannya mengusap punggung Sanya berusaha menenangkaan. Matanya sempat melirik kotak yang

