38. Hadiah

1051 Kata

Sanya mendorong tubuh Ardika menjauh, tepat saat jarak di antara bibir mereka nyaris menyatu. “Sa… saya mau pulang,” ucapnya lirih. “Aku antar,” jawab Ardika. “Mulai sekarang panggilannya aku–kamu saja. Kita kan lagi nggak di kantor.” Sanya mengembuskan napas pelan. Ada rasa canggung yang meggerogoti dirinya. Sepertinya banyak sekali yang Ardika pelajari soal hubungan sepasang kekasih, pikirnya. “Kamu kelihatan gugup?” Ardika mendekat, menundukkan wajahnya untuk menelisik raut kekasihnya. “Sayang,” panggilnya pelan. “Stop, Pak!” Wajah Ardika yang semula santai seketika berubah menjadi jengah, terlihat jelas dari sorot matanya. “Saya tidak mengizinkan kamu pergi kalau masih tidak bisa diajak bekerja sama sebagai sepasang kekasih.” “Sayang,” potong Sanya cepat. Mendengar itu, Ardika

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN