“Pantas saja sih, kita contohnya,” balas Sanya polos. “Kenapa memangnya, Pak?” tanyanya lagi. Wajah wanita itu yang polos justru membuat Ardika sedikit jengah. Ardika menggeleng, memilih kembali memusatkan perhatian pada kemudi. Tak lama, mobil mereka tiba di sebuah mal. Sanya mengerutkan kening, menoleh ke sekeliling memastikan sesuatu. “Mau beli Lego?” tanyanya ragu. Ardika mengangguk singkat. Ia memberi isyarat dengan dagunya meminta Sanya turun dari mobil. “Nggak nyaman saya. Kita pulang saja,” gumam Sanya, melihat kedua tangannya di depan d**a. Ardika menahan tawanya melihat bibir wanita di sampingnya yang cemberut. Tangannya terlepas dari setir, meraih tangan Sanya. “Turun dulu, sayang,” ujarnya dengan nada lembut. Sanya membeku. Napasnya tertahan sesaat. Ia terkejut mendenga

