“Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Sudah jelek, makin tambah jelek,” komentar Ardika santai sambil menyetir. Pagi tadi, lelaki itu datang ke unit Sanya untuk sarapan bersama sebagai ganti gagalnya makan malam kemarin. Setelahnya, ia langsung menyarankan agar mereka berangkat bersama saja. Satu pekerjaan, jam kerja bisa disesuaikan, dan toh pulangnya ke tempat yang sama, begitu alasan Ardika. Apa Sanya bisa menolak? Tentu tidak. Itu bukan penawaran melainkan titah dipertuan muda Ardika yang seakan harus dipatuhi. “Sudah tahu jelek, masih saja mau dengan saya?” balas Sanya lirih. “Mau.” Ardika menjawab cepat. “Ya gimana, kan terpaksa. Saya kasihan aja sama kamu… dan saya bisa merasakan kamu kalau sama saya itu aman dan nyaman.” Ia menoleh sekilas. “Nyaman nggak?” Sanya menelan salivanya.

