Leonard garuk keningnya yang tak gatal seraya berjalan mondar-mandir dengan ekspresi wajah yang cemas. “Kenapa kamu gak tolak aja sih Permintaan, Mama? Kenapa kamu gak coba cari alasan apa gitu? Kamu tahu kan kalau selama ini memang saya tidak pernah mengimami kamu!” “Aku harus nolak dengan apa, Mas Leon? Aku juga harus beralasan dengan mengatakkan apa? Aku memang tahu betul jika selama ini salat kita terpisah. Tapi kan Mama memang gak pernah tahu. Lalu aku harus gimana menyikapinya? Aku harus bicara apa agar, Mama, percaya?” tanya Lyora bertubi-tubi. Leonard pun mendengkus kesal seraya kini mulai ia hampiri Lyora yang masih duduk disudut ranjang. “Okay. Saya gak mau tahu ya, Ra! Bilang saja kalau saya sedang menerima telpon dari rekan kerja saya. Dan saya meminta kalian untuk salat dulu

