1. Prolog
Helio melepas headphone yang dia kenakan dengan gerakan kasar lalu melemparnya secara sembrono. Punggungnya terhempas ke sandaran kursi. Embusan napas berat keluar dari bibirnya seiring dengan mata yang terkatup rapat, sementara lekuk dalam di antara alis tebal pria itu seolah bercerita kalau isi benak Helio saat ini seratus persen sedang kacau.
Helio, komposer lagu sekaligus pewaris perusahaan Hostelion Entertainment, sedang dibuat mati kutu oleh satu kata yakni inspirasi. Sebenarnya, ke mana larinya inspirasi sampai-sampai Helio sekalut ini? Jangankan menciptakan sebuah lagu yang enak didengar dan disukai banyak orang. Menulis satu bait lirik saja pria itu seperti ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Perbendaharaan kata yang dia miliki seolah hilang ditelan bumi sehingga satu-satunya yang tertinggal di dalam benaknya hanyalah bayangan hitam dan kekosongan.
Sepertinya aku sedang butuh hiburan!
Helio mengusap wajahnya yang lelah sebelum memutuskan untuk pergi ke dapur. Berharap kandungan kafein yang ada di secangkir kopi espresso bisa membantunya untuk lebih fokus. Tak lama kemudian, acara santai Helio diinterupsi oleh suara panggilan telepon dari sahabatnya yang berprofesi sebagai dosen program study music history di fakultas musik Universitas Harvest. Helio sengaja membiarkan panggilan itu terabaikan demi menikmati perpaduan pas rasa pahit, asam, manis yang masuk perlahan ke dalam tenggorokan. Barulah di dering ketiga, Helio yang kini sudah duduk nyaman di sofa dekat jendela mengangkat panggilan dari James.
"Ha—"
"LAMA!"
Helio terkekeh. Belum apa-apa dia sudah disembur dengan kalimat singkat yang sarat akan kekesalan.
"Lagi minum kopi," jawabnya santai, "kau mau?"
"Boleh."
"Ya sudah. Nanti aku kirim kopinya pakai ekspedisi, ya. Bye!"
"E-eh, Bro! Sebentar!"
"Kenapa lagi?"
"Dasar sialan! Padahal yang minta ditelepon itu 'kan kau!"
"Benarkah? Maaf aku lupa." Helio tertawa lagi. "Jadi Mr. James, apa yang harus aku lakukan jika pikiranku sedang buntu? Aku benar-benar sedang butuh inspirasi omong-omong." Helio menambahkan decakan di akhir kalimat.
"Jika kau bertanya tentang inspirasi kepadaku, jawabannya pasti tidak jauh-jauh dari wanita."
Helio menaikkan sebelah alis, sedangkan James yang bisa membayangkan bagaimana ekspresi Helio sekarang langsung meringis geli.
"Aku sudah memberitahumu jawaban, Bro. Wanita, tubuh mereka, suara mereka, tatapan mereka, semuanya bisa kau jadikan inspirasi."
"Aku butuh yang lain."
"Yang lain? Tentu saja cinta!" jawab James bersemangat. "Kau bisa membuat lagu romantis ketika sedang jatuh cinta. Kau juga bisa membuat lagu tentang patah hati ketika kau putus dari kekasihmu."
Helio mendesah seraya memijat pelan pelipisnya. Alih-alih memberikan respon atas usul James, pikiran Helio justru terbang entah ke mana. Pria itu baru ingat kalau dirinya sudah lama tidak menjalin hubungan asmara dengan perempuan mana pun. Mungkin saja hatinya berkarat gara-gara hal itu sehingga efek yang dia terima saat ini adalah kebuntuan tak berujung.
"Kau juga bisa mencari inspirasi lewat sentuhan." James jeda sejenak sebelum memperjelas maksud perkataannya. "Sentuhan antara kulit dengan kulit ketika kau sedang bermesraan bersama kekasihmu di atas tempat tidur, akan menjadi inspirasi yang—"
"Kotor," jawab Helio mantap.
Ketika James berbicara, suaranya terdengar riang dan penuh kekaguman. "Menyenangkan, Helio! Jangan sok alim begitu. Aku jadi muak, jijik, dan ingin menoyor kepalamu yang kosong itu."
Helio mendongak dan tertawa mendengar perbedaan besar antara nada suara dan ucapan James. "Ini yang membuatku malas bertanya padamu. Sudah kuduga, pasti jawabannya tidak jauh-jauh dari sana."
"Malas tapi tetap bertanya, ya? Super sekali Anda. Sudahlah... jangan berpikir terlalu lama. Cari pacar saja sana! Kau itu butuh dicelup supaya pikirannya fresh."
"Dasar sialan." Helio terkekeh pelan. "Aku jadi kasihan pada murid-muridmu di kampus."
"Aku profesional kok kalau sedang mengajar. Aku 'kan tampan. Tentu saja mereka senang masuk ke kelasku. Buat apa dikasihani?"
"Aku tutup teleponnya."
"Eits, sebentar, Tuan Muda."
"Apa lagi?"
"Datanglah ke sini kalau kau sedang bosan. Seminggu lagi akan diselenggarakan festival musik di kampus. Yah... siapa tahu kau bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi sumber inspirasimu."
"Akan aku pikirkan lagi. Bye."
Sambungan pun diputus sepihak oleh Helio. Setelah meletakkan ponselnya di meja samping, pria itu memasrahkan leher dan punggungnya yang tegang di sandaran sofa sambil berselonjor kaki.
"Festival musik, ya? Kedengarannya bagus," desis Helio sebelum memaksa dirinya menjemput dewi mimpi.
...
Empat hari sebelum festival musik Universitas Harvest dimulai.
Seorang gadis bersurai hitam panjang yang kini sedang duduk seorang diri di bawah pohon maple itu tampaknya belum bosan menikmati sentuhan angin musim gugur yang menyebar ke seluruh pori. Kepalanya tertengadah, sementara manik biru langit miliknya dibiarkan bersembunyi di balik kelopak berhias bulu mata lentik.
Dalam satu tarikan panjang, Aria berupaya memenuhi rongga dadanya yang kosong dengan udara. Dingin ini terasa begitu menggigit, tetapi masih jauh lebih baik dibandingkan dengan beban berat yang berada di kedua bahunya. Selang beberapa menit, sensasi menenangkan yang Aria rasakan diusik oleh dering telepon yang memanggilnya tak sabaran.
Hah, telepon sialan ini lagi.
Manik biru Aria yang tak lagi tertutupi selubung gelap seketika berubah dihiasi sendu. Dering ponsel itu berhenti hanya untuk berdering dan berdering lagi, sampai akhirnya di dering ke empat Aria memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Selia yang sudah pasti berisi caci maki.
"Gadis sialan! Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?!"
Aria tersenyum sedih dan menunduk.
"Maaf, Nyonya. Tadi sedang ada dosen."
"Jangan banyak beralasan! Dengar, ya! Kau itu kuliah di sana bukan untuk main-main. Jadi belajar yang benar sampai kau lulus dengan nilai sempurna!"
Aria tak segera menjawab. Ada gumpalan besar yang bermukim di tenggorokannya hingga Aria kesulitan mengeluarkan suara.
"Baik, Nyonya Selia. Aku akan berusaha keras."
Memenuhi mimpi Anda dan putri Anda demi kedua orangtuaku.
Ada dentuman besar yang memukuli belakang kepala dan ubun-ubun Aria usai senyum penuh ironi itu tercipta. Dentuman itu menghasilkan rasa pening yang luar biasa setiap kali ingatan Aria terlempar secara tiba-tiba ke sebuah tragedi yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya sehingga dia berakhir seperti ini: kehilangan jati diri, sibuk memenuhi ambisi orang lain. Kendatipun Aria lelah diperlakukan seperti sampah oleh Selia dan putri bungsunya Aerin, gadis polos itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah mereka layaknya seorang hamba.
Satu-satunya hal yang membuat Aria bertahan dari belenggu yang mengungkung jiwa raganya hanyalah kepercayaan bodoh kalau Selia benar-benar akan membantunya membuka kembali kasus pembunuhan kedua orangtuanya yang terjadi beberapa tahun silam. Aria sendiri tidak yakin kalau Selia akan menepati janji yang dia ucapkan sewaktu wanita itu menyuruhnya menggantikan Aerin yang hamil di luar nikah untuk kuliah di luar negeri. Tapi bagi Aria, memiliki harapan yang bisa dia jadikan pegangan bisa membantunya bernapas dari pada tidak memiliki harapan sama sekali.
"Hei, kau dengar tidak? Kenapa dari tadi diam saja? Dasar bodoh!"
Aria tersentak, mengerjapkan mata beberapa kali supaya kesadarannya yang sempat lari-lari duduk tenang kembali.
"Maaf, Nyonya Selia. Tadi... eum... tiba-tiba saja saya teringat dengan tugas yang belum saya kerjakan."
"Ck! Aku sudah mengirim uang saku untukmu. Kalau kurang, kau harus mencari tambahan sendiri. Mengerti?"
"Ya, mengerti."
"Ah, satu lagi. Jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis! Awas! Aku ingatkan sekali lagi, kau itu dikirim ke sana bukan untuk pacaran atau menarik perhatian pria kaya. Buat citra diri Aerin sebagus mungkin dan usahakan untuk tidak banyak berinteraksi dengan orang lain."
Lagi-lagi Aria harus menggigit bibir bawahnya sendiri sebelum menjawab, "Ya, saya mengerti," untuk yang kedua kali.
Setitik perasaan lega menyebar ketika sambungan telepon mereka diputus sepihak oleh Selia. Demi meredakan sesak yang mengikat dadanya, Aria mengerahkan tenaga ekstra supaya oksigen yang dia tarik masuk dengan lancar ke paru-paru. Aria masih ingin bersantai ria di bawah pohon maple sampai semburat oranye tengelam di bawah cakrawala. Namun keinginannya terhalang oleh rintik-rintik kecil yang dengan cepat berubah deras. Hujan! Pekik Aria dalam hati seraya membuka telapak tangannya, matanya memandang langit yang sekejap berubah mendung. Aria buru-buru pergi dari tempat itu guna mencari tempat berteduh dengan tas yang dia jadikan pengganti payung.
"Hei, Aeriiiiinn! Cepat ke sini!"
Aria menoleh ke samping. Dengan mata yang menyipit, dia melihat Sarah—teman satu kos yang mengenalnya sebagai Aerin bukan Aria, dan beberapa mahasiswa lain yang tidak dia kenal sedang berteduh di bawah gazebo yang berada di depan fakultas musik. Lambaian tangan Sarah mendorong Aria untuk segera berlari menghampiri gadis itu supaya dia tidak basah kuyup.
"Langit memang sukar diprediksi," kata Aria sambil mengusap wajahnya sesampainya dia di gazebo tempat Sarah berada.
"Memang benar. Langit itu seperti laki-laki. Sukar diprediksi."
"Sepertinya kau baru putus dengan pacarmu?"
Sarah mengangguk lesu. "Kami bertengkar lalu putus begitu saja."
"Apa dia selingkuh?"
Sarah tampak terkejut hingga dia menoleh cepat ke arah Aria. "Tahu dari mana? Apa terbaca jelas diwajahku?"
"Terbaca jelas seperti baliho."
"Ish!" Sarah menyikut lengan Aria, "kau ini tidak ada prihatinnya sama sekali pada teman sendiri."
"Aku 'kan sudah memperingatkan—"
"Ssstt!" Sarah meletakkan telunjuknya di depan bibir sambil menunjukkan layar ponselnya. "Pacarku—eh, mantan! Mantanku telepon!"
Sarah belum sempat menggeser tombol hijau ketika panggilan dari sang mantan tiba-tiba mati, tetapi beberapa detik kemudian dering itu digantikan oleh nada pesan masuk.
"Dia mengajakku bertemu di kelas usai pelajaran, Aerin!" Sarah berkata demikian tanpa melepas pandangannya dari layar ponsel, sementara tangannya yang bertengger di bahu Sang Sahabat menepuk beberapa kali, terlihat jelas sangat antusias.
"Kalau kau mau bertemu dia ya silakan saja."
"Kau harus ikut! Ayo!"
"E-eh!"
Tubuh Aria tersentak mengikuti tarikan tangan Sarah yang tak terduga, membawanya ikut serta menerjang hujan yang mulai berubah menjadi gerimis.
...
Tatapan Helio masih terpaku pada punggung dua orang gadis yang baru saja pergi meninggalkan gazebo, masih menimbang-nimbang apakah dia harus mengikuti mereka berlari di bawah rintik air untuk mencari James yang katanya masih ada kelas. Setelah berpikir singkat, pria itu membebaskan kedua telinganya dari handsfree yang terpasang di sana kemudian menyimpannya di dalam tas sebelum memutuskan untuk pergi sendiri menemui James tanpa harus menunggu sahabatnya datang menjemput.
Menelusuri lorong seraya menyenandungkan lagu dalam suara lirih, Helio sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangunan bergaya eropa klasik dengan pilar-pilar raksasa serta ukiran-ukiran rumit di sekitar jendela berbentuk persegi panjang. Helio berhenti sejenak di depan pintu sebuah ruangan yang masih terlihat ada aktivitas. Tangannya terulur, membuka dengan hati-hati pintu ruangan tersebut hingga menimbulkan celah yang pas untuk melongok ke dalam.
James yang kebetulan sedang memandang ke arah pintu langsung mengangkat tangan kanannya sebagai sapaan kepada Helio. "Tunggu sebentar, ya," kata James, menyerahkan biola di tangannya kepada murid yang berdiri di sampingnya lalu melangkah ke arah pintu.
"Kau sampai lebih cepat dari perkiraanku."
"Ya, sengaja."
"Aku masih ada kelas. Baru selesai sekitar tiga puluh menit lagi."
"Santai saja. Aku juga mau berkeliling dulu."
"Take your time. Nanti kalau sudah selesai, kau aku telepon."
Helio menjawab sahabatnya dengan mengacungkan ibu jari ke udara. Sementara James kembali ke kelas dan menutup pintu, Helio meneruskan langkahnya menelusuri lorong. Kantuk menyerang Helio tanpa permisi saat dirinya sampai di ruangan paling ujung.
Pria itu menutupi mulutnya yang terbuka dengan satu tangan, hendak berbalik, tetapi niatnya ditahan oleh tulisan di atas pintu besar ruangan yang ada di depannya. Aula auditorium. Bibir Helio bergerak-gerak tanpa suara, membuka pintu yang untungnya tidak dikunci lalu masuk ke dalam.
Helio berjalan perlahan di depan panggung dengan kedua tangan tersembunyi di saku. Interior auditorium ini mirip dengan Sydney Opera House meski tidak sebesar dan semegah ikon kota Sidney itu. Panggung besar yang kini menjadi titik fokus Helio, dihiasi dengan warna merah yang ditempatkan di bagian depan dengan latar belakang pipa-pipa besi besar dan beratapkan lampu-lampu kaca besar. Ada banyak instrumen musik yang ditata rapi dalam bentuk setengah lingkaran sementara piano berwarna putih berada di tengah-tengah.
Helio lalu naik ke tangga beralaskan karpet merah yang di kanan kirinya terdapat kursi penonton berwarna serupa yang bisa ditekuk. Pria bermata hazel itu berhenti di barisan ketiga bangku terakhir. Mengambil posisi yang bisa menyamarkan keberadaannya menggunakan gelap, kemudian duduk sambil menyilangkan kedua tangan di depan tubuh. Kedua kakinya yang bersilang bertumpu pada kepala kursi di depannya selagi Helio mencari posisi ternyaman untuk mengistirahatkan diri selepas perjalanan panjang. Caping topi Helio sudah dia tarik ke bawah hingga wajah tampannya tertutupi dan dia bersiap untuk tidur.