Lapangan Utama SMA Altair.
Pagi hari. Kerumunan berkumpul untuk pengumuman ranking semester.
Suasana di lapangan utama terasa elektrik. Semua siswa tahu ini adalah momen krusial yang menentukan status quo King Ferretti.
Leonardo berdiri di samping Kepala Sekolah bersama Nathan, VANO, dan LUKAS. Leo terlihat acuh tak acuh, tangan diselipkan di saku celana. Namun, rahangnya sedikit mengeras ia merasakan energi ancaman dari kerumunan. Peringkat 1 adalah simbol kekuasaannya yang tak tertandingi.
KEPALA SEKOLAH: (Suara menggema) "Tahun ini, ada kejutan luar biasa yang mematahkan d******i! Peringkat 2 Angkatan jatuh kepada Leonardo Matteo Ferretti!"
Kerumunan riuh. Suara shock memenuhi lapangan. Wajah Leo seketika mengeras. Itu bukan hanya Peringkat 2, itu adalah kekalahan publik pertamanya di wilayahnya.
KEPALA SEKOLAH: "Dan Peringkat 1 Angkatan jatuh kepada siswi baru yang luar biasa, dengan nilai sempurna di semua mata pelajaran, dan total nilai nyaris absolut... Alessandra Luna Corvino!"
ALESSANDRA berjalan ke podium. Gerakannya lambat, elegan, tanpa kesombongan, tetapi penuh ketenangan mematikan. Ia sama sekali tidak memandang Kepala Sekolah. Matanya hanya terkunci pada Leo. Senyum smirk dingin di bibirnya seolah berkata: Aku sudah mengambilnya. Giliranmu bergerak. Leo merasa harga dirinya hancur. Ia tidak hanya dihancurkan di bisnis (server), tetapi juga di sekolah.
Di kerumunan, LUCIA tampak marah besar, tatapannya penuh kebencian. BIANCA dan CLARA bersorak pelan dan bangga. Bianca tahu, ini adalah awal dari kehancuran yang telah ia rencanakan.
Ruangan Kontrol SMA Altair yang berpendingin udara dingin.Pukul 08.55
LEONARDO memukul meja besi di Ruangan Kontrol. Pukulan itu keras, meninggalkan lekukan di logam. Amarahnya memuncak. Kekalahan Rangking 1 di pagi hari telah mempercepat keputusannya.
LEONARDO: (Suara yang serak, teredam) "Dia merebutnya. Dia merebut segalanya. Dia pikir dia bisa mempermainkan King Ferretti."
LUKAS: "Tenang, King. Dia memang pintar, tapi kita akan menghancurkannya sekarang. Dia tidak akan pernah bisa berjalan tegak lagi di sini."
NATHAN: "Sistem siap, Bos. Kita tunggu jam 09:00. Layar LED sudah disinkronkan ke server cadangan. Saya akan yang bicara untuk membangun tensi. Kau hanya perlu mengakhirinya dengan statement penutup."
LEONARDO: (Melihat monitor yang menampakkan keramaian di luar) "Aku tidak mau ada kesalahan. Hancurkan. Hancurkan sampai dia tidak punya apa-apa untuk disombongkan. Hancurkan sampai mata itu... berhenti menantangku."
VANO: (Melihat ekspresi Leo, ia berbicara pelan) "King, kau yakin ini bukan tentang Rangking atau Server lagi?"
LEONARDO: (Mengirim tatapan mematikan ke Vano) "Ini tentang kekuasaan, Vano. Dia adalah Corvino. Dia adalah ancaman."
Latar: Lapangan Utama. Pukul 08:59. Siswa mulai bubar setelah jam pelajaran berakhir.
Tiba-tiba, saat banyak siswa dan guru hendak bubar, NATHAN menyambar mic yang masih menyala di podium.
NATHAN: (Suara keras dan penuh otoritas) "Tunggu sebentar! Ada pengumuman tak terduga yang harus kalian saksikan!"
Siswa yang tadinya bubar kini kembali berkumpul riuh, suara riakan penasaran menggema. Suasana yang tadinya biasa mendadak dipenuhi antisipasi.
ALESSANDRA muncul dari lorong, ia tahu ini adalah panggungnya. LUCIA berdiri dekat dengan Geng Black Crow, matanya penuh harapan dan kebencian.
NATHAN: (Berbicara ke kerumunan dengan nada menghakimi, tangannya menunjuk ke layar besar) "Kami memiliki penyusup di sekolah ini! Siswi yang kalian banggakan karena Rangking 1-nya, Alessandra Luna Corvino, adalah pembohong dan penipu!"
AKSI: Nathan menekan tombol. Layar LED besar tiba-tiba menampilkan video yang dimanipulasi—video yang menunjukkan Alessandra seolah-olah sedang bernegosiasi dengan Andrew untuk mencuri soal ujian dari server sekolah, dan rekaman audio yang dipotong-potong dan disisipi kalimat ancaman kepada guru. Semuanya diolah agar citranya menjadi manipulator kejam. Di bawah video, muncul banner merah besar: PEWARIS MAFIA CORVINO: PENGHANCUR ALTAIR.
NATHAN: "Lihat! Dia menggunakan kecerdasannya untuk kecurangan! Dia adalah pewaris mafia Corvino yang misinya hanya sabotase dan mencuri data! Dia tidak layak mendapatkan Peringkat 1 itu!"
Kerumunan berbisik, lalu berteriak. Video itu sukses menciptakan gelombang kejutan dan pandangan negatif.
LEONARDO melangkah maju, kini ia yang memegang kendali penuh. Ia berdiri di depan mic, membiarkan keheningan yang menyesakkan terjadi sejenak. Ia melihat ke bawah pada Alessandra, yang jaraknya hanya beberapa meter.
LEONARDO: (Suaranya dingin, bergetar di tepi amarah) "Kau datang ke sini, kau mengganggu sistem kami, kau meremehkan kekuasaanku. Kau pikir kau bisa bermain Ratu di wilayahku?"
LEONARDO: (Berbicara dengan nada paling menghina) "Kau hanya sampah yang dikirim Klan Corvino. Kau tidak ada apa-apanya! Pewaris yang menyedihkan, Luna."
ALESSANDRA berdiri di tengah lapangan, di bawah sorotan layar yang menuduhnya. Ekspresi ratusan mata mengarah padanya, tetapi ia tidak bergerak. Wajahnya datar. Matanya hanya terpaku pada Leo. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa malu, dan yang paling membuat Leo frustrasi—tidak ada reaksi emosional.
Leo menunggu kehancurannya. Kejatuhan moralnya. Tetapi Alessandra hanya tersenyum smirk kecil. Senyum itu lebih mematikan daripada ledakan emosi.
ALESSANDRA: (Suaranya rendah, menusuk melalui mic yang masih menyala, menentang otoritas Leo) "Kau pikir dengan menghancurkan reputasi palsu, kau bisa menghancurkan misiku, Ferretti?"
Ia melangkah maju, memangkas jarak. Matanya hazelnya menembus Leo, mengikatnya dalam tatapan.
ALESSANDRA: "Kau tidak menghancurkan apa-apa. Kau hanya membuktikan satu hal: betapa pengecutnya kau berpikir kau bisa membenciku."
LEONARDO: "Apa?!"
ALESSANDRA: (Suaranya semakin pelan, hanya untuk Leo) "Kau melakukan semua ini bukan karena aku Corvino. Bukan karena Rangking atau Server. Tapi karena kau takut pada perasaanmu sendiri. Kau takut pada tatapan mataku. Kau takut dengan apa yang kau rasakan di Ruang Arsip itu."
Leo gagal. Kata-kata itu adalah serangan paling pribadi yang pernah ia terima. Amarah yang ia bangun runtuh dalam sedetik, digantikan oleh rasa malu dan pengakuan yang menyakitkan. Ia meraih pergelangan tangan Alessandra. Cengkeramannya kuat, mencerminkan gejolak di hatinya.
LEONARDO: (Geram, suaranya parau, hampir berbisik) "Jaga mulutmu! Aku tidak takut padamu! Aku tidak merasakan apa-apa!"
ALESSANDRA: (Menarik tangannya dengan paksa, ia mendekat sekali lagi) "Jika kau tidak takut, kenapa kau tidak berani menatap mataku sekarang, Leonardo?"
Leo tidak bisa. Ia memalingkan wajahnya, rahangnya gemetar. Ia hanya melihat kegagalan, kemarahan, dan hasrat yang dilarang.
Alessandra membalikkan badan, berjalan pergi melewati kerumunan yang kebingungan dan berbisik. Clara berlari, menangis, memeluknya dengan erat.
CLARA: "Luna! Kau gila! Kenapa kau tidak marah saja! Mereka monster!"
ALESSANDRA: (Membiarkan Clara memeluknya, tatapannya masih ke belakang, ke arah Leo) "Emosi adalah kelemahan, Clara."
LEONARDO ditinggalkan di podium, sendirian, meskipun Nathan, Lukas, dan Vano ada di sana. Ia merasa kosong dan hancur.
LUKAS: (Gugup) "King, kita menang! Reputasinya hancur!"
LEONARDO: (Melirik Lukas dengan dingin, lalu menatap Vano) "Diam. Aku tidak merasa menang. Dia... dia tahu segalanya tentangku."
MONOLOG BATIN LEO: Dia benar. Aku takut. Aku takut pada keindahan dingin itu, yang mengancam untuk mencairkan semua yang aku bangun. Aku telah melancarkan perang publik, dan yang aku rasakan hanya penyesalan. Aku harus membalas, tapi kali ini... aku harus melawannya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi perang klan. Ini adalah perang batin yang telah ia deklarasikan.
....
Penthouse Mewah Alessandra.
Sore hari. Beberapa jam setelah insiden di Lapangan Utama.
Clara dan Bianca berada di penthouse Alessandra. Kehadiran mereka di sana bukan tanpa alasan. Setelah serangan Leo di lapangan, Alessandra meminta Clara untuk datang, ingin memastikan sepupunya itu aman dan tidak terlalu terpukul. Sementara itu, Bianca datang menemani Clara, setelah Mega dan Mutia (teman lamanya) yang ketakutan oleh intrik Lucia, memutuskan pindah sekolah ke luar negeri. Bianca kini sendirian, dan sering mengobrol dengan Clara semenjak insiden di kantin, menemukan koneksi kuat dalam kebencian yang sama terhadap Lucia.
CLARA: (Suara tercekat) "Luna, kau harus bertindak jangan biarkan saja. Mereka keterlaluan! Leo itu monster, bagaimana bisa dia melakukan itu?"
BIANCA: "Dia melakukannya karena dia ketakutan, Clara. Kekalahan ranking dan serangan server membuatnya panik. Tapi serangan itu tidak berhasil menghancurkan Luna."
ALESSANDRA (Luna) diam. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat wajah Leo yang dipenuhi amarah bercampur kebingungan saat ia menantangnya.
MONOLOG BATIN ALESSANDRA: Aku tidak menduga reaksi itu. Dia tidak hanya marah; dia terluka. Dia begitu mudah dipancing. Dia bilang aku terobsesi? Sebenarnya dia yang terobsesi pada citra kekuasaannya. Tapi sentuhannya... cengkeraman di lenganku... itu bukan kemarahan mafia. Itu sesuatu yang lain.
Ia menghela napas, mengabaikan perasaan aneh itu. Ia membuka comm-linknya.
ALESSANDRA: (Menatap Bianca) "Kau yakin Mega dan Mutia pergi?"
BIANCA: (Mengangguk, wajahnya tampak lelah) "Mereka takut pada Lucia. Mereka tidak sekuat aku. Mereka melihatnya sebagai permainan, tapi aku melihatnya sebagai perang pribadi."
ALESSANDRA: (Hanya tersenyum tipis. Bianca memiliki ketahanan yang ia butuhkan.) "Baik. Clara, kau aman di sini. Bianca, kau juga aman. Hari ini, King Ferretti sudah menunjukkan apa yang ia mampu. Kita harus bersiap."
Tiba-tiba, suasana tegang. Alessandra mengaktifkan comm-linknya, tidak peduli Clara dan Bianca mendengarkan.
ALESSANDRA: (Mengabaikan tatapan bingung Clara dan Bianca, suaranya berubah tegas dan berwibawa) "Rafael, laporkan. Ada pergerakan dari pihak Silvio Corvino setelah pertemuan semalam?"
RAFEL (Melalui comm-link): "Queen, konfirmasi: Silvio sangat marah setelah pertemuan. Dia melihat Anda sebagai ancaman sekaligus kesempatan. Lucia telah diberi lampu hijau untuk memberikan Anda informasi bisnis penting—itu umpan. Tapi yang lebih penting: Silvio merencanakan serangan kecil terhadap aset Black Crow di pelabuhan malam ini untuk menguji keandalan Anda. Saya mengirimkan footage pengawasan pelabuhan sekarang."
AKSI: Layar raksasa di ruang tengah penthouse Alessandra, yang biasanya menampilkan pemandangan kota, tiba-tiba menampilkan tayangan video real-time dari drone yang merekam aksi p*********n cepat (mobil yang dibakar, pria-pria bersenjata di pelabuhan).
Clara dan Bianca terkejut luar biasa. Mereka mundur beberapa langkah, mata mereka membulat melihat tayangan yang sangat mafia itu.
CLARA: (Berbisik, suaranya gemetar) "Luna... itu... itu apa? Kenapa kau punya rekaman itu? Rafael? Queen?"
BIANCA (Batin): Ini bukan lagi sekadar gadis pintar. Ini tidak masuk akal. Dia tahu segalanya tentang Black Crow, dan dia memantau pergerakan mafia secara real-time.
ALESSANDRA (Luna) mematikan comm-link. Ia menoleh ke Clara dan Bianca, wajahnya tenang. Ia memutuskan untuk memberikan mereka sedikit kebenaran, untuk menjamin loyalitas mereka dan melindungi dirinya.
ALESSANDRA: (Nadanya tegas, dingin, penuh peringatan) "Aku tahu kalian terkejut. Dengar baik-baik. Aku bukan hanya siswi di SMA Altair. Aku punya koneksi, dan aku menjalankan misi yang jauh lebih besar dari sekadar Rangking 1."
ALESSANDRA: "Aku butuh loyalitas penuh kalian. Aku butuh Clara tetap aman, dan aku butuh informasi Bianca. Jangan pernah bertanya. Jangan pernah bicara pada siapa pun. Kalian hanya tahu bahwa aku adalah seseorang yang bisa melindungi kalian dari Leo, dan aku tahu setiap langkah Black Crow."
Clara dan Bianca saling pandang. Mereka belum tahu Alessandra adalah Queen Mafia, tetapi mereka curiga berat bahwa ia adalah bagian dari dunia misterius dan berbahaya yang tidak mungkin diakses siswa SMA biasa. Mereka mengangguk, terikat dalam ketakutan dan janji.
ALESSANDRA (Batin): Loyalitas yang terpaksa lebih kuat daripada loyalitas yang naif. Sekarang mereka tahu batasannya.