Perkara Wine
“Permisi, Tuan. Wine Anda sudah datang,” ujar Vailea, seorang pelayan Hoshizora Restaurant.
Sekumpulan pria yang semula asyik berbincang itu kompak terdiam. Mata mereka menyorot pada seorang pelayan yang membawa dua gelas kosong dan sebotol wine premium di nampan. Kedatangannya diikuti dengan seorang pelayan lain yang membawakan empat gelas wine beserta botolnya.
Hendrick mempersilakan dengan ramah, “Taruh di meja dan bukakan tutupnya. Biar kami menuangkannya sendiri.”
“Baik Tuan,” patuh Vailea seraya melakukan apa yang diperintahkan.
Akan tetapi baru saja Vailea selesai membuka tutup botol wine premium tersebut, Hendrick mengernyitkan dahi. Lelaki itu langsung menoleh ke kanan. Memandang sang tuan untuk memastikan kebenaran dugaannya.
Merasakan hal yang sama, lelaki di samping Hendrick langsung beraksi. Tangannya mencekal pergelangan tangan Vailea. Membuat gadis itu terkejut dan segera bertanya, “Apa yang Tuan lakukan?”
Lelaki itu tidak menjawab. Malah, dia menarik Vailea dengan kencang. Sampai-sampai, gadis itu terjungkal dan hampir memecahkan gelas di meja.
“Tuan! Menurut peraturan, Anda tidak boleh bersikap sewenang-wenang terhadap pegawai!”
Pelayan di belakang Vailea berusaha melindungi rekan kerjanya. Dia juga langsung menarik tangan kanan Vailea, berusaha melepaskannya dari cengkeraman lelaki kurang ajar tersebut.
“Diam!” sentak Hendrick garang.
Rekan Vailea terkejut. Bahkan tanpa sadar, dia refleks melepaskan tangan Vailea. Kesempatan ini pun digunakan sang lelaki untuk bangkit dan mengurung Vailea dalam pelukannya.
Vailea kontan meronta, “Lepaskan!”
“Diamlah dulu, pelayan rendahan!” sentak Hendrick lagi.
“Aku tidak rendahan! Tuanmu ini yang rendahan!” sangkal Vailea sambil menunjuk pada lelaki yang memeluknya paksa.
Mendapat penghinaan seperti itu, si lelaki langsung naik pitam. Segera saja dia mendorong Vailea hingga terjerembab ke lantai. Juga, membuat gadis itu meringis kesakitan.
Pria berambut pirang tersebut melangkah mendekati Vailea. Lalu dia membungkuk untuk menyambar kerah kemeja yang dikenakan oleh pelayan malang tersebut.
“Auw!” desis Vailea saat dahinya tak sengaja berbenturan dengan dahi si lelaki.
“Lepaskan teman saya, Tuan! Kalau tidak, saya akan melaporkan Anda pada Mrs. Izora supaya Anda masuk daftar hitam restoran dan perusahaan kami!” ancam rekan Vailea.
“Sudah kubilang diam dulu, sialan!” amuk Hendrick.
Rekan Vailea sama sekali tidak takut akan ancaman itu. Malah, dia seperti menantang Hendrick untuk bertarung. Bahkan sekarang, dia sedang menyingsingkan lengan kemejanya.
“Berani sekali!” kesal Hendrick seraya melonggarkan dasi. Berniat bertarung habis-habisan dengan gadis menyebalkan tersebut.
Selagi Hendrick dan pelayan itu bertengkar sendiri, Vailea serasa hampir kehilangan napasnya saat menatap mata lelaki berambut pirang. Dia terlihat begitu menakutkan dengan sorot mata setajam elang miliknya.
Tak lama kemudian, lelaki itu bertanya, “Siapa yang membayarmu?”
“Hah?”
Otak Vailea loading seketika. Gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan maksud pertanyaan si lelaki. Sebab dia bekerja di restoran, pastilah departemen keuangan Hoshizora Restaurant yang membayarnya.
Melihat gadis di hadapannya kebingungan, lelaki berambut pirang mengembuskan napas kesal. Lelaki itu lantas berkata, “Ikut denganku.”
Meski kalimat tersebut terdengar seperti ajakan, dia sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Vailea untuk lolos. Bahkan dengan kasarnya, dia menarik Vaiela untuk bangkit dan membawanya pergi keluar ruangan.
“Tuan! Lepaskan! Saya mau dibawa kemana?”
Vailea mencoba melakukan yang terbaik untuk melepaskan diri. Akan tetapi seberapapun keras dia mencoba, dia tetap tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman lelaki itu.
Meski sempat menjadi pusat perhatian, tidak ada yang berusaha menghentikan sikap arogan lelaki itu pada Vailea. Semuanya seolah takut atau berpura-pura tidak peduli dengan apa yang tengah menimpa Vailea.
“Kenapa semuanya diam? Tidak adalah yang mau membantuku?” tangisnya di dalam hati.
Sementara itu, lelaki berambut pirang bersikap biasa saja. Hingga akhirnya, mereka sampai di parkiran. Keduanya berhenti di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam legam.
Menyadari kemungkinan dia akan dipaksa masuk dan dibawa ke suatu tempat, Vailea kembali meronta, “Lepaskan!”
“Diamlah, sialan! Atau kau mau aku melemparkan temanmu dari jembatan?” kesal lelaki berambut pirang sambil mendorong bahu Vailea dengan kencang hingga punggungnya membentur mobil. Supaya Vailea tidak lari, lelaki itu juga mengunci pergerakan tangannya. Sehingga bila ada orang yang tak sengaja lewat, mereka akan berpikiran kalau Vailea dan lelaki itu adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Mendengar ancaman tersebut, jantung Vailea seakan berhenti berdetak. Dia baru saja sadar kalau rekannya masih ada di ruangan itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Temanmu akan baik-baik saja kalau kau tidak membuat ulah. Lagipula … kita hanya akan berbincang santai. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” ujar lelaki itu.
Dengan perlahan, lelaki itu memundurkan tubuhnya. Lalu, dia membuka pintu mobil. Tidak lupa untuk menyuruh Vailea masuk.
Mendengar perintah itu, Vailea terkesiap. Segera gadis itu menolak, “Tidak mau!”
“Cepat masuk selagi aku masih ramah!” kesal lelaki itu dengan tanduk yang mulai muncul.
“Bohong! Kalaupun aku menuruti keinginanmu, kau akan tetap menyakiti temanku!” sangkal Vailea sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah mengatakan itu, Vailea berusaha melarikan diri dengan cara mengambil langkah seribu. Akan tetapi langkahnya harus terhenti saat tangannya ditarik ke belakang. Tak ayal, kepalanya kembali membentur d**a keras lelaki menyebalkan tersebut.
Lelaki berambut pirang kemudian memutar tubuhnya. Membuat Vailea ikut berputar, berakhir menghadap pintu mobil dengan kepala pening.
“Kau punya seribu satu cara untuk mewujudkan keinginanku, karena aku adalah Sen Corazon! Ingat itu baik-baik!” bisik lelaki berambut pirang itu, tepat di telinga Vailea.
Tanpa menaruh belas kasih sedikit pun, Sen mendorong pelayan itu. Memasukkannya ke mobil tanpa ada kesulitan berarti. Lalu, mengunci pintunya tanpa membuka jendela.
Meski sedikit pusing, Vailea memprotes, “Apa Anda mau kita kehabisan napas karena kekurangan oksigen. Tuan? Anda gila.”
“Aku tidak gila, sialan! Yang gila adalah orang yang menaruh obat di wine pesananku!” geram Sen sambil menyambar kemeja Vailea.
Pandangan mata keduanya kembali beradu. Dimana tatapan Sen terlihat seperti seekor macan yang melihat mangsanya, sedangkan Vailea memandangnya penuh keheranan. Sebab sejauh yang dia tahu, tidak ada satu pun pegawai di Hoshizora Restaurant yang mau dibayar untuk melakukan pekerjaan semacam itu.
“Apa? Kau tidak percaya dengan ucapanku? Kalau begitu, cicipi wine yang tadi kau antarkan!”
Sen menyodorkan sebotol wine. Pandangan Vailea pun tertuju ke sana. Alangkah terkejutnya dia saat menyadari Sen membawa serta wine yang tadi dia sajikan.
Melihat keterkejutan di wajah Vailea, Sen mendengus keras. Sesudahnya dia berkata, “Kalau memang bukan kau yang mencampurkan obat itu ke dalamnya, kau tidak akan keberatan untuk mencicipinya, ‘kan?”