Bab 20, Jalan berliku 3

1879 Kata
Mata Marshal awas memandangi Lea. Mulai dari saat bangun tidur hingga mereka sarapan bersama. Tidak ada pembicaraan diantara mereka tapi Marshal beberapa kali melirik pada Lea dan wanita itu menyadarinya. Marshal bisa melihat kalau penampilan Lea berbeda dari biasanya. Lea tampak sudah siap untuk pergi. Setelah menunggu lama dan Lea tidak kunjung buka suara maka Marshalpun bertanya," kamu mau pergi kemana?" Lea melirik sebentar dan kembali melanjutkan makan mie gorengnya. Sarapan terenak baginya saat butuh mood booster. " kerja." jawabnya singkat disela kunyahannya. Marshal tidak tahu kalau Lea sedang butuh pekerjaan," dimana? kerja apa?" Lea menatap Marshal datar. Tumben Marshal ingin tahu tentang dirinya. Basa - basi sajakah? " Di kantor Antonio, jadi sekretarisnya." " Apa?! bisa - bisanya kamu berniat untuk kerja disana tanpa seizin dariku." ucap Marshal setengah membentak. " Kalau butuh uang bilang sama aku, aku bisa ngasih lebih dari yang kamu minta." Tekannya ,"Lagian siapa suruh kamu pakai nolak segala saat aku kasih uang?. Kamu bisa nolak uang dari aku tapi minta kerjaan sama Antonio, maksudmu apa sebenarnya, ha?!" Lea tersentak kaget. Kemarahan Marshal tidak pernah ada dalam bayangannya. " Aku hanya ingin kerja, kenapa kamu jadi marah?" " Kamu masih nanya? Cck...harusnya kamu mikir sendiri kenapa aku marah." Marshal berdecak. Lea menatap Marshal tajam, pun begitu juga sebaliknya. d**a Lea naik turun menahan amarah yang coba ditahannya. Dasar b******k! pria itu sudah membuat paginya menjadi buruk. Alih - alih melampiaskan amarahnya, Lea memilih menahannya. Kilatan amarah dimata Lea ditangkap dengan jelas oleh Marshal. Marshal sudah siap untuk menerimanya tapi Lea tidak kunjung memakinya. Lea hanya menatapnya sejenak dan bangkit meninggalkan Marshal. " Mau kemana? kita belum selesai bicara." kejar Marshal. " Kita lanjutkan nanti saja, sekarang aku mau pergi dulu." suara Lea masih terdengar pelan. " Bicaranya sekarang saja." tahan Marshal tegas. " Serius kamu mau bicara sekarang? kamu mau kita terlambat ke kantor? ini hari pertamaku masuk kerja." jawab Lea terdengar memelas. " Oke, kita bicara nanti tapi ingat kalau hari ini belum aku kasih izin." ancam Marshal. Lea melotot, seperti akan menjawab tapi tidak jadi dilakukakannya. Lebih baik ia segera berangkat sekarang. Antonio sudah memberikan alamat kantornya berikut dengan cara sampai kesana. Lea sudah menghapal rute bus yang harus ia tumpangi agar tidak kesasar. Marshal memandangi langkah tergesa Lea yang sedang berjalan didepannya. Wanita itu menolak tumpangan darinya disaat dia bahkan belum hapal rute yang akan ditujunya. Dasar keras kepala! Marshal sedang mengkhawatirkan Lea tapi sepertinya Lea tidak peduli. Baru setelah Lea tiba di halte dan tak lama kemudian menaiki bus, barulah Marshal berangkat menuju kantor. Jika Lea tidak mau menerima perhatian darinya maka Marshal tidak akan melakukannya lagi. Marshal akan menghapus kekhawatirannya sendiri. Bayangan Lea dengan sendirinya tergantikan oleh Naomi. Sedang apa dia sekarang? Sepertinya dia masih tidur. Naomi punya kebiasaan bangun siang. Naomi selalu mengatakan kalau kebiasaan tidur lama itu yang membuat kulitnya jadi sehat. Entah benar atau tidak tapi yang pasti Naomi memang terlihat cantik alami. Kulitnya mulus dan bersih. Saat membayangkan Naomi tiba - tiba lamunan Marshal terusik oleh bayangan wajah Lea. Bukan wajah sendunya yang Marshal lihat tapi wajah Lea saat mengalami pelepasan malam itu. Wajah Lea yang begitu terpuaskan oleh dirinya. Ada perasaan puas dan bangga yang menyusup tiba - tiba. Ada aliran yang terasa dari kaki hingga ke pangkal pahanya. Mengumpul disana. Membuat organ pribadinya bereaksi seketika. Marshal meringis jadinya. Tubuhnya sedang butuh perhatian rupanya. Kenapa tidak minta saat malam hari atau tadi pagi saja? Tadi malam, Marshal seakan kehilangan kata - kata saat berhadapan dengan Lea. Marshal merasa kemampuan berkomunikasinya mendadak hilang. Marshal tiba - tiba gugup melihat tatapan tajam dan dingin dari Lea. Hanya sekilas, sesudahnya Lea menatapnya biasa saja seolah tidak ada masalah diantara mereka. Lea memang tidak banyak bicara tapi dia masih mau tersenyum saat berpapasan dengan Marshal. Bahkan sebelum tidur, Lea masih sempat meminta izin padanya untuk menyalakan televisi. Lea tertidur sebelum acara yang ditontonnya berakhir. Marshal yang memindahkan Lea ke atas tempat tidur dan mematikan televisi sebelum kemudian menyusul Lea ke alam mimpi. Harusnya Marshal bisa membuka pembicaraan diantara mereka. Tapi Marshal tidak melakukannya. Harusnya Lea bertanya atau memarahinya, tapi Lea tidak melakukannya.... Mereka saling menahan diri... atau justru sedang membiarkan apa yang terjadi, entahlah.... " Pak, ada tamu didalam sedang menunggu, bapak." " Siapa? " tanya Marshal sambil membuka pintu. Tidak biasanya ada tamu yang datang dipagi hari. Lebih tepatnya Marshal yang menolak menerimanya. Marshal selalu menjadwalkan pertemuan saat jam makan siang atau sore hari. Pagi hari ia gunakan untuk mengurus pekerjaan dikantor. " Mbak Naomi dan satu lagi..."suara sekretaris Marshal teredam oleh pintu yang terlanjur ditutup Marshal. " Kejutan..." sambut Naomi sambil berdiri dari duduknya. Tanpa sungkan Naomi berjalan kearah Marshal dan memeluknya. Kening Naomi berkerut menyadari sesuatu. " Kamu..." Marshal menghindari tatapan Naomi yang menyiratkan kalau dia tahu ada sesuatu yang sedang terjadi pada tubuh Marshal. Jangan salahkan Naomi yang bertambah yakin dengan asumsinya selama ini. Kalau Marshal sampai menahan diri seperti ini berarti memang belum pernah terjadi sesuatu diantara Marshal dan Lea. Marshal sudah akan melangkah menuju meja kerjanya saat tangannya ditahan oleh Naomi. Naomi menariknya menuju sofa panjang yang tadi didudukinya sebelum kedatangan Marshal. " Pasti sulitkan untuk menahan diri." bisik Naomi sensual," Aku bisa membantu membuatmu merasa nyaman." Tubuh Marshal sudah terdorong ke sofa dan Naomi menunduk kearah pangkuan Marshal. " Kamu..." bisik Marshal parau. Kesadarannya menipis setelah bagian pribadinya berada didalam genggaman Naomi. " Apa yang kamu lakukan?" tanya Marshal serak. Naomi tersenyum," Membuatmu senang dan puas." jawabnya sambil jari - jemarinya terus bekerja dari balik celana Marshal. Naomi tampak lihai dan terlatih melakukannya. Satu erangan Marshal lolos saat jari tangan Naomi menyentuh langsung kulit penisnya setelah membuka kancing celana dan menurunkan risletingnya. " What the f**k?! " Antonio melemparkan ipad yang sedang dipegangnya dan hampir saja mengenai kepala Naomi kalau tidak cepat ditarik oleh Marshal. " Kalian berdua... benar - benar b******n!" makinya menerjang Marshal. Marshal yang terkejut tidak sempat mengelak lagi. Satu tendangan mendarat sempurna diperutnya. " Antonio, stop!" teriak Naomi shock. Belum hilang kaget karena kepergok ditambah kaget melihat tubuh Marshal meringkuk menahan sakit. Seperti kesetanan, Antonio kembali menendang Marshal, kali ini sasarannya adalah lutut Marshal. Sebenarnya Antonio ingin sekali menendang area s**********n Marshal tapi untunglah akal sehatnya masih melarang. Pada tendangan ketiga yang mendarat diperutnya, Marshal terbatuk dan memuntahkan darah. Marshal sendiri tidak berusaha untuk mengelak apalagi membalas padahal dikondisi normal pasti sangat mudah baginya untuk membuat Antonio tertekuk. Teriakan histeris Naomi membuat beberapa orang masuk, tak terkecuali Bryan adams. Tidak butuh analisa panjang baginya untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Matanya menatap tajam pada Marshal dan Naomi. " Hentikan Antonio, jangan kotori lagi tanganmu. Biarkan b******n ini menanggung sendiri dosanya." ucapnya tajam menghentikan niat Antonio yang ingin memberikan bogem mentah karena belum puas dengan tendangannya. Antonio menatap hormat pada Om Bryan yang selalu diseganinya. " Bawa dia kerumah sakit," suruh Bryan pada bawahannya yang ikut masuk bersamanya saat mendengar keributan dari ruangan Marshal," jangan lupa celananya diberesin dulu." sindirnya. Naomi menunduk menghindari tatapan menghakimi dari Om nya. Sang bawahan hanya mengangguk patuh sembari mendekati tubuh tak berdaya Marshal. " Om..." Naomi terlihat ketakutan pada Bryan. " Kamu... pulanglah." ujarnya sambil membuang muka. Kentara sekali kalau Bryan sedang menahan emosi didadanya. Tidak tahu siapa yang memulai namun perbuatan mereka tetap tidak bisa diterima oleh siapapun. Mereka sudah melakukan perbuatan tercela yang sangat melukai perasaannya. Bryan tidak tahu apa dirinya masih bisa melihat Naomi seperti dulu lagi atau tidak. Rasanya tidak akan pernah bisa sama lagi. Marshal dan Naomi telah melukai hatinya untuk pertama kalinya dan sayatannya begitu dalam. # Lea menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa - gesa. Perasaannya sedang gelisah memikirkan keadaan Marshal yang kata ibu mertuanya sedang dirawat disana. Ibu mertuanya tidak menjelaskan apa yang terjadi sampai Marshal masuk rumah sakit. Lea hanya diberitahu kalau Marshal mengalami kecelakan ringan. Dari jauh Lea melihat keberadaan Brigitta yang sedang berdiri didepan pintu ruangan yang diduga sebagai kamar rawat inap Marshal. " Kak.." panggil Brigitta melihat kedatangan Lea. Lea tersenyum," kamu disini?" Brigitta mengangguk. " Bagaimana keadaannya?" " Mari masuk, kakak bisa lihat sendiri nanti." ajak Brigitta sambil mengamit tangan Lea. Lea menatap tubuh Marshal yang terbaring diatas tempat tidur. Tidak ada tanda - tanda luka bekas kecelakaan disana. Mendengar ada yang datang, Marshal melirik ke pintu masuk. Pandangannya beradu dengan Lea. Seketika Marshal mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani menatap wajah isterinya. Hati Lea mencelos melihat Marshal membuang muka darinya. Apa Marshal tidak suka dengan kehadirannya? " Karena kak Lea sudah datang, aku pulang dulu ya. Besok pagi - pagi aku harus keluar kota." kata Brigitta pamitan. Lea hanya mengangguk. " Mama juga baru pulang, mungkin nanti malam dia datang lagi." ujar Brigitta sebelum benar - benar menghilang dibalik pintu. Sepeninggal Brigitta, Lea duduk disamping tempat tidur. Melihat Marshal memejamkan matanya membuat Lea menahan diri untuk bertanya tentang kronologi kejadian yang menimpanya. Kebisuan diantara mereka begitu menyiksa Marshal. Entah Lea sudah tahu atau belum dengan apa yang terjadi. Betapa brengseknya dirinya yang melakukan hubungan terlarang dengan wanita yang bukan isterinya. Marshal bahkan tidak bisa menyalahkan setan yang terkutuk atas apa yang menimpanya. Dirinya lah yang b******n seperti kata papanya dan Antonio. Hanya seorang b******n yang sanggup melakukan perbuatan terkutuk tersebut. Belum ada sejarah dalam keluarga besarnya yang melakukan perselingkuhan seperti dirinya. Marshal membuka matanya begitu nama Antonio muncul dibenaknya. Apa yang akan dilakukan oleh Antonio pada Lea setelah ini? Mungkinkah dia akan mempengaruhi Lea untuk meninggalkannya? Marshal memberanikan diri melirik Lea. Mata mereka kembali bertemu. Lea tersenyum ragu padanya. Kerongkongan Marshal tercekat melihatnya. " Kamu haus?" tanya Lea. Marshal menggeleng perlahan tanpa mengalihkan netranya dari Lea. " Mau aku panggilkan dokter ?" Marshal kembali menggeleng. Lukanya tidak seberapa. Pukulan dari Antonio juga tidak meninggalkan bekas yang berarti. Lemas yang ia rasakan justru karena semangat dirinya yang menguap begitu saja begitu menyadari kesalahan fatal yang baru ia lakukan. Sebenarnya Marshal tidak butuh rawat inap tapi ia meminta agar tidak perlu bertemu denga Lea untuk sementara waktu. Marshal tidak punya nyali bertemu dengan Lea tapi siapa sangka kalau mamanya malah meminta Lea untuk datang ke rumah sakit. Marshal yakin papanya sudah memberitahu apa yang terjadi pada mamanya. Untuk apa lagi mamanya menyuruh Lea datang kecuali untuk menyiksanya dengan perasaan bersalah. Mamanya pasti sengaja menghukumnya dengan cara seperti ini. Marshal masih menatap Lea dengan lekat. Hatinya bagai diremas memikirkan saat Lea tahu nanti. Apa yang akan Lea lakukan sebagai balasan atas perbuatannya? mungkinkah Lea akan memandangnya hina? Ataukah Lea akan segera meminta berpisah darinya? Marshal berusaha mengusir kemungkinan - kemungkinan yang mengganggu fikirannya. Marshal mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Lea dan menggenggamnya. Lea menatapnya penuh tanya. " Boleh aku memegang tanganmu?" tanyanya gugup. Lea mengangguk. Mengulas senyuman. Ternyata Marshal jadi aneh begini saat sakit. " Apa yang sakit? mau aku pijit?" " Nggak perlu. Cukup pegang tanganku saja." Meski bingung dengan ucapan Marshal, Lea tetap melakukan apa yang Marshal pinta. " Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lea tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Raut muka Marshal langsung berubah mendengar pertanyaan Lea. Jadi gugup dan bingung. Lea tersenyum miris," Kalau kamu nggak mau jawab tidak apa - apa." Lea tahu dirinya tidak sepenting itu bagi Marshal. Hubungan mereka memang tidak sedekat yang terlihat. Marshal tahu Lea pasti akan berprasangka yang lain jadinya. Untuk sementara lebih baik begitu daripada ia melihat tatapan khawatir Lea berubah menjadi tatapan jijik dan benci. bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN