Pagi hari saat terbangun, Lea disambut dengan harumnya aroma kopi dan roti bakar dari dapur. Marshal sudah bangun lebih dulu dan sepertinya dia sedang sarapan. Lea yang merasa lapar terpaksa menyusul ke dapur juga. Niatnya untuk menghindari Marshal ditunda dulu sampai perutnya kenyang.
Tiba didapur, Marshal menyodorkan sepiring roti dan secangkir kopi pada Lea yang tentu saja membuat kening Lea jadi berkerut bingung.
" Untuk kamu."
Lea mengangguk dan mengucapkan terima kasih, pelan. Lalu meraih sepotong roti untuk ia makan. Kenapa roti bakarnya jadi enak begini? Padahal jelas terlihat seperti roti bakar biasa saja. Apa efek lapar membuat kadar enaknya jadi berlipat?
" Enak." gumam Lea tanpa sadar membuat Marshal tersenyum senang.
Racikan kopi dari Marshal juga sesuai dengan selera Lea. Sarapan pagi memang bisa membuat diri merasa lebih siap menyongsong hari. Menghadapi aktivitas harian.
Harusnya sih, tapi... Lea tidak punya kegiatan yang berarti lagi sejak pindah jadi tidak butuh energi yang ekstra juga.
" Apa rencanamu hari ini?"
Marshal mungkin hanya berbasa basi padanya tapi Lea sempat tertegun mendengarnya. Obrolan pagi yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
" Mungkin beberes rumah, apa ada barang yang butuh penanganan khusus di rumah ini?"
Pertanyaan sederhana yang dilontarkan oleh Lea tapi tidak bisa dijawab dengan cepat oleh Marshal. Maksud pertanyaan Lea saja sudah sulit untuk difahami apalagi jawabannya.
" Barang pribadi yang mungkin tidak boleh disentuh oleh orang lain."
Marshal tersenyum," semua barangku memang tidak boleh dipegang sembarangan oleh orang lain."
" Trus bagaimana caranya aku membersihkan rumah ini kalau tidak boleh menyentuh apapun?" tanya Lea sedikit kesal. Sudah bagus dirinya mau melakukannya kenapa Marshal jadi melarangnya secara tersirat begitu. Lea bukan anak kecil yang akan merusak barang - barang di rumah Marshal ini. Lea juga tahu kalau koleksi action figure dan sepatu Marshal harganya mahal.
" Siapa bilang kamu nggak boleh menyentuhnya? "
" Kamukan barusan."
" Kamu bukan orang lain di rumah ini."
Di rumah ini. Lea tidak tahu harus merasa senang atau tidak dengan kenyataan tersebut. Lea hanya bisa tersenyum canggung saja.
" Baiklah aku akan membersihkan rumah ini sebagai balasan karena sudah diberi tumpangan tempat tinggal dan sarapan gratis." ucap Lea sambil berlalu.
Marshal menahan dongkol didadanya. Ucapan Lea mengusik perasaannya. Wanita itu sepertinya sedang mencari gara - gara dengannya. Mungkinkah Lea sedang menunjukkan kemarahannya pada Marshal karena kejadian tadi malam. Kalau Marshal tidak menyesali apa yang telah terjadi bahkan mungkin sedikit menyukurinya, apakah Lea sebaliknya? Marshal merasa terganggu dengan kemungkinan itu.
Marshal tidak bisa berlama - lama dengan perasaan tidak enaknya, pekerjaan sudah menunggunya. Jadilah Marshal terpaksa berangkat ke kantor dengan terburu - buru.
Sepeninggal Marshal, Lea mulai membersihkan rumah yang sejak mereka tempati belum pernah dibersihakan secara menyeluruh. Punya kesibukan membuatnya bisa melupakan perasaan jengkelnya pada Marshal. Meski melelahkan tapi membuatnya merasa puas melihat satu persatu ruangan berubah menjadi kinclong dan wangi. Lea sengaja memasang beberapa pewangi ruangan dibeberapa sudut. Tidak dinyalakan sepanjang hari hanya untuk beberapa jam saja. Selebihnya Lea hanya memasang wewangian di kamar dan ruang tv saja. Sisanya hanya akan ia nyalakan dikondisi tertentu saja.
Menjelang sore semua ruangan sudah selesai ia bersihkan. Leapun segera mandi karena ia akan bertemu dengam Antonio untuk membicarakan keinginannya untuk bekerja. Lebih tepatnya Lea meminta tolong pada Antonio untuk dicarikan pekerjaan.
Antonio mengajak Lea bertemu disebuah cafe. Menikmati secangkir kopi adalah pilihan untuk menemani obrolan mereka.
" Jadi kamu beneran mau kerja?"
Lea mengangguk yakin," Aku rasa aku sudah tahu apa yang ingin aku lakukan sekarang." kata Lea," bekerja dan melanjutkan hidup."
Antonio menatap Lea lekat. Lea tidak perlu bekerja kalau hanya untuk melanjutkan hidupnya. Marshal tidak akan kekurangan uang untuk menghidupinya. Memang sejauh ini Marshal masih cuek pada Lea tapi Antonio yakin Marshal tidak mungkin lepas tangan dari Lea. Marshal pasti akan mencukupi semua kebutuhan Lea. Sejauh yang Antonio kenal Marshal justru yang paling royal pada mereka semua.
" Kamu bisa bekerja sebagai sekretarisku."
" Memangnya sekretarismu kemana?" tanya Lea mengingat Antonio sudah punya sekretaris yang bekerja padanya selama ini. Lagipula setahu Lea sekretaris Antonio selalu pria karena Antonio paling tidak suka bekerja dengan wanita yang katanya sering dipengaruhi oleh hormon.
" Dia lagi cuti, isterinya baru melahirkan."
" Jadi ntar kalau dia sudah kembali masuk kerja, aku gimana?"
" Kamu nggak kerja buat selamanyakan?"
" Kenapa nggak? kamu pikir aku nggak akan hidup lama,gitu?!"
" Aku nggak bilang begitu, Leanita. Aku fikir kamu hanya sedang ingin mengisi waktu luangmu sampai kamu isi nantinya."
isi?
Lea mengusir kemungkinan tersebut.
Jadi Antonio mengira dirinya sekedar iseng belaka?
" Sudahku bilang tadikan kalau aku butuh uang untuk hidup, kenapa kamu mikirnya kemana - mana?"
Antonio menatap Lea bingung. Tidak mungkin rasanya kalau Marshal tidak menafkahi isterinya sendiri.
" Dia menawari tapi aku tolak."
Jawaban Lea sungguh diluar dugaan Antonio. Tidak seperti wanita pada umumnya. Dibanding terdengar sedang jual mahal, Lea lebih terdengar seolah tidak layak. Ada benteng pertahanan yang sedang dibangunnya.
" Kenapa ditolak? itu sudah kewajiban dia dan kamu berhak menerimanya? kenapa kamu harus menyusahkan diri sendiri sih?" Antonio kesal sendiri jadinya.
" Aku hanya mencoba realistis aja."
" Realistis apanya? Jelas - jelas kamu sedang menolak kenyataan, Realitanya dia itu suami kamu sekarang."
" Kamu benar, dia memang suami aku sekarang tapi tidak ada jaminan sampai besok dan nanti - nanti."
" Maksudmu apa?"
Lea tersenyum tipis," Tidak ada maksud apa - apa, mungkin hanya perasaanku saja."
Antonio menghela nafasnya berat. Setiap membicarakan tentang Marshal selalu saja ada beban berat yang menghimpitnya. Perasaan Antonio jadi bercampur aduk jadinya. Ada peperangan batin yang bergejolak. Antonio benci menjadi dirinya yang tidak bisa berbuat sesuatu untuk meringankan beban Lea atau membuat Marshal lebih bertanggung jawab pada pilihannya.
" Jangan memperturutkan prasangka buruk yang hanya akan membuatmu memandang hidup dengan pesimis."
Lea tersenyum miring," Aku nggak pesimis, aku realistis."
Lea kembali menekankan ucapannya dengan pandangan mata tertuju pada pintu masuk cafe.
Antonio mengikuti arah pandangan Lea dan matanya seketika melotot jadinya. Bukan hal aneh jika Marshal bersama dengan Naomi tapi tidak dengan kondisi seperti sekarang. Semua orang pasti akan mengira kalau keduanya adalah sepasang kekasih demi melihat kedekatan mereka. Tangan Naomi bergelayut manja dilengan Marshal. Kedekatan yang bahkan belum pernah Antonio lihat saat Marshal belum menikah sekalipun. Dasar gila! Antonio memaki prilaku keduanya dalam hati. Emosinya jadi naik ke ubun - ubun.
Lea sudah menahan diri, tapi tetap melirik ke meja yang ditempati oleh Marshal dan Naomi. Senyuman Marshal terlihat begitu tulus pada Naomi. Terlihat lebih manis, tapi menyesakkan baginya. Perasaan cemburu muncul menyertainya. Perasaan Lea jelas terusik jadinya. Ditambah saat Lea harus menerima tatapan iba dari Antonio. Lengkaplah sudah betapa menyedihkan kisah hidup seorang wanita kampung yang bernama Leanita ini.
" Besok pagi... aku sudah bisa mulai bekerja kan?."
" Bisa ." angguk Antonio ragu. Telinganya tidak salah dengarkan? Lea menanyakan pekerjaan disaat seperti ini.
" Kalau begitu, kita pulang sekarang. Aku butuh istirahat yang cukup sebelum mulai kerja besok pagi."
Lea bangkit dan terpaksa di ikuti oleh Antonio.
Saat melintasi meja Marshal dan Naomi, Lea sempat menoleh. Pandangannya sempat bertemu dengan Marshal sejenak tapi Lea pura - pura tidak melihatnya. Begitu lebih baik daripada Lea merasa hidupnya tambah menyedihkan lagi. Naomi mungkin tidak menganggap keberadaannya sebagai isteri Marshal, Lea bisa menerimanya tapi kalau Marshal sendiri juga menganggap hal yang sama tentu saja tidak semudah itu bagi Lea menerimanya. Tidak lagi.
" Mereka... tidak mungkin tidak ada apa- apanya,kan?" tanya Naomi melihat kepergian Lea dan Antonio yang mengabaikan mereka disaat dirinya yakin baik Lea maupun Antonio pasti melihat keberadaan dirinya dan Marshal.
Marshal terdiam. Lea semakin berubah. Mengabaikan dirinya seolah tidak pernah bersikap berbeda sebelumnya.
" Setelah melihatnya, aku semakin yakin kalau pernikahan kalian memang tidak seharusnya terjadi dan sudah seharusnya diakhiri."
Marshal tersentak. Haruskah pernikahan seumur jagungnya diakhiri begitu saja? Keluarganya pasti akan menolak, terlebih Oma Rita. Marshal yakin kalau dirinya akan menjadi pihak yang disalahkan oleh semua orang tanpa peduli kalau Lea sendiri juga turut andil karena telah memilih mendekat pada Antonio. Hubungan mereka jelas terlarang.
bersambung....