Rencana Marshal untuk pulang cepat tidak jadi terlaksana karena sebuah ketukan pintu yang menghantarkan seseorang ke ruangan kerjanya. Naomi berdiri diambang pintu dengan wajah berbinar dan dihiasi oleh sebuah senyuman. Tidak biasanya Naomi muncul dengan kondisi wajah menyenangkan seperti itu. Naomi biasanya datang dengan wajah muram, sendu atau berlinang air mata. Dari obrolan mereka semalam bisa Marshal simpulkan kalau Naomi berhasil keluar dari hubungan toksic yang dia jalani selama ini. Marshal turut senang melihatnya.
“ Sudah mau pulang?” Tanya Naomi riang.
Marshal mengangguk mengiyakan.
“ Kebetulan yang bagus kalau begitu, kita bisa jalan - jalan sore ini," Ucapnya senang.
“ Mau kemana memangnya?”
“ Lihat nanti, kamu hanya perlu ikut aku aja.”
Marshal tersenyum melihat Naomi yang berteka - teki padanya.
Naomi ternyata tidak main - main dengan kata - katanya. Terbukti dengan dia yang memaksa Marshal untuk meninggalkan mobilnya dan ikut dengan mobil Naomi saja. Naomi juga melarang Marshal yang ingin menyetir. Kali ini Naomi yang membawa mobil sedangkan Marshal tinggal duduk manis disampingnya. Sebagai pelayanan ektra, Naomi bahkan menyetelkan lagu kesukaan Marshal dari tape mobilnya. Lagu dari band coldplay mengiringi perjalanan mereka menuju tempat rahasia Naomi.
“ Jadi kamu masih ingat tempat ini?”
“ Tentu saja, kamu yang pertama kali mengenalkan tempat ini padaku.” Jawab Naomi bangga. Naomi mengajak Marshal ke sebuah taman yang cukup sepi karena letaknya yang kurang strategis sehingga jarang dikunjungi oleh orang - orang. Ruang terbuka hijau yang sebenarnya diperuntukkan sebagai taman ramah anak itu tidak jadi berfungsi dengan semestinya. Hanya remaja dan orang dewasa yang kerap berkunjung kesana. Suasana sejuk dan sepi dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai tempat merenung. Karena hal itu jugalah kenapa Marshal mengajak Naomi kesana. Marshal tidak terlalu nyaman saat berada di mall ataupun cafe. Taman lebih menarik baginya. Tidak jarang Marshal membawa buku kesana untuk menemaninya kala Naomi menolak ikut karena lebih memilih menghabiskan waktu bersama Wisnu.
“ Kita duduk disana.” Tunjuk Naomi ke arah pohon yang berdaun paling rindang.
Marshal mengangguk.
Naomi mengeluarkan keranjangnya dari bagasi belakang.
“ Eits, jangan membantah. Kamu tinggal jalan saja kesana.” Naomi menolak saat Marshal ingin membantunya membawa keranjang ditangannya.
Dengan cekatan Naomi menyiapkan tikar sebagai alas mereka duduk. Piknik ala - ala pun siap mereka lakukan.
“ Tempat ini tidak pernah gagal memberikan kedamaian.” Kata Naomi sambil memejamkan matanya.
Marshal membenarkan ucapan Naomi dalam hatinya. Jauh dari hiruk pikuk dan polusi. Meski banyak pihak yang mengklaim bahwa pembangunan taman tersebut sebagai sebuah kegagalan namun bagi Marshal dan sebagian orang tempat tersebut adalah sebuah kesuksesan dalam menjaga lingkungan.
“ Akhir - akhir ini aku sering berfikir, kenapa butuh waktu lama bagiku untuk mengambil keputusan berpisah dengan dia, seakan duniaku runtuh jika hubungan kami sampai berakhir. Aku juga menyesali diriku dimasa lalu yang begitu bodoh.....tapi sekarang aku tidak mau lagi berada dalam fase menyesali diri. Aku ingin bangkit dan berjalan maju.” Naomi berbicara tentang kandasnya hubungan dirinya dengan Wisnu yang membuat dirinya merasa lebih lepas dan bebas.
“ Aku akan memperbaiki diriku dengan tidak lagi berpura - pura dihadapanmu. Jika selama ini aku abai dengan perasaan yang kamu rasakan kini tidak lagi. Aku akan memberi kesempatan bagi kita untuk berjalan bersama.”
Naomi mengucapkan kalimatnya dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya. Begitu yakin kalau apa yang dia bicarakan akan menjadi kabar yang membahagiakan dan pastinya sudah lama dinantikan oleh Marshal. Naomi tahu kalau Marshal mencintainya selama ini. Marshal selalu ada disetiap fase kehidupannya. Kala senang dan sedih. Menjadi sandaran dan tumpuannya selama ini.
Naomi sudah capek menjadi pihak yang paling mencintai, melelahkan. Kini, Naomi akan mencoba menjalani hubungan dengan menjadi pihak yang dicintai. Marshal sudah membuktikan cintanya dan Naomi yakin untuk menyerahkan masa depannya pada Marshal.
“ Aku akan mengakui semuanya didepan keluarga besar kita,” ucapnya yakin,” kalau perlu aku akan menyerahkan diri ke pihak yang berwajib agar Lea bisa melepaskanmu."
Marshal tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar pengakuan Naomi. Kata melepaskan juga sedikit mengganggunya seakan Lea yang telah mengikatnya selama ini.
“ Aku akan berjuang untuk masa depan kita.”
“ Masa depan kita?” Ulang Marshal tak yakin.
Naomi mengangguk,” kali ini biarkan aku yang melakukannya untukmu. Kamu hanya perlu untuk mengakhiri pernikahan kalian saja.”
Marshal terpaku jadinya. Sungguh kejutan yang luar biasa dari Naomi. Sampai - sampai membuat otak Marshal gagal berfungsi.
“ Andaipun kamu merasa tidak enak hati melakukannya, aku yakin dia yang akan meminta untuk kalian berpisah setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Naomi lagi,” Seharusnya aku mengaku sejak awal maka pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi tapi aku terlalu takut. Aku benar - benar minta maaf karena telah memaksamu untuk menanggung dosa akibat sikap pengecutku.”
Marshal tidak bisa berkata - kata lagi. Hanya suara Naomi yang terdengar mengisi kesunyian senja menjelang malam.
#
Butuh waktu bagi Lea untuk menata hatinya agar kembali bisa bersikap seperti biasa saat nanti Marshal pulang, maka sebelum Marshal kembali, Lea akan membawa kenangannya kemasa sebelum mereka menikah. Saat - saat dimana muka Marshal yang selalu datar dan dingin setiap bertemu dengannya. Marshal yang terlihat terganggu dengan kehadirannya di rumah Oma Rita, juga saat Marshal pernah mengusirnya terang - terangan dari ruangan tempat Marshal dan Naomi berada. Ruangan favorit Marshal dan sepupunya dirumah Oma Rita adalah ruang belajar yang merangkap tempat bermain yang bersebelahan dengan halaman belakang. Ruangan yang hanya dipakai saat Oma Rita kedatangan cucu - cucunya.
Atau yang paling dekat saat perasaannya belum memburuk dan harga dirinya terjatuh akibat kejadian yang terjadi dari malam hingga pagi hari. Wanita manapun pasti merasakan hal yang sama jika berada diposisinya. Setelah perasaannya sempat melambung tinggi kemudian dijatuhkan serendah - rendahnya. Lea jelas merasa terhina dengan sikap Marshal. Lea tidak tahu seperti apa penilaian Marshal pada dirinya sebenarnya. Jika Marshal belum mencintainya tidak apa tapi masih menganggapnya asing setelah mereka berhubungan intim jelas tidak bisa diterima oleh Lea.Tidak bisakah dia bersikap sedikit lembut setelah sebelumnya tubuh mereka sempat menyatu?
Pipi Lea memanas membayangkan kejadian semalam. Terasa masih nyata baginya. Sentuhan dan belaian Marshal masih bisa ia rasakan di sekujur tubuhnya. Benar - benar pengalaman yang begitu menakjubkan. Lea kehabisan kata- kata untuk menjelaskan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Benar sekali jika orang menyebutnya sebagai surga dunia.
Namun, kenikmatan itu telah ternoda oleh sikap dingin Marshal padanya. Lea tidak bisa berbuat banyak atas sikap Marshal tersebut. Jika Marshal menginginkan kemunduran dalam hubungan mereka maka Lea tidak bisa menahannya. Lea bertekad akan melakukan hal yang sama dengan apa yang ia terima. Lea hanya memandang datar pada Marshal yang baru masuk rumah. Tanpa mau berbasa basi Lea mengabaikan kepulangan Marshal dengan fokus ke layar televisi yang sedang menyiarkan acara talkshow.
Mereka tidak pernah berinteraksi lebih sebelumnya selain diranjang tadi malam. Sewaktu diranjang tadi malam, Lea merasa mereka sudah saling memberi dan menerima. Nyatanya tidak! Marshal yang sekarang dan sebelumnya sama saja. Entah pernikahan seperti apa yang sedang mereka jalani.
Marshal memandang Lea dengan fikiran berkecamuk. Pengakuan dan permintaan Naomi bergelayut dibenaknya. Apa yang harus ia lakukan kini?
Wanita itu, tidak lagi hanya berstatus sebagai isterinya tapi benar - benar sudah menjadi isterinya. Andai pengakuan Naomi datang lebih cepat apakah Marshal tidak akan pernah menyentuh Lea?
Apakah Marshal merasa menyesal telah menyentuhnya? Marshal menggelengkan kepalanya. Melongok kedasar hatinyapun Marshal bisa melihat bahwa tidak ada penyesalan disana.
Bersambung....