Bab 17, Keluarga Kita...

1481 Kata
" Lea..." Lea mengerjap. " Kamu sudah tidur?" Lea menoleh dan menatap Marshal yang menatapnya. Sepertinya Marshal baru pulang. Lea sendiri sudah sempat tertidur sebentar. Dari jam digital yang menyala terlihat sudah pukul tiga dini hari. Lea ingat tadi naik keatas tempat tidur sekitar pukul dua lewat sepuluh menit. " Leanita...." Marshal menyentuh pipi Lea. Lea terkejut, menoleh pada Marshal yang masih menatapnya. Tatapan Marshal kali ini terasa berbeda. Lebih intens dan penuh makna membuat Lea tenggelam. Marshal beringsut mendekat dan setengah menimpa tubuh telentang Lea. Bertahan agar tidak terlalu menindih Lea. Perbedaan bobot tubuh mereka yang lumayan mencolok membuat Marshal harus sedikit menahan diri. Lea menelan ludah susah payah saat otaknya berhasil mendeteksi apa yang mungkin akan terjadi. Tangan Marshal tidak lagi ada dipipinya tapi sudah turun ke dadanya. Apakah Marshal akan melakukannya tanpa melibatkan perasaan didalamnya? Namun, Lea tidak sempat berfikir panjang karena Marshal sudah memulainya dengan membungkam bibir Lea dengan bibirnya. Lea tersentak kala tangan Marshal memeluk pinggangnya erat. Marshal menarik wajahnya, bernafas sejenak, kembali mengecup bibir Lea dan memperdalam ciumannya. Ada lumatan dan belaian yang diberikan oleh Marshal untuk memanjakan bibir Lea. Juga untuk merangsang gairah Lea yang tersembunyi. Lea ingin menolak, tapi... Marshal adalah suaminya. Lea merasa seharusnya ada penjelasan dan ia butuh penjelasan itu, tapi... Marshal berhak atas tubuhnya, pun begitu dengan dirinya yang punya hak juga atas tubuh Marshal yang terlihat begitu menggoda. Mereka berhak menyalurkan hasrat dengan cara dan pada orang yang tepat. Orang yang tepat itu adalah Marsh dan Lea! Usia mereka juga bukan lagi remaja ataupun kanak - kanak yang beresiko untuk melakukan hubungan seksual. Keduanya sudah sangat dewasa dan faham resiko yang mungkin muncul nantinya. " Lea, lihat aku." Lea menatap Marshal. Dia tampan, sangat tampan. Wajahnya begitu Lea puja. Lesung di pipi kanannya membuat Lea kian terpesona. Lea suka semua yang ada diwajah, tubuh dan diri Marshal. Lea kembali terkejut saat lidah Marshal menyusup masuk dan mengabsen gigi - giginya. Sensasi yang dirasakan jadi berbeda dari sekedar ciuman tadi. Fikiran Lea mendadak blank. Lea melupakan semua hal yang mengganjal fikirannya. Beban fikirannya sirna seiring dengan dirinya yang menikmati permainan bibir Marshal. Hasrat Lea terbakar mengikuti gairah Marshal yang sudah terlebih dulu bergejolak. Tangan Marshal bergerak lihai melepaskan semua yang melekat ditubuh Lea dan mengusap serta mengelus setiap inchi tubuh Lea. Setelah berhasil membuat Lea menjadi polos, Marshalpun melakukan hal yang sama dengan dirinya. Kini semua pakaian mereka sudah berserakan di lantai kamar. Bibir Marshal tersenyum saat menatap d**a Lea yang membusung didepan wajahnya, lalu dia menunduk untuk menyentuh salah satu puncak p******a Lea dengan mulutnya dan menjilatnya dengan rakus. Lea mengerang, tidak mengenali suaranya sendiri yang terdengar sensual mengisi kesunyian malam. Mulut Marshal terus bekerja, kali ini dia mengisap p****g Lea dengan kuat sedangkan tangannya meremas p******a yang satunya. Lea benar - benar tidak bisa menahan suaranya sendiri. Lolos begitu saja,reaksi dari kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan. Dengan mulut masih berada di puncak d**a Lea, Marshal membawa jarinya ke bawah dan menyentuh Lea disana. Lea semakin blingsatan jadinya. Ia terengah - engah. Sungguh kenikmatan yang sulit untuk digambarkan dengan kata - kata. Marshal memberi jeda sebentar sebelum kembali melumat bibir Lea. Lea memejamkan matanya dan mengikuti nalurinya untuk membalas ciuman Marshal. Bisa Lea rasakan reaksi tubuh Marshal saat Lea membalas ciumannya, jadi bertambah panas dan semakin b*******h. Ciuman Marshal turun ke leher, d**a dan perut Lea. Mulut Marshal semakin ke bawah dan menggantikan kinerja tangannya untuk memanjakan Lea dibawah sana. Lea tersentak dan menahan kepala Marshal. Lea menggeleng lemah. Ada rasa segan bercampur malu yang menderanya. Marshal cuma tersenyum dan kembali menunduk, melanjutkan aksinya. Pandangan Lea langsung mengabur begitu merasakan hangatnya lidah Marshal membelai bagian paling sensitif ditubuhnya. Lebih nikmat lagi dari sebelumnya. Level kenikmatannya semakin naik saat dirinya disentuh semakin kebawah. Saat gelombang kenikmatan yang maha dahsyat datang menggulungnya, Lea hanya bisa menjerit tertahan dan mengerang terengah - engah. Sungguh nikmat yang tiada tara. Marshal kembali mencium Lea. Dia sudah diatas Lea dan mencoba untuk masuk. Kaki Lea sudah terbuka lebar tapi tetap tidak memudahkan Marshal untuk masuk, rasanya begitu sulit dan menguras tenaga. " Aku akan berusaha pelan," gumamnya berusaha mendorong. Kening Lea langsung mengernyit. " Sakit." Rasa sakit mulai dirasakan oleh Lea saat Marshal terus mendorong semakin keras. Jeritan Lea masih bisa didengar oleh Marshal meski Lea sudah menahannya. " Tahan sedikit, aku tidak bisa berhenti sekarang." gumam Marshal melihat muka memelas Lea. Marshal tidak sanggup kalau disuruh berhenti sekarang. Dia kembali mendorong lebih keras dan terbenam sepenuhnya. Air mata Lea mengalir sedangkan nafas Marshal memburu," Maaf." Marshal berdiam sejenak agar Lea terbiasa dengan dirinya yang berada di dalamnya. Isakan Lea belum berhenti sepenuhnya saat Marshal kembali mendorong dan menarik dengan perlahan. Hasratnya tidak terbendung lebih lama lagi. Marshal bisa bergerak dengan pelan tapi tidak untuk berhenti. Gerakan pelan penuh ritmenya berhasil memudarkan rasa sakit yang dirasakan oleh Lea dan berganti dengan rasa nikmat yang berbeda dan lebih intim. Rasa sakit itu tidak lagi Lea rasakan, yang tersisa hanya kenikmatan. Marshal bergerak semakin cepat menghunjam kewanitaannya dan Lea sudah memeluk leher Marshal. Marshal terus bergerak. Dia meraih tangan Lea dan membawanya keatas kepala Lea. Marshal menggenggam kedua tangan Lea dan terus memompa. Lea menjerit saat mendapatkan pelepasan keduanya sedangkan tubuh Marshal bergetar hebat. Keduanya kehabisan nafas dan terkapar dengan Marshal yang sudah berganti posisi dengan berguling dan meletakkan tubuh Lea diatasnya. Marshal memeluk tubuh basah Lea. Mereka masih menyatu dibawah sana. Marshal merasa nyaman berada didalam tempat basah nan hangat itu. Keduanya jatuh tertidur sebelum sempat memisahkan diri. Keesokan harinya Lea bangun sendirian. Ia kesiangan. Hari sudah pukul delapan pagi. Marshal pasti sudah berangkat kekantor. Saat Lea masih mengumpulkan nyawanya pintu kamar mandi terbuka dan Marshal keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Lea menatap Marshal tak berkedip, terpesona seperti biasanya sementara Marshal menatap Lea datar. Lalu tanpa mengatakan sepatah katapun Marshal berlalu keruang walking closet untuk memakai pakaian. Apa yang sebenarnya terjadi barusan? apa kejadian semalam hanya mimpi semata? Tapi sayangnya nyata. Lea tidak bisa menampik kenyataan saat ia membuka selimut dan menemukan tubuh telanjangnya disana. Ada bercak merah samar disekujur tubuhnya. Pakaian yang berserakan dilantai juga menjadi saksi lainnya. Jadi mereka memang akhirnya melakukannya tadi malam setelah menikah berbulan - bulan tapi alasannya bukan karena cinta atau penerimaan diri satu dengan yang lainnya, semuanyan hanya tentang kebutuhan biologis saja. Marshal hanya butuh menyalurkan hasratnya semata. Lea tersenyum padahal dadanya sesak dan nafasnya terasa berat. # Marshal tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya mengingat wajah nelangsa Lea. Bukan maksudnya untuk mengabaikan Lea setelah apa yang terjadi diantara mereka. Marshal hanya merasa terlalu canggung dihadapan wanita yang baru ia perawani. Marshal juga merasa malu dengan kelakuannya yang tak terkendali semalam. Dirinya terlalu marah dan terbawa perasaan dengan kelakuan Lea padanya. Setelah pergi tanpa izin, Lea juga meninggalkannya untuk pulang bersama Antonio disaat sebelumnya meminta dirinya untuk pulang bersama. Marshal tidak menyangka kalau Lea orangnya tidak sabaran. Hanya menunggu dirinya selesai berbicara dengan Naomi saja dia tidak mau. Harusnya Lea bisa menunggu lebih lama dan menolak ajakan Antonio. Hari sudah terlalu larut, lagipula ada dirinya yang jelas - jelas suaminya kenapa malah pulang dengan pria lain? Dengan diliputi amarah yang bercampur dengan cemburu maka Marshal tidak bisa menunda lagi untuk memberikan bukti keakuannya pada Lea. Marshal tidak munafik jika selama ini ia kerap tergoda untuk meminta haknya. Marshal pria normal yang ingin melakukan hal itu juga. Dirinya sudah terlalu lama menahan dan menjaga dirinya untuk wanita yang akan ia nikahi. Sebagai pria dewasa Marshal cukup mampu menjaga diri dari seks bebas dengan lawan jenis tapi tidak dengan memuaskan diri sendiri. Ia rutin melakukannya saat kepingin. Marshal baru berhenti main solo setelah menikah. Jadi bisa dimaklumi seperti apa cobaan yang ia rasakan karena berpuasa terlalu lama. Ternyata rasanya sangat luar biasa. Kenikmatan saat bermain solo tidak ada apa - apanya dengan yang ia rasakan semalam. Bagian tubuh Marshal yang paling berbahagia tadi malam kembali mengeras. Minta kembali merasakan kehangatan dari sarangnya. Bisa saja Marshal pulang kerumah dan mengajak Lea melakukannya lagi tapi apakah Lea masih mau setelah apa yang ia lakukan tadi. Kenapa mulutnya jadi tak berguna begitu? sehingga Lea jadi menafsirkan berbeda dengan apa yang ia rasakan? Marshal mengacak rambutnya kasar. Laptop yang sejak tadi menyala belum ia sentuh sama sekali padahal sekretarisnya sudah mengirim laporan yang harus segera ia periksa sebelum dikirimkan kembali kepada klien mereka sejak ia masih diperjalanan menuju kantor. Papanya bahkan sudah menunggu tindak lanjut dari kliennya sejak tadi pagi. Ketukan pintu terdengar dan Marshal mempersilahkan masuk. " Maaf,pak. Laporannya sudah bapak periksa? klien sudah menunggu dan pak Bryan juga sudah menanyakan sejak tadi." Marshal menatap sekretarisnya kesal. Sadar menerima tatapan tak bersahabat dari bosnya membuat sang sekretaris undur diri dengan segera. Marshal bergumam tak jelas. Salah siapa punya wajah dingin dan kaku? Marshal harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang awal. Ia harus mengajak Lea berbicara dari hati kehati. Jangan sampai Lea menutup sumber rezekinya dan membuat Marshal kembali berpuasa. bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN