Lea tidak tahu apakah tindakannya sudah benar atau tidak saat menerima ajakan Antonio untuk datang kerumah Om Irwan Maulana yang katanya sedang menghelat sebuah acara. Lea menerima ajakan dari Antonio tanpa meminta izin pada Marshal terlebih dahulu. Harusnya Lea bertanya dulu pada Marshal karena seharusnya Marshal yang mengajaknya kesana. Om Irwan juga Pamannya Marshal jadi tentu saja dia akan mengundang Marshal juga saat ada acara dirumahnya tapi sampai menjelang keberangkatan Marshal ke kantor pria itu tidak berbicara tentang acara tersebut sedikitpun. Acara ulang tahun pernikahan Om Irwan dan tante Cindy akan dilaksanakan nanti malam. Namun menurut Antonio mereka sudah mulai berkumpul sejak siang makanya Antonio mengajak Lea berangkat sejak pagi. Menurut Antonio juga, Marshal dan yang lainnya akan menyusul sepulang dari kantor. Lea tidak yakin kalau Marshal lupa tapi ia curiga kalau Marshal sengaja menyembunyikan darinya karena tidak ingin Lea terlibat lebih dekat dengan keluarga Naomi. Sebenarnya Lea juga tidak ingin melibatkan diri tapi entah kenapa kali ini nalurinya memaksa untuk mengikuti ajakan Antonio saja. Lea ingin tahu lebih banyak tentang Marshal dan Naomi.
Marshal mungkin saja akan marah padanya nanti tapi biarlah hal itu terjadi daripada Lea menahan rasa penasarannya sendiri. Lea juga meyakinkan dirinya kalau ia juga bagian dari keluarga besar Marshal yang berhak dan wajib hadir disana.
Seperti acara ulang tahun Oma tempo hari, acara ulang tahun pernikahan Om Irwan dan tante Cindy juga diadakan di taman belakang rumah. Bedanya jika di rumah Marshal ada kolam renangnya di rumah Om Irwan tidak ada. Gantinya hanya ada lapangan tenis dan badminton saja. Ada juga meja billiard yang tampak sudah dikelilingi oleh para sepupu Marshal yang tidak semua namanya diingat oleh Lea. Sepertinya Kyomi adik Naomi sangat menyukai olahraga sama seperti papanya.
" Kalian sudah datang?" sambut Oma Rita seolah sudah tahu kalau Lea akan datang bersama Antonio.
" Makan dulu,tante sudah masak banyak." ajak Tante Cindy," mau tante ambilkan biar kalian makan disini aja?" tawarnya.
" Nggak perlu tan, Aku bisa ambil sendiri nanti."
" Tunggu aja, capekkan,lumayan jauh perjalanannya."
Lea tersenyum canggung," Selamat ulang tahun pernikahan tante, maaf cuma bawa ini." Lea menyodorkan sebucket bunga pada tante Cindy. Lea tidak tahu harus memberikan kado apa. Saat melintasi toko bunga Lea meminta Antonio untuk berhenti. Antonio sendiri sudah menyiapkan kado yang Lea sendiri tidak tahu apa isinya.
" Ah, Lea ... kenapa mesti repot- repot segala? kamu datang saja sudah cukup bagi tante." Wanita cantik itu tersenyum manis yang membuat kecantikannya terlihat bertambah. Wajah dan senyumannya amat mirip dengan Naomi.
" Hanya Lea saja yang ditunggu tan, Antonio nggak dianggap gitu?" tanya Antonio berseloroh.
" Kamu pasti bakal datang, kalau nggak tante coret jadi keponakan tante." delik tante Cindy pura - pura marah.
Sementara tante Cindy berjalan ke dapur, Lea duduk disamping Oma Rita. Lea meraih tangan Oma Rita untuk ia pijat secara perlahan. Sudah menjadi kebiasaannya untuk bermanja - manja pada Oma Rita dengan cara seperti itu. Oma Rita tersenyum sambil mengelus rambut Lea lembut. Antonio yang melihatnya turut tersenyum haru sebelum kemudian melangkah menuju meja billiard untuk mencari lawan tanding yang sepadan. Siapa lagi kalau bukan ayahnya sendiri.
" Marshal bersikap baik sama kamu? dia tidak menyulitkanmu kan?"
" Baik "
Oma Rita tersenyum. Baik yang diucapkan oleh Lea terdengar tidak baik baginya," Oma selalu merasa khawatir dengan kalian, tapi juga punya keyakinan yang besar kalau semuanya akan baik - baik saja. Teruslah mencoba untuk berkenalan lebih dekat agar cepat jadi terikat lahir dan batin."
Lea hanya tersenyum saja. Apa yang membuatnya sampai di rumah ini juga merupakan usahanya untuk lebih mengenal pria yang telah menjadi suaminya tersebut.
Setelah tante Cindy dan artnya selesai menyiapkan makanan, merekapun makan bertiga. Ternyata Oma Rita dan tante Cindy belum juga makan karena keasyikan ngobrol. Sedangkan yang lainnya makan sesuka hati saja. Siang ini tidak ada agenda untuk makan bersama. Nanti malam barulah mereka akan makan malam bersama dengan semua tamu dan keluarga besar.
Saat malam menjelang, Lea menumpang dikamar tamu untuk berganti pakaian tapi Kyomi mengajaknya kekamarnya saja. Ada juga Alicia yang sedang berdandan disana.
Lea mandi dan berganti pakaian dengan dress yang sudah ia persiapkan dari rumah. Melihat Lea sudah berganti pakaian Alicia memintanya duduk di kursi yang tadi ditempatinya. Lea menatap Alicia penuh tanda tanya.
" Kamu nggak mau dandan dulu?"
" Nggak perlu."
" Berdandan sedikit saja tidak akan membuat kak Marshal lupa padamu." kikiknya lucu.
" Aku nggak terlalu suka dandan." aku Lea jujur.
" Itu saat hari biasakan? sekarang sedang ada acara, kakak mesti dandan seperti yang lainnya."
Kyomi mengangguk mengiyakan ucapan Alicia.
" Aku dandani, ya?"
" Aku nggak suka yang bold."
" Tenang aja, aku bikin yang ala Ryan ogilvy." kata Alicia meyakinkan.
Benar saja, dengan keahlian make up dari Alicia membuat muka Lea tampak bersinar tanpa perlu dipoles berlebihan. Riasan Alicia terasa ringan dan menyatu dengan kulit Lea.
" Cantik."
Suara langkah kaki terdengar memasuki ruang kamar.
" Ngapain kakak masuk kamar cewek?!" sergah Alicia dan Kyomi nyaris bersamaan. Antonio yang diteriaki oleh adik dan sepupunya hanya bisa meringis.
" Kakak mau numpang dandan juga dong, Kyo, kakak minta parfum kamu ya."
" Tumben mau pakai minyak wangi biasanya pakai molto aja." ledek Kyomi.
" Sembarangan, kakak ini pencinta parfum mahal lho, lihat aja koleksi kakak dirumah gak kalah sama punya kamu." balas Antonio sembari memilih parfum yang akan dipakainya diantara deretan parfum branded milik Kyomi. Lea sendiri cukup familiar dengan merk - merk parfum yang dikoleksi oleh Kyomi karena pernah bekerja paruh waktu disebuah toko parfum saat kuliah dulu.
Ketika tiba waktunya acara dimulai dan semua sudah duduk di kursi yang sudah disediakan, Lea merasa seseorang akhirnya mengisi kursi kosong yang ada disampinya. Marshal yang duduk disana setelah sebelumnya melabuhkan ciuman dirambut Lea.
Perlakuan tak biasa Marshal membuat Lea menegang kaku. Apa gerangan yang coba ditunjukkan oleh lelaki ini.
Lea menatap sekeliling dan berfikir apa kira - kira yang membuat Marshal bersikap manis padanya. Selain dari hampir semua orang yang menatap kearah mereka tidak ada lagi yang bisa Lea jadikan alasan. Jika karena keberadaan keluarganya saja tidak cukup menjadi alasan perubahan sikap Marshal padanya. Acara kini bukanlah acara pertama yang mereka hadiri setelah sah menjadi suami isteri.
Makan malam berjalan lancar meski Lea masih sibuk dengan fikirannya sendiri. Mereka asyik dengan obrolan mereka. Saling berbagi cerita dengan wajah gembira. Berbeda dengan Lea yang hanya diam. Marshal sesekali menimpali obrolan sepupunya dan ikut tertawa bersama. Beruntung tidak ada yang mengomentari sikap bungkam Lea. Mereka maklum dengan kecanggungan yang dirasakan oleh Lea. Tentu tidak mudah untuk berbaur dengan orang dan lingkungan baru.
Ketika akhirnya bisa pamit, barulah Lea bernapas lega. Namun, Lea punya kegelisahan yang lainnya yang muncul tiba - tiba. Jika tadi ia datang dengan Antonio sekarang ia harus pulang dengan siapa? Pasti akan terlihat aneh saat ia meminta diantar oleh Antonio saat Marshal juga berada ditempat yang sama dengannya. Sedangkan Marshal sendiri masih berbicara dengan Naomi di meja yang lain.
Mau tidak mau Lea memberanikan diri untuk mengirimi Marshal pesan. Setelah menunggu beberapa saat Lea melihat Marshal mengeluarkan ponselnya dan menoleh kearahnya. Tapi, Marshal kembali memasukkan ponselnya tanpa balasan apa - apa.
Lea terus menunggu tanpa kepastian.
" Masih lama? belum mau pulang?" Lea melihat Antonio sudah mau pulang juga.
" Aku mau pulang tapi..." Lea tidak melanjutkan ucapannya tapi Antonio tahu lanjutannya setelah melihat arah pandangan mata Lea.
" Ayo, pulang." ucapnya dingin sambil berlalu. Lea pun mengikuti Antonio tanpa melihat lagi pada Marshal. Beruntung para orang tua dan Oma Rita tidak terlihat lagi. Mereka sudah masuk kamar dan ada juga yang sudah pulang dari tadi. Lea hanya bisa berharap agar tidak ada yang melaporkan apa yang terjadi pada mereka.
" Kita tadi datang bersamakan?" tanya Antonio.
Lea menatap Antonio tak mengerti.
" Karena Datang dijemput makanya pulang harus diantarkan?"
Lea bergidik ngeri mendengar lelucon tak tepat waktu dari Antonio. Hanya orang sinting yang berani menjadikan kisah jelangkung sebagai lelucon disaat lewat tengah malam begini.
Antonio tertawa melihat Lea yang ketakutan. Lebih baik melihatnya yang ketakutan diakibatkan oleh lelucon recehnya dibandingkan wajah tak berdayanya karena diabaikan oleh suami tak berperasaan seperti Marshal.
Antonio masih saja mengeluarkan joke - joke yang ia punya guna menghibur Lea yang terlihat menyedihkan baginya.
" Terima kasih, kamu sudah banyak membantu disaat sulitku."
Lea sadar apa yang dilakukan oleh Antonio semata untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik dan Lea bersyukur karenanya. Kehadiran Antonio sungguh sangat berarti. Bagi Lea, Antonio lebih dari teman. Antonio sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri. Jika saat didekat Marshal ada perasaan membara yang Lea rasakan maka saat bersama Antonio dirinya merasa hangat dan aman. Perasaan yang sama hadir saat sedang bersama dengan Almarhum Ayahnya.
bersambung....