Lea keluar dari kamar mandi saat Marshal masuk kamar dengan membawa dua buah koper berukuran besar dikiri kanan tangannya.
" Cepatlah berkemas, kita akan pindah hari ini." Marshal bersuara saat Lea sudah duduk di depan meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah. Rambutnya terasa lengket dan kotor setelah hampir tiga hari tidak keramas. Rambut berminyaknya jadi lepek dan bau. Harusnya pengantin baru sepertinya merasa rambutnya jadi kering dan melayang efek terlalu sering keramas. Tapi, tentu saja Lea adalah pengecualiannya.
" Barang- barang kita tidak terlalu banyak jadi aku rasa kita tidak perlu menyewa jasa pindahan."ucap Marshal mulai mengeluarkan baju- bajunya dari dalam lemari dan memasukkan kedalam koper.
Lea mengangguk sambil terus menyelesaikan kegiatan pasca mandinya. Beres berpakaian dan sedikit memoles diri,Lea pun mengeluarkan koper berukuran sedang miliknya dari dalam lemari dan melakukan hal yang sama dengan Marshal. Mereka mengemasi baju dan barang pribadi mereka dalam diam.
Selesai berkemas, yang bagi Lea cuma memakan waktu sebentar karena baju - bajunya hanya berasal dari kampung yang dulu ia bawa, ditambah tiga helai dress kado dari ibu mertuanya, Merekapun turun ke ruang makan.
" Kalian mau pindahan sekarang?" tante Rima, mamanya Marshal menatap Marshal dan Lea bergantian.
" Hm.." jawab Marshal singkat.
" Apa tidak terlalu terburu - buru?"
Melihat Marshal tidak menjawab, Rimapun menoleh pada suaminya yang sedang duduk di ujung meja.
" Papa yang mendesak mereka untuk pindah?" tanya Mama Rima menuduh.
" Masih banyak waktu kenapa mesti buru - buru sih?!" Mama Rima menggerutu sembari membawa Lea duduk di kursi yang ada disampingnya.
Marshal memilih duduk disamping Oma Rita.
" Sudah waktunya Marshal dan Lea hidup mandiri."
Oma Rita yang bersuara mewakili menantunya.
" Tapi Ma, itukan bisa nanti - nanti... baru juga Rima punya mantu udah mau pindah aja, belum juga kami punya waktu untuk pergi bareng."
Lea tersenyum tipis mendengar mertuanya merengek seperti itu. Jujur saat melihatnya Lea rasanya ingin cepat - cepat pergi karena tidak mau terbawa perasaan. Jangan sampai ia terlena karena merasa benar- benar menjadi bagian dari keluarga Marshal. Posisinya tidak terlalu jelas saat ini jadi lebih baik ia membangun benteng pertahanannya sendiri.
" Sering - seringlah berkunjung kesini," Sebut Rima saat mengantar Lea dan Marshal ke mobil," Jika kamu bosan sendirian telfon Mama nanti Mama kirim sopir buat jemput."
Lea hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan mertuanya. Setelah menyalami semuanya Marshal dan Lea pun berangkat menuju rumah baru Marshal, begitu Lea menyebutnya.
Lea menatap Marshal heran karena membawa koper miliknya kekamar yang sama dengan koper milik Marshal. Mereka tidak lagi berada dikediaman keluarga Marshal jadi tidak perlu lagi tidur di satu kamar. Disini ada lebih dari tiga kamar yang bisa mereka pakai sendiri - sendiri.
" Kita akan tetap tidur dikamar yang sama meski tidak ada orang lain disini, Mama dan Oma bisa datang kapan saja untuk memantau kita."
Penjelasan Marshal membuat Lea jadi tahu kalau belum ada perubahan dalam hubungan yang sedang ia jalani dengan Marshal. Hubungan mereka masih saja hubungan diatas kertas.
Jika Marshal masih menganggapnya seperti itu ingin rasanya Lea menganggap Marshal orang lain saja. Jika Marshal tidak mau membuka hati untuknya maka Lea pun akan menutup hatinya rapat - rapat. Lea bahkan bisa belajar membenci Marshal. Godaan untuk melakukan hal yang sama atau lebih kejam sempat menghampiri Lea namun ia kembali teringat pada kedua orang tuanya dan Oma Rita. Mereka pasti akan kecewa kalau Lea tidak mau bersabar. Pasti ada alasan kenapa orang tuanya menitipkan dirinya pada Marshal. Terlepas dari apapun itu nyatanya orangtuanya rupanya sangat percaya Marshal. Demi mereka Lea akan mencoba bersabar lebih lama lagi menunggu Marshal melihatnya. Rasanya Lea sanggup melakukannya asalkan tidak ada penyesalan nantinya karena telah menjadi orang yang gegabah.
" Aku beberesnya nanti saja, sekarang aku mau belanja dulu untuk kebutuhan dapur. Kamu mau kekantor sekarang?" tanya Lea mengingat hari baru menjelang siang.
" Aku libur hari ini. Ayo kita belanja." jawab Marshal diluar dugaan Lea.
" Selera makanan dan kebutuhan kita pasti berbeda jadi lebih baik kita belanja sendiri - sendiri." Marshal sukses mematahkan secuil harapan yang sempat tumbuh dihati Lea sebelumnya. Terlalu cepat bagi Lea untuk berharap hanya dengan sebuah ajakan belanja semata. Membangun harapan diatas khayalan memang sangat beresiko kecewa.
Melihat Marshal yang telaten saat belanja groceries membuat kekaguman tersendiri bagi Lea. Hello Lea! bukankah semua yang berkaitan dengan Marshal selalu membuatnya kagum?
Tentu saja Lea kagum karena pada dasarnya hatinya sudah diliputi oleh Marshal tapi tentu tidak membuat Lea lupa jika sekarang bukanlah saatnya untuk terus terlena dalam godaan yang ia ciptakan sendiri. Lea harus segera sadar dengan kenyataan bahwa semua barang yang ada didalam keranjang belanjaan Marshal adalah miliknya sendiri. Dengan terpaksa Leapun mengambil keranjang untuk tempat belanjaannya yang pastinya tidak banyak karena menyesuaikan dengan uang yang dimilikinya. Selain membeli beras dan telur, Lea mengambil cukup banyak mie instan sebagai amunisinya.
" Kamu mau makan mie instan setiap hari?" tanya Marshal memandang horor kedalam keranjang Lea. Lea hanya memandang datar pada Marshal. Lea mengantri tepat dibelakang Marshal. Selesai mengeluarkan belanjaannya keatas meja kasir, Marshal mengambil alih keranjang yang ada ditangan Lea untuk kemudian dihitung bersama belanjaannya. Lea sempat menahan keranjangnya sebelum ia lepaskan karena mendapat tatapan tajam dari Marshal. Andai saja Lea tahu sebelumnya...
" Kamu nggak perlu masak untukku, aku bisa masak sendiri saat lapar." beritahu Marshal setiba dirumah. Marshal bahkan menata belanjaannya dirak terpisah dengan punya Lea. Bahan makanan Marshal yang terdiri dari roti tawar, pasta dan oatmeal memang terlihat jauh berbeda dengan mie instan milik Lea. Setidaknya Lea masih punya telur dan bawang- bawangan. Ada juga sedikit cabe merah dan cabe rawit sebagai bumbu saat ingin memasak telur atau mie instan nantinya.
" Aku akan kirimkan uang untuk kamu pakai belanja kebutuhan pokok yang layak buat kamu makan, besok kamu bisa belanja sendiri atau menunggu tukang sayur lewat."
" Tidak usah," tolak Lea cepat. Lea akan bertahan dengan tabungannya sampai mendapatkan pekerjaan. Sebulan lagi kebun jagung milik almarhum ayahnya yang digarap oleh saudara jauhnya juga akan panen. Untuk hidup sederhana bisa tercukupi dari hasil kebun," Aku ada uang, kok."
" Siapa yang bilang kamu nggak punya uang? aku ngasih kamu uang sebagai nafkah yang memang sudah jadi kewajibanku."
" Aku mengerti tapi aku tetap tidak akan menerimanya. Aku sangat berterima kasih karena diberi tempat tinggal yang nyaman jadi tidak perlulah kamu beri uang juga. Ntar keenakan diakunya."
Marshal terdiam mendengar makna ambigu dalam kalimat Lea. Wanita ini tidak sedang menyindirnya lagikan?
" Kenapa kamu menolak? bukankah isteri - isteri diluar sana suka sekali diberi uang?"
" Karena aku bukan isteri seperti mereka." jawab Lea datar.
" Lea." Marshal menahan tangan Lea saat Lea melewatinya," Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjadi suami sesungguhnya."
" Kamu ingin berperan menjadi suami yang baik rupanya." kata Lea sarkas.
" Aku hanya sedang mencoba."Marshal menatap Lea lekat," tidak sedang berpura - pura."
" Jangan membuatku tertawa, Marshal. Disatu sisi kamu ingin menjadi suami yang baik sedangkan disisi lainnya kamu menolak saat aku ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang isteri."
" Jika yang kamu maksudkan masalah makanan, aku tidak bermaksud seperti apa yang kamu fikirkan. Aku ingin membuatnya lebih mudah bagi kita karena selama tinggal bersama aku melihat kalau kita punya selera makan yang berbeda."
Benarkah seperti itu? kenapa rasanya tidak benar?
Lea memalingkan wajah, melepaskan tangannya dari cengkraman Marshal.
" Aku ke kamar dulu."
Lea melangkah ke kamar. Menata pakaiannya ke dalam lemari yang kali ini berada diruangan yang agak berjarak dengan letak tempat tidur. Lemari sebesar itu hanya akan diisi satu pintu saja olehnya itupun tidak terisi semuanya. Selebihnya akan menjadi tempat bagi pakaian Marshal yang jumlahnya menyamai satu toko baju.
Jika sebelum berangkat belanja Lea ingin membantu Marshal menyusun baju - bajunya karena selain dua koper yang ia bawa saat berangkat bersama Lea sudah datang lagi beberapa koper dan kardus lainnya, kini tidak lagi. Biarlah Marshal yang melakukannya sendiri. Marshal tidak akan senang saat barang - barangnya disentuh oleh Lea.
Bersambung....