Waktu sebulan terasa begitu lama oleh Lea. Rasanya sudah lama sekali ia pulang ke kampung halamannya tapi saat melihat kalender belum genap tiga puluh hari waktu yang ia lewati. Baru menginjak hari ke dua puluh delapan saja sudah membuatnya tidak betah. Kampung dan rumah yang biasanya ia rindukan tidak bisa mengobati kekosongan hatinya. Ada rindu yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Sehingga hari-harinya diwarnai kegalauan. Ada waktu dimana Lea akan menangis dengan sendirinya tanpa suara, hanya air matanya saja yang mengalir dipipi. Lea fikir dirinya akan baik-baik saja. Bisa menerima suratan takdirnya seiring berjalannya waktu tapi nyatanya tidak. Kian hari dadanya kian sesak menahan rindu. Lea sadar dirinya begitu menyedihkan kini karena masih saja mendamba seseorang yang t

