“Hmmm… yummy.” Goda Eve. Mata Max kembali berkabut saat Eve mencoba benihnya tanpa rasa jijik. Eve bangkit dan menuju kamar mandi. Membersihkan area miliknya yang berlendir. Setelah itu, dia kembali menuju tempat tidur dan menemukan Max sedang meminum air mineral.
Eve memeluknya dari belakang dan meraih junior Max yang setengah tertidur. Eve mengocoknya pelan. Max membalikkan tubuhnya dan berbaring membiarkan Eve menaiki tubuhnya. Dari posisi tersebut, Eve terlihat sangat sensual. Kedua buah dadanya yang besar menggantung memanggil manja.
“Berapa usiamu?” Max mengelus lembut kedua paha Eve. Kejantanannya kini tepat menggesek milik Eve lagi.
“Coba tebak.” Eve meraih wajah Max dan mengulum bibirnya lapar. Kedua tangan Max meremas b****g sintal Eve.
“27?”
Eve tertawa kecil, “Aku terlihat tua sekali ya.”
“Hanya dugaan.”
“23.” Koreksi Eve dan kini bermain dengan d**a bidang Max.
“Kamu muda dan cantik. Pria-pria itu pasti…”
“Ssstttt… aku hanya menginginkanmu.” Bisik Eve dan kini mulai mengarahkan rudal Max memasuki miliknya lagi. Keseluruhan panjang itu memenuhinya penuh. Max dan Eve mengerang bersamaan. Eve mulai menggenjot dengan semangat membiarkan desahan keras mereka memenuhi ruangan hotel ini.
Max meraih kedua d**a Eve dan meremasnya gemas. Karena gemasnya, bahkan bercak tangan Max terukir di sana. Eve mulai menggila, dia sudah terbiasa dengan ukuran luar biasa Max. Tubuhnya bekerja sama dengan baik. Ini adalah persetubuhan ternikmatnya. Eve memejamkan matanya sembari terus menaik turunkan bokongnya cepat.
Andai dia bisa melakukan aktivitas ini seharian penuh, dia tak akan protes. Max memasukkan puncak d**a Eve kedalam mulutnya dan menghisap lapar bagai seorang bayi yang tidak mendapat asupan seharian ini. Eve tersenyum menatap penuh cinta. Max terlihat seperti anak kecil baginya. Eve membiarkan Max bermain puas dengan tubuhnya.
15 menit kemudian, Eve mencapai klimaksnya diikuti Max kemudian. Erangan demi erangan bergema di dalam ruangan besar itu. Max tak ingin berhenti. Dirinya seakan hidup kembali setelah tahun-tahun yang kelabu. Hasratnya seakan mulai bertunas dan tumbuh subur. Dirinya tak bisa mengendalikan setiap sel yang bergejolak luar biasa.
Di tatapnya Eve yang masih menunggangi tubuhnya dengan erotis. Senyum kecil terukir, sepertinya hidupnya tidak akan membosankan lagi. Tubuh Eve terkulai diatas tubuhnya lemas. Entah apa yang mendorongnya untuk mengecup puncak kepada Eve tiba-tiba. Baik Eve dan Max terkejut. Max berdehem dan perlahan bangkit membersihkan dirinya. Sebenarnya dia enggan beranjak, dia masih ingin menikmati tubuh elok Eve. Namun dia tak ingin terlihat aneh setelah kecupan itu. Memang dia pernah melakukannya sebelumnya, namun saat ini terasa canggung.
Setelah selesai membersihkan diri, Max melihat Eve masih berbaring dengan tubuh telanjangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6. “Kamu ingin ikut jet pribadiku?”
Eve menoleh dengan tampang malas, wajahnya setengah terbenam di bantal. “Tidak.”
“Kenapa?” Max mulai mengenakan satu persatu pakaiannya.
“Aku tak ingin pengawalmu dan pegawaimu mengenalku, akan berbahaya bagi posisimu.” Terang Eve.
Max terkejut, tidak pernah ada wanita yang seperhatian ini terhadap dirinya. “Kamu yakin?”
“Ya.” jawab Eve lagi. Tubuhnya terlihat menggoda dengan b****g yang terpampang jelas. “Aku bisa membeli tiket kembali.”
Max meraih handphonenya dan memberikannya kepada Eve, “Berikan aku nomor teleponmu.”
Eve mengambil dan mengetiknya, “aku sudah memberikan nama berbeda.”
Max mengerutkan keningnya saat membaca nama itu, “Evander?”
Eve tertawa renyah, “lebih mudah bukan?”
Max ikut tertawa, “Baiklah.” Max kembali mengenakan pakaiannya yang tersisa dan menghampiri Eve. “Aku tak membawa cash sekarang. Tetapi jika kamu memberikanku rekeningmu, aku akan mentransfernya.”
Eve kembali tertawa, “Nanti aja, Babe.” Eve meraih wajah Max dan mengecupnya. “Be safe.”
“I will.” Max bangkit dan meninggalkan Eve sendirian di dalam kamarnya. Eve tersenyum memeluk bantal yang digunakan Max. Aromanya masih bertahan di sana. Dirinya tak pernah menyangka jika akan menjadi seperti ini. Awalnya Eve berpikir bunuh diri adalah jalan terbaik namun Max hadir dengan tiba-tiba seakan menghidupkan semangat hidupnya kembali. Eve menyadari Max tak akan pernah memilihnya, dia paham benar resiko itu. Hingga waktunya tiba, Eve ingin menikmatinya. Bukan untuk siapapun tetapi untuk dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Eve baru saja menginjakkan kaki di dalam rumahnya setelah perjalanan yang panjang. Beberapa hari itu pula Max selalu menghubunginya, bertanya apakah dia sudah berada di Indonesia. Eve meraih kopernya dan menata baju-baju miliknya. Jam menunjukkan pukul 6 sore ketika Max menghubunginya lagi.
“Hey.” Jawab Eve dan membuat handphonenya dalam mode speaker.
“Sudah di Indonesia?”
“Ya. Aku baru sampai di rumah.”
“Berikan alamatnya. Aku tunggu.” Max mematikan line telepon, Eve mengerutkan kening bingung dan mengirimkan alamat rumahnya.
Sekitar 30 menit kemudian, dirinya baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk ketika pintu rumahnya di ketuk. Eve setengah berlari menghampiri pintu dan mengintip sebentar. Wajahnya syok melihat Max berdiri di sana dengan tampan. Rambutnya tersisir kebelakang rapi mengenakan kemeja biru tua.
Eve membukakan pintu perlahan. Di saat yang sama, Max segera memeluk tubuhnya dan mengulum bibirnya lapar. Lidah mereka bertautan erat. Max seperti pria yang kelaparan. Eve tidak menyangka itu. Max begitu mendominasi dan bahkan meraih tubuhnya menuju sofa. Dengan kakinya yang panjang, Max menutup pintu depan. Tubuh Eve terlentang diatas sofa dengan handuk yang berantakan.
Napas Max memburu bagai banteng yang marah, matanya penuh birahi menatap tubuh Eve ganas. Kedua tangannya meraih d**a Eve dan meremasnya. Eve mengeluh nikmat, handuknya kini sudah tergeletak di lantai yang dingin. Eve enggan menghentikan Max, dia merindukan sentuhan pria ini. Mereka benar-benar diliputi gairah. Eve merentangkan kedua paha dalamnya berharap Max bisa memanjakan miliknya. Lidah hangat Max mulai bergerak lincah dan liar. Eve mengerang keras.
“Menungging!” perintah Max berat dan menampar b****g padat Eve. Dengan berpegangan pada sofa, Eve mengikuti perintah dengan patuh. Eve bisa mendengar suara ketika Max mulai melucuti pakaiannya dan mulai menggesek kepala senjatanya di liang hangat Eve.
Sekali hentakan seluruhnya masuk dengan sempurna. Max mengenjot tubuh Eve dengan ritme cepat dan kasar. Tubuh Eve terhentak dengan kuat. Miliknya basah oleh perlakuan kasar itu, dia bisa menerima segala emosi Max. Eve bisa merasakan jika Max sedang dalam suasana hati yang buruk. Eve memahaminya.
Max terus menyetubuhinya tanpa ampun, bahkan ketika Eve mencapai klimaks pertamanya dan terbaring lemas, Max tak ingin berhenti. Eve tak mampu lagi berkata, secara tidak langsung dia menikmatinya. 5 menit kemudian, Max mengosongkan benihnya di dalam tubuh Eve dengan leguhan panjang. Max terduduk di sofa dengan berpeluh. Eve disebelahnya berusaha mengatur napas. Eve menatap wajah Max seksama.
“Hai.” Goda Eve.
Max menatapnya dengan tatapan dingin. “Hai.” Balasnya. Max kembali menutup mata. Eve bangkit dan meraih tisu, membersihkan miliknya yang berlumuran cairan Max. Eve mengunci pintunya dan kembali menaiki tubuh Max yang terduduk.
“Ingin lagi?” tawar Eve memijat dadanya genit. Max mengangguk dan mulai meraih juniornya yang setengah tertidur. “No.” Eve menutup liangnya dengan tangan kirinya. “Tidak di sini.”
Max bangkit menggendong Eve bridal style, “dimana kamar tidurmu?”