EMPAT BELAS - Pelayan Pribadi

1140 Kata
“Kamu gila!” Mendengar seseorang menyebutnya gila, Max meraih wajah Eve dan menggenggamnya erat. “Look… aku bukan seseorang yang bisa kamu sebut seperti itu. Usiaku jauh diatasmu. Lagipula aku akan menjadi tuanmu.” “Aku tak mengerti.” Eve berusaha melepaskan cengkraman tangan Max di rahangnya yang mulai terasa sakit. “Kamu akan bekerja sebagai pelayan pribadiku.” “What! Tidak. Aku hanya akan menyetujui ini kalau kamu membutuhkanku diwaktu tertentu. Aku juga memiliki kehidupan pribadi. Aku tak ingin bekerja bersamamu di bawah pengawasan istrimu. Ini menyangkut nama baikku juga!” tegas Eve. “Istriku tidak tahu. Yang mengetahui tentangmu hanya kepala pelayanku. Kamu tidak akan benar-benar bekerja, kamu disini hanya untuk melayani kebutuhan biologisku. Aku lebih nyaman jika kamu berada dekat denganku.” “Aku tetap tidak bisa. Kamu pasti memiliki banyak pelayan. Bagaimana jika mereka mengetahuinya dan melaporkan kepada istrimu. Aku tak bisa.” Eve bangkit. Max meraih tangan Eve erat. “Kamu harus menurutiku.” Kini wajah Eve kembali syok, “Kamu bukan siapapun! Kamu tidak berhak mengaturku!” “Aku berhak! Kamu milikku!” desis Max menjulang dihadapan Eve. Matanya seperti elang dan auranya berubah menyeramkan. Eve menelan ludah keras. “O… oke… oke… Aku masih tak mengerti tentang pelayan pribadi ini. Bisakah kamu menjelaskan dengan detail?” Eve memilih memikirkan bagaimana menyelamatkan dirinya dulu. Dirinya masih tidak mengetahui sifat asli Max. Seketika dia merasa Max benar-benar marah. “Nanti. Aku sangat h***y sekarang.” Max membaringkan tubuh Eve kembali dan melumat bibirnya. Tangannya tak sabaran menggerayangi tubuh Eve. Sementara Eve hanya terbaring pasrah, napas Max terdengar berat bagai banteng yang marah. Eve kembali bergidik. Apakah ini wujud asli Max? Dominan dan keras kepala. Celana yang dikenakannya dirobek dengan paksa. Area paling tersembunyi miliknya terpampang jelas. Eve kembali menutupnya karena udara AC yang mengalir membuatnya merinding. Max membuka celananya dan memperlihatkan miliknya yang sudah sangat tegang. Tanpa menunggu kesiapan Eve, Max melesakkannya dengan kasar. “Damn!” erangnya di antara sakit dan nikmat. Max mulai menghujam miliknya dengan ritme cepat dan bertenaga. Eve berusaha mengimbanginya. Baginya, ini akan terus berlanjut. Tidak ada cara lain selain ikut menikmatinya. Max berpeluh diatas tubuhnya. Wajahnya lebih bersemangat dari awal mereka bertemu, apa Max b*******h bersamanya? Hanya desahan dan erangan yang memenuhi ruang kerja besar tersebut. Max memeluk erat tubuh Eve dan mengosongkan benihnya dengan satu hujaman dalam. Eve bisa merasakan bagaimana benih hangat itu membuat perut bawahnya menghangat. Max tak bergeming, napasnya masih tidak teratur. Eve mengelus rambut Max lembut. Meski tubuh Max yang besar menindihnya berat, beruntung sofa ini lembut. Max bangkit kemudian dan meneguk whiskinya cepat. “Mau?” Eve menggeleng, “Aku ingin kamu jelaskan sekarang.” Eve berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan pakaiannya yang robek. Max menyadarinya dan meminta kepala pelayannya mengambilkan selimut. “Pakai ini dulu. Pelayanku akan membelikanmu pakaian untuk besok.” “Oke.” Eve menutupi tubuhnya dan duduk manis menunggu penjelasan Max. “Terhitung besok, kamu akan bekerja di sini sebagai pelayan pribadiku. Aku sudah menerangkannya kepada kepala pelayanku.” “Tapi bagaimana jika ada rumor?” “Aku memiliki 3 pelayan yang tinggal di rumah ini. Sisanya, mereka hanya datang pada saat subuh dan kembali malam setelah membereskan mansion.” Eve terlihat berpikir dan masih memandang tak yakin, “aku akan merasa bosan jika di dalam mansion terus menerus. Aku memiliki kehidupan sosial lainnya. Bagaimana jika kamu sedang bekerja di luar? Aku akan diam di sini begitu? Sementara kamu terlihat seperti tidak pernah di rumah.” “Aku lebih banyak bekerja di rumah untuk kedepannya.” Eve bangkit berdiri, hatinya ciut. “Aku tidak bisa.” “Aku akan memberimu waktu berpikir.” “Oke. Bisakah aku kembali sekarang? Aku tidak bisa pulang jika semua orang dirumah ini bangun, ditambah tubuhku sangat lengket.” Eve meraih tisu yang berada di meja Max dan membersihkan paha dalamnya dari benih Max yang mulai keluar mengalir dari area privatnya. “Alright.” Siang harinya, Eve bertemu Amelia di sebuah café sembari menikmati kopi panas. Eve ingin meminta saran bagaimana tindakan selanjutnya. Amelia duduk dihadapannya dengan wajah syok setelah mendengar keseluruhan ceritanya. “Bagaimana menurutmu?” “A… aku rasa dia benar-benar menyukaimu.” Jawab Amelia gagap. “Look Eve… tidak ada orang yang membawa orang asing kedalam rumah mereka jika mereka tidak mempercayai orang itu. Pria itu mempercayaimu.” “Pria itu bernama Max.” “Right! Si Max itu sangat menyukaimu.” Eve tertawa kecil, “Menyukai v*ginaku tepatnya.” Amelia ikut tertawa, “Well… bagiku tak masalah. Bayarannya?” “Aku rasa Max orang yang royal. Sejauh ini dia bisa menjamuku dengan baik.” “Namun satu hal…” Amelia menatap serius Eve. “Kamu harus menyamar.” “Menyamar?” tanya Eve bingung. “Ya tentu saja! Menyamar dari istrinya.” terang Amelia. “Caranya?” “Kenakan wig, aplikasikan beberapa make up juga. Kamu sedang bermain api, setidaknya kamu berjaga-jaga. Jika tanpa sengaja kalian bertemu diluar, istrinya tidak akan mengenalmu karena dia nyonya rumah dan kamu bekerja sebagai pelayan. Dalam situasi seperti ini, kita wanita selalu dapat makian paling banyak daripada pria.” Eve terlihat berpikir. “Tumben kamu pinter.” Cengirnya. “Sialan.” Cengir Amelia. Eve bangkit dan memeluk Amelia. “Thanks.” “Anytime! Jika ada apapun, kamu harus selalu mengabariku.” “Will do, Mam.” Jawab Eve siap. Sore harinya Max menghubungi Eve dan meminta jawaban. “Bagaimana?” Max masih berada dikantornya dan sedang menguraikan dasinya. Hatinya penat karena kesibukan. “Aku bersedia. Tapi aku memiliki satu kondisi.” “Apa itu?” “Kamu tidak akan memukul bukan?” Max terkekeh. “Untuk apa aku memukulmu? Ah… kamu berpikir aku pria yang kasar?” “Sejauh ini, ya.” sindir Eve. “Aku tidak akan melakukannya… selama aku sadar. Bagaimana?" Eve menelan ludah keras. “Oke.” “Alright. Datanglah malam ini pukul 9 malam. Aku akan menunggu.” Max tanpa sadar tersenyum penuh kemenangan. Eve mematikan line telepon bertepatan ketika Jaxon memasuki ruangannya. “Hey.” sapa Jaxon ceria. “Hey.” Max bangkit dan meraih gelas whiski untuk Jaxon. “Kamu terlihat senang. Sesuatu hal baik terjadi?” “Ya.” jawab Max singkat dan kembali tersenyum kecil. “Kalau aku tebak bukan karena binimu.” Jawab Jaxon cuek dan meraih gelas whiskinya. “Kok tahu?” Max menoleh terkejut. “Wanita seperti itu hanya membawa neraka. Aku masih tidak habis pikir kenapa kamu begitu mencintainya.” Jaxon menyecap whiskinya pelan. “Damn! Kamu begitu membenci istriku rupanya.” Jaxon tertawa kecil, “aku tidak ada rasa dendam kepadanya. Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa memilih menikahinya dan bertahan. Aku mengenalmu jauh sebelum mengenal Agatha. Hanya karena ayahnya membiayai kehidupanmu dulu, ini terdengar seperti balas jasa. Agatha menggunakanmu untuk ambisinya dan lebih parahnya kamu tetap bertahan dengannya.” Jaxon menjelaskan panjang lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN