Pagi terasa sejuk, seperti biasa Wasjud selalu membantu Surti menyiapkan dagangannya. Saat Surti sudah berangkat untuk keliling menjajakan sarapan dari satu rumah ke rumah lain. Wasjud akan mencuci semua perlatan masak yang kotor. Kadang Wengi, sang cucu membantunya. Namun seringnya, Wasjud mengerjakan hal itu sendiri.
Dia akan menyuruh Wengi untuk menyapu rumah serta membersihkan daun-daun kering yang jatuh di halaman rumah karena tertiup angin semalam.
Jam enam biasanya Wasjud akan pamit pada sang cucu untuk berangkat ke sawah jika ada yang memintanya untuk bekerja. Kalau pun tidak, Wasjud akan menunggu sang istri pulang berjualan dengan mengerjakan hal apapun yang bisa menghasilkan uang halal.
“Bapak tidak ke sawah?” tanya Wengi yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
“Hari ini bapak di rumah, ada yang pesan dibuatkan keranjang ayam buat ditaruh di motor tuh,” jawab Wasjud yang membuat Wengi mengangguk karena sudah mengerti maksud sang kakek.
Wasjud memang kerap membuat aneka barang-barang dari anyaman bambu untuk dijual pada para tetangga atau masyarakat di dusun lain. Dia membuat kipas tangan, kukusan, keranjang, tampah atau apapun yang dipesan orang-orang.
“Aku berangkat, Pak.” Wengi meraih tangan Wasjud untuk diciumnya.
Tak jauh dari Wengi, Wati sudah berdiri dengan pakaian rapi dengan rambut yang sudah tertutup dengan jilbabnya.
“Pak, bisa tidak kalau Ibu gak usah ikut aku,” bisik Wengi yang berjinjit mendekatkan bibirnya ke telinga Wasjud, kemudian Wengi melemparkan arah pandangannya pada sang ibu.
Sungguh dia merasa risih karena Wati selalu mengikuti kemanapun Wengi pergi. Ke sekolah, ke madrasah, ke musala, bahkan saat Wengi bermain pun sang ibu selalu ikut dan berada tak jauh darinya.
Ibunya bagai bayangan yang selalu mengikuti kemanapun Wengi melangkah. Teman-temannya, bahkan sering meledek kalau Wati adalah bodyguard sinting Wengi. Kalimat bernada ledekan yang kerap membuat Wengi langsung merasa kalau kehadiran Wati itu sangat menyulitkan hidupnya.
“Ibumu itu sayang sama kamu, Nok. Dia tidak ingin kamu dalam bahaya. Makanya dia selalu mengikutimu,” kata Wasjud dengan begitu lembut.
Dia selalu memberi pengertian pada sang cucu kalau sikap over protective yang Wati tunjukan itu semata-mata karena besarnya rasa sayang Wati pada Wengi. tidak lelah juga Wasjud dan Surti menasihati sang cucu agar menerima bagaimanapun keadaan ibunya.
“Yo wis lah aku berangkat, assalamualaikum.” Wengi meraih tangan Wasjud dan menciumnya, kemudian langsung melangkah pergi keluar dari pagar rumahnya.
“Waalaikumsalam, hati-hati ya Nok,” pesan Wasjud melepas kepergian sang cucu.
Melihat Wengi sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah mereka, Wati pun segera mencium tangan sang bapak sebelum menyusul langkah sang putri.
“Hati-hati, Nak.” Wasjud memandang punggung Wengi dan Wati yang mulai menjauh dari rumah.
“Orang-orang menyebutmu gila, tapi kenapa aku begitu yakin kalau kamu tidak gila. Kamu salat, kamu bersuci. Sesekali aku pun lihat kamu mengaji, sesuatu yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh orang gila,” gumam Wasjud.
Entah kenapa, Wasjud merasa kalau putrinya tidaklah gila. Putrinya terlihat normal meskipun mulutnya tidak lagi bersuara dan berbicara. Hanya Wati sendiri yang bisa menjawab kenapa dia memilih jalan hidup seperti itu. Seperti ada sebuah rahasia besar yang tak pernah Wati ungkapkan pada siapapun.
“Wengi,” panggil Hendra yang juga baru keluar dari rumahnya.
“Bareng dong,” teriaknya sebelum mencium tangan Halimah dan mengucapkan salam pada sang ibu.
“Wati, sini main saja di rumah imah. Enggak usah ke sekolah,” ajak Halimah yang tentu saja dijawab gelengan kepala oleh Wati.
Semua orang di dusun Karang Anyes tahu kalau Wati tak pernah membiarkan Wengi sendiri kemanapun dia pergi. Wati kini tak pernah lagi mengamuk, dia terlihat lebih tenang karena memang sudah jarang Wengi menangis karena ledekan teman-temannya.
Wengi tidak ingin melihat ibunya mengamuk saat dia menangis karena salah satu teman yang meledeknya. Dia lebih memilih segera pulang jika ada perkataan yang begitu menohok sehingga membuat Wengi terkadang tak bisa membendung air matanya.
“Ibu di sini saja, gak boleh masuk sekolah,” pesan yang selalu Wengi ucapkan saat dia akan memasuki gerbang sekolah.
Setiap pagi Wengi selalu mendudukan sang ibu di bawah rimbunnya pohon mangga yang berada di sebelah kiri gerbang sekolah. Meskipun dia tidak suka kalau sang ibu terus mengikutinya, tetapi dia tidak tega kalau Wengi seharian duduk di bawah teriknya matahari.
“Ayo, Dra,” ajak Wengi pada Hendra setelah dia mencium tangan Wati.
Hendra pun melakukan hal yang sama dengan Wengi, dia mencium tangan Wati sebelum meninggalkan Wati duduk sendiri menatap punggung sang putri yang menggendong tas dan berjalan beriringan dengan Hendra saat memasuki gerbang sekolah.
‘Ya Allah, biarkan pohon mangga ini menjadi saksi kalau aku selalu duduk di sini menjaga anakku dari orang-orang yang mungkin menginginkannya terpisah dariku. Sungguh aku tak ingin dipisahkan dari Wengi, seperti mereka memisahkan aku dari ayahnya.’
Setitik air mata menetes dari sudut mata Wati, dia segera mengusapnya. Tak ingin ada satu orang pun yang tahu kalau dia menangis, meratapi dirinya yang merasa terbuang di tempat ini.
Wati mengambil sebuah botol plastik bekas yang teronggok di sampingnya. Dia juga mengambil beberapa kerikil dan batu kecil untuk dimasukan ke dalamnya, dia memasukan satu persatu kerikil dan batu ke dalam botol dengan bibirnya yang terus bergerak lirih.
Biarlah orang berpikir, Wati sedang melakukan hal gila dengan botol dan kerikil yang selalu dia kumpulkan di depannya. Wati sudah tidak pernah lagi peduli dengan pemikiran orang tentang dirinya. Biar hanya Allah yang tahu apa yang sebenarnya dia lakukan sembari menunggu putrinya pulang dari sekolah.
‘Ya Rabb, tunjukan padaku kalau suamiku belum kembali ke sisimu. Aku yakin dengan pasti keyakinanku bersumber darimu. Maka aku tak pernah sanksi kalau suatu saat Kau akan mengembalikan dia padaku dengan cara yang begitu mudah menurut-Mu,’ doa yang sama kerap Wati ucapkan usai memasukan semua kerikil dan batu ke dalam botol.
“Wati, nanti batunya ditumpahin di sini saja ya kalau mainnya sudah selesai,” ujar Minah penjual sosis yang mangkal di depan SD Wengi.
Wengi tersenyum dan mengangguk pada Minah. Minah memberikan sosis dan baso goreng pada tangan Wati.
“Cuci tangan dulu di sana, terus dimakan,” suruh Minah dengan lembut.
“Terima kasih,” ujar Wati sambil berdiri menuju keran air yang ditunjukan Minah.
Wati mencuci tangannya di sana, kemudian kembali duduk untuk memakan sosis yang diberikan Minah. Hampir setiap hari Minah atau para pedagang lainnya yang merasa iba melihat Wati akan bergantian untuk memberikan makanan padanya.
Mereka juga selalu menyuruh Wati melakukan hal yang sama. Perintah yang sudah dihapal Wati di luar kepala. Dia diminta menumpahkan batu dan kerikil di bawah pohon mangga, kemudian disuruh mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan serta membuang sampah di tempatnya.
“Wati ini minumnya, es tawar seperti yang kamu suka. Nanti buang sampah di tempatnya ya,” pesan Nining penjual es yang meletakkan satu plastik es tawar di samping Wati yang dia sandarkan pada akar pohon mangga.
“Terima kasih,” ucap Wati dengan senyuman.
Para pedagang yang mengenal Wati hanya bisa mendengar Wati mengucapkan kata terima kasih, selebihnya semua pertanyaan dan perintah yang mereka berikan pada Wati hanya dijawab dengan anggukan atau gelengan kepala.