Maaf Ibu

1129 Kata
Kehidupan Surti tak lagi terasa berat ketika Wasjud kembali bersamanya. Namun, kesedihan mendalam dirasakan Wasjud karena putri semata wayang mereka tak lagi normal selayaknya wanita seusianya. Meskipun begitu, ada keyakinan yang besar kalau suatu saat dia pasti akan sembuh. Keyakinan yang tertanam di lubuk hati Wasjud dan Surti karena memang dia yakini kalau anaknya tidak gila, tapi hanya memilih untuk disebut gila meskipun Surti tidak pernah tahu apa alasan kenapa Wati terlihat nyaman dengan dunianya yang sekarang. Kini Surti juga tak lagi menjadi buruh tani harian, Wasjud yang kini menggantikan tugasnya, sedangkan Surti setiap pagi akan menjual sarapan keliling. Nasi kuning dan lauk pauk disusun pada sebuah cepon besar yang di atasnya dikasih nampan berisi oreg, bihun dan sate puyuh, tangannya menenteng keranjang berisi kertas pembungkus nasi, karet, sambel dan serundeng kelapa. Dia akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain mulai jam setengah enam pagi dan biasanya kembali jam delapan setelah dagangannya habis. Kadang dia pulang lebih cepet atau lebih lambat. Sebelum kembali ke rumah dia selalu singgah di toko kelontong untuk berbelanja bahan-bahan untuk berdagang esoknya. Sesampainya di rumah, dia akan beristirahat sambil mengawasi Wengi dan Wati karena peralatan dapur selalu dicuci dan dibereskan Wasjud sebelum berangkat kuli ke sawah. Ucap syukur tak pernah hilang dari bibirnya, melihat perkembangan Wengi yang tumbuh seperti gadis seusianya. Kini Wengi sudah duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Setiap hari Surti membungkuskan sarapan untuk Wengi yang dia letakkan di meja dapur. Terkadang Wengi akan memilih sarapan di rumah, tetapi tak jarang dia akan membawanya ke sekolah jika di rasa perutnya belum terlalu lapar. Hanya saja kini tangis Wengi kerap terdengar setiap dia pulang dari sekolah. Wati yang tidak pernah jauh darinya, wati yang selalu menunggunya di depan gerbang sekolah. Wati layaknya ekor yang selalu membuntuti Wengi membuat si bocah geram. Dia kadang kasihan pada sang ibu yang kepanasan menunggunya, atau bahkan kedinginan karena kehujanan. Namun, benerapa teman yang selalu mengejek Wati gila dan memanggil Wengi anak orang gila membuat Wengi malu. Wengi kerap mengomel dan marah pada sang ibu, menumpahkan kekesalannya karena menjadi bahan ledekan teman-teman Wengi di sekolah "Bisa nggak sih ibu diam di rumah. Ibu tidak usah ikut ke sekolah. Aku malu diikuti ibu terus," omelnya siang itu. Wengi kemudian berlari mencari Surti ke kamarnya. Dia menangis tersedu, mengadu kekesalannya karena diledek anak orang gila. "Mak, tolong bilang ke ibu, ibu tidak usah ikutin aku lagi. Aku malu Mak. Teman-teman selalu ngatain ibu sinting, Wati gila, Wati edan. Aku kan kasihan Mak, tapi aku nggak bisa bela ibu," adu Wengi pada Surti di tengah isakannya. "Sabar nok, sabar. Kamu itu harta ibumu yang paling berharga. Kamu alasan dia tetap hidup. Dulu ibumu juga normal sebelum melahirkan kamu dan ayahmu meninggal di hari yang sama. Sabar nok ayu," nasehat Surti yang entah sudah dia ucapkan berapa puluh kali. "Kenapa ibu mesti lahirin aku kalau dia jadi gila. Mending aku gak usah lahir kalau mesti jadi anak orang gila ‘mak,” jerit pilu Wengi terdengar menyayat hati. "Husstt, jangan ngomong begitu nok, pamali. Allah itu tidak pernah salah menggariskan jalan hidup setiap hambanya. Ibumu gila, bukan berarti dia malapetaka. Sabar nok, insya Allah dia bisa membuatmu mudah masuk surga dengan baktimu padanya nok." Surti mengusap kepala Wengi. Mata Surti mulai berkaca-kaca menatap Wati yang berdiri di depan pintu kamarnya. 'Ya Allah, cucuku ini hanya bocah yang belum mengerti apa-apa. Bocah yang kerap tak bisa menahannya egonya. Ampuni tiap keluh dan amarah cucuku pada ibunya, jangan biarkan cucuku menjadi anak durhaka yang tak punya bakti pada orang tua gara-gara anaku, Wati gila,' doa Surti yang hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Tangannya terus mengusap kepala sang cucu. Berharap tangis Wengi segera usai karena bagaimanapun Surti tak tega menatap Wati yang terus berdiri menunggui anaknya tetapi tak berani mendekat. "Mak, kata Ustaz surga ada di bawah telapak kaki ibu. Bagaimana surgaku ‘mak? Ibuku gila, mana ada surga di bawah telapak kaki orang gila," cetus Wengi kemudian. Wengi mendongak menatap Surti yang duduk di tepi ranjang, sedangkan dia duduk di lantai dengan kedua tangan memeluk kaki Surti dan paha Surti djadikan tempat membenamkan wajahnya saat menangis. "Nok, cukup orang lain yang selalu memanggil ibumu gila. Meski pikiran ibumu kurang waras, dia tetap ibumu. Surgamu ada di bawah telapak kakinya. Baktimu akan dibalas dengan keridoan gusti Allah. Jangan nok … jangan jadi anak durhaka, meski ibumu seperti itu, dia tetaplah ibumu. Sayangi dia nok," jawab Surti. Surti menangkup wajah mungil nan cantik milik Wengi dengan kedua telapak tangannya. "Lihat Emak nok, meski ibumu gila, tak berkurang sedikitpun rasa sayang Emak padanya. Meski ibumu gila tak berkurang sedikitpun rasa sayangnya padamu. Sabar nok, sabar, hanya itu pesan Emak," tambah Surti. Dia kemudian menunjuk Wati dengan dagunya, membuat Wengi menoleh ke belakang. "Lihat, jangankan di luar rumah. Di dalam rumah pun, ibumu tak mau jauh darimu. Kamu alasannya tetap hidup. Kamu harta paling berharga baginya." Wengi kecil langsung berdiri dan berlari memeluk kaki Wati. "Ibu maafkan aku ibu," rengeknya. Wati hanya terdiam, pandangannya kosong. Dia mengerti keberadaannya di samping sang putri memberikan beban moral yang sangat berat. Namun, dia tidak mau sadar. Dia hanya ingin berada dekat dengan Wengi. Dia tak ingin kehilangan Wengi seperti dia kehilangan Bram, suaminya. Bram yang sehat wal afiat tiba-tiba hilang dan keluarganya menyatakan dia telah meninggal. Tidak, saat itu Wati tidak gila. Wati masih wanita cerdas meski datang dari kalangan keluarga serba kekurangan. Dia bukan wanita bodoh yang percaya begitu saja suaminya telah meninggal. Entah apa dan bagaimana, hingga dia memilih untuk jadi gila, mentidak-waraskan pikirannya. Membiarkan dirinya yang pintar hilang seperti hilangnya Bram. Meskipun demikian, Wati masih ingat gerakan salat, dia masih ingat Tuhannya. Dia kerap tampak seperti orang gila di luar. Namun, dia hanya akan diam, merenung, menyendiri ketika berada di dalam rumah.  Saat muazin mengumandangkan azan, mengajak setiap yang beriman untuk beranjak sesaat meninggalkan segala urusan dunia untuk tunduk dan menunaikan kewajiban lima waktu mereka. Bersujud, bermunajat dan berdoa pada sang pencipta. Wati akan ke kamar mandi untuk wudu kemudian salat. Itu yang membuat Surti dan Wasjud yakin anaknya tidak gila. Apakah Wati menginginkan hidup seperti orang gila agar bisa selalu berada dekat dengan Wengi? karena dia tidak mau meninggalkan Wengi sedetikpun. Surti tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Ada satu hal juga yang baru Surti sadari setelah Wasjud memberitahunya bahwa Wengi selalu salat taubat ketika dia habis mengamuk gara-gara menurutnya ada yang ingin mencelakakan Wengi. Meskipun pada kenyataannya teman Wengi tidak sengaja melakukan kesalahan hingga Wengi menangis. Sebelumnya Surti tidak menyadari hal itu karena setiap Wati usai mengamuk dia akan fokus pada Wengi. "Ibu, maafkan Wengi," ulang Wengi karena Wati hanya diam. Surti memberi isyarat agar Wati mengangguk. Wati pun menurut mengangguk. Itu membuat Wengi si bocah kecil bersorak, seolah lupa dengan keluhan dan tangis yang baru saja dia ungkapkan pada sang nenek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN