Bapak

1107 Kata
Hari terus berganti, minggu terus berjalan mencapai hitungan bulan. Tahun pun beralih seiring berputarnya matahari. Rembulan memancarkan cahaya temaram, mengalirkan rasa rindu yang kian membuncah. Mereka sering menyebut Wati gila. Namun, dalam benak Wati, ada satu kepastian yang selalu dinanti. Kembalinya Bram, laki-laki yang mengisi setiap ruang dihatinya. Laki-laki yang menitipkan benih yang lahir secantik Wengi, teman dia melewati setumpuk harapan dan penantian yang kini entah berada dimana. Mereka mengatakan Bram meninggal, tapi Wati tidak pernah percaya akan hal itu. Malam ini Wengi masih bermain ayunan di depan televisi. Wati dengan setia menemaninya. Bayinya kini tumbuh menjadi gadis cantik bermata setajam elang, lekuk hidung mancungnya persis sang ayah, dengan alis tebal dan bulu mata lentik. Kulitnya eksotis, jauh dari kata bersih, hidup seadanya dengan pengasuhan Surti yang kerap kali meninggalkan Wengi hanya berdua dengan sang ibu membuat kecantikannya tersembunyi. Wati selalu membawa Wengi duduk di batu besar yang berada di lapangan menjemur padi yang kini telah berubah menjadi pabrik penggilingan padi milik keluarga Marjuki. Namun, batu dan pohon mangga yang sering menjadi tempat Wati duduk bersama Wengi dibiarkan tetap ada, sejak Wengi bayi hingga kini usianya sudah lima tahun. Batu besar yang selalu digunakan Wati untuk duduk dan menantikan kepulangan sang suami yang menurutnya masih hidup dan akan mencari mereka. Suara pintu diketuk membuat Surti yang baru usai menunaikan salat Isya tergopoh-gopoh berjalan untuk melihat siapa tamu yang datang. Dia membuka pintu sembari menjawab salam sang tamu yang dari suaranya adalah seorang laki-laki. "Bapak?" Surti menutup mulutnya. Dia mengucek matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sang tamu menarik Surti kedalam pelukannya. Menumpahkan rindu yang teramat menggebu. "Maafkan aku Surti, maafkan aku baru menemukanmu," ucapnya terdengar pilu. Air mata Surti tak lagi bisa dibendung. Dia tumpahkan tangis yang selalu ditahannya. Halimah yang masih berdiri di samping Marjuki ikut meneteskan air mata menyaksikan momen mengharukan bertemunya Surti dengan sang suami yang telah terpisah hampir enam tahun. Wasjud bertemu dengan Marjuki di Jakarta. Wasjud yang berprofesi sebagai kuli panggul di pasar, kemarin sore membantu Marjuki menurunkan karung-karung beras yang dia bawa dari desa untuk dijual pada temannya Ridwan, pemilik toko grosir yang menyediakan bahan pangan di pasar induk Jakarta. Itu bukan kali pertama Wasjud bertemu dengan Marjuki. Namun, sore tadi Halimah menelepon sang suami memberitahu Surti tidak bisa bekerja di sawah mereka karena harus membawa Wati mengambil obat. Wati memang harus rutin mengkonsumsi obat yang diberikan pihak rumah sakit umum daerah. Pihak rumah sakit memberikannya secara cuma-cuma sebagai bentuk kepedulian pihak pemda pada warga di wilayah naungan kerjanya. Mendengar nama Surti dan Wati disebutkan Marjuki, Wasjud pun memberanikan diri bertanya langsung pada Marjuki. Dia memperlihatkan foto dirinya bersama Surti dan Wati ketika hari pernikahan sang putri. Foto itu tersimpan dengan baik di dompetnya dengan harapan bisa kembali berkumpul dengan anak dan istrinya. "Pak, maaf saya lancang. Surti dan Wati yang bapak sebut tadi saat menelepon itu sama tidak wajahnya dengan mereka?" tanya Wasjud dengan nada ragu sambil membuka dompetnya menunjukkan foto Surti dan Wati. "Iya, loh kok bapak bisa foto dengan mereka?" Marjuki bertanya balik karena merasa heran di ibu kota yang sangat jauh dari desa tempatnya tinggal ada seorang yang mengenal Surti dan Wati, bahkan ada foto mereka bertiga yang tampak sangat bahagia. "Alhamdulillah ya Allah." Wasjud sujud syukur seketika dengan melafalkan kalimat syukur berulang-ulang. Marjuki kemudian duduk di teras toko masih dengan kebingungan yang menyelimutinya. "Pak," tegurnya pada Wasjud. Wasjud malah meraih tangan Marjuki dan menciumnya berkali-kali. "Terima kasih, Pak. Terima kasih," ucap Wasjud dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih untuk apa pak?" Marjuki kembali bertanya untuk mencari jawaban dari kebingungannya. Bukan menjawab, Wasjud justru memeluk Marjuki dan kembali mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Beberapa orang yang berada di sekitar toko menatap heran pada mereka. "Pak ini istri saya surti dan Wati anak saya. Saya sudah dua tahun ini mencari mereka. Namun, mereka hilang tanpa jejak. Bahkan, rumah kami pun dibiarkan kosong. Para tetangga tidak ada yang tahu dimana mereka." Wasjud menceritakan awal mula penyebab terpisahnya dia dengan anak dan istrinya ketika memutuskan untuk menjadi TKI ke Arab Saudi. Hingga akhirnya tiga tahun kemudian dia kembali ke tanah air tanpa menemukan anak-istrinya di rumah. Dia mendatangi rumah besar tempat tinggal sang menantu. Namun, rumah itu sudah berganti kepemilikan. Akhirnya, Wasjud hanya bisa berpasrah diri dengan terus berdoa bisa menemukan keluarganya. Dia memutuskan menjadi kuli di pasar induk dengan harapan bisa bertemu dengan sang istri yang dulu sering berbelanja di pasar ini. Harapannya sia-sia, tetapi doa masih terus dia panjatkan. "Alhamdulillah, Pak. Mari bapak siap-siap ikut saya pulang, Mak Surti dan Wati tinggal satu dusun dengan saya," ajak Marjuki. Tanpa membuang waktu Wasjud langsung pamit untuk mengambil barang bawaannya di rumah dan meminta kesediaan Marjuki untuk menunggunya. "Dimana Wati Surti? Katanya dia sudah memiliki anak perempuan yang cantik." Wasjud merenggangkan rengkuhan tangannya pada sang istri. Dia menyapu pandangannya ke dalam rumah, tetapi keberadaan Wati yang terhalang tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang televisi dimana Wati dan Wengi berada membuat Wasjud tidak bisa melihat mereka. "Ada, mereka di dalam, Ayo masuk Pak," ajak Surti. "Ya Allah nak Halimah, Mas. Maaf Emak nggak tahu ada kalian," ucap Surti ketika menyadari keberadaan sepasang suami istri yang kerap kali membantu keluarganya. "Bapak ikut mas Marjuki ke sini," kata Wasjud memberitahu sang istri. "Ya Allah matur suwun, Mas. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian pada kami." Surti berjalan mendekati Halimah dan memeluknya. Halimah ikut terisak, suasana bahagia, tetapi terasa sangat mengharukan untuknya. "Amin. Amin Mak. Aku bahagia melihat Mak Surti kembali bertemu dengan Bapak." Halimah balas memeluk Surti. "Emak nangis, emak," teriak Wengi berlari mendekati Surti. Wasjud yang masih berdiri di depan pintu mencoba menerka gadis kecil yang berlari dan memeluk istrinya. "Wengi," panggil Wati yang mengikuti sang putri. Wasjud memutar badannya. Mata mereka langsung bertatapan. Tubuh Wati bergetar. Dengan terbata dia memanggil Wasjud. "Ba-pak, Bapak...," gagapnya. Wati mendekat, jemarinya mengusap wajah Wasjud. Memastikan bahwa yang berdiri di depannya sekarang benar-benar bapak yang telah lama tak dilihatnya. Wasjud mengangguk. Pelupuk matanya terasa panas, melelehkan air mata kerinduan pada putrinya. "Ini bapak Wati, bapak. Maafkan bapak," lirih Wasjud mengucapkan permohonan maafnya pada sang putri. Wati memeluk Wasjud, sang bapak cinta pertamanya. Bapak yang teramat menyayanginya. 'Bapak kembali, aku yakin kamu pun akan kembali, Mas,' batin Wati penuh harap. Orang menganggapnya gila dan Wati tak pernah menolak panggilan gila yang terlontar padanya. Tapi dia masih sangat mengingat orang-orang yang teramat dia cintai. 'Biarkan orang menganggapku gila. Biarkan mereka memanggilku si gila. Biarkan aku terlihat tetap gila. Agar aku bisa menyambut kedatanganmu dengan segenap cinta dan kewarasanku. Aku selalu yakin kamu masih bernapas. Kamu masih menginjakkan kaki di bumi yang sama. Kamu masih ada dan tetap mencariku. Aku yakin kita akan bertemu untu kembali bersatu selamanya.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN