Ngamuk

1223 Kata
Wati menggendong Wengi berjalan mengelilingi dusun Karang Anyes. Dia melihat beberapa anak di lapangan sedang asik bermain bola. Dia duduk di salah satu batu besar di bawah pohon mangga. Lapangan tersebut biasa digunakan untuk menjemur padi kala musim panen, terdapat empat pohon Mangga di setiap pojok sebagai penanda batas tanah. "Woy ada Wati gila," teriak seorang anak yang berbadan gembul bernama Samsul. Dia menunjuk ke arah wati duduk. "Samperin, yuk," sahut temannya yang sudah berlari ke arah Wati. "Eh jangan, nanti bi Wati ngamuk," cegah Sahrul kakak dari Hendra anak pak Marjuki. Namun, perkataan Sahrul tak dihiraukan Samsul dan ketiga teman yang lain. Sahrul langsung berlari ke rumahnya untuk melapor pada sang ayah karena sudah pasti Wati akan mengamuk dan melempari teman-temannya dengan apapun yang bisa dia gapai kalau sampai Wengi menangis karena tak nyaman dengan teriakan Samsul dan yang lain. "Wati gila, wati edan," teriak Samsul diikuti teman-temannya. Wati tidak menanggapi anak-anak yang terus berteriak gila ke arahnya sambil bergoyang-goyang. Dia masih memangku si kecil Wengi yang genap berusia dua tahun. Tangan mungil Wengi menggapai daun singkong yang sedang digerakkan oleh Wati layaknya wayang untuk menghibur sang putri. Wengi sesekali tertawa karena geli ketika ujung daun singkong mengenai wajahnya. Merasa tak ditanggapi Wati, teman-teman Samsul semakin berulah, Sahrul yang sudah kembali ke lapangan menarik tangan Yoga, temannya untuk menjauh dan berhenti mengganggu Wati. "Sul, balik yuk, kasian bi Wati," ajak Yoga pada Samsul dan yang lain. Yoga, Sahrul, Cecep dan Pian sudah berbalik ketika Samsul melempar kerikil ke arah Wati yang justru mengenai Wengi yang langsung menangis. Melihat Wengi yang menangis Wati langsung mengejar Samsul dan memukuli badan gembulnya bertubi-tubi. Marjuki yang baru tiba di sana bersama sang istri dan beberapa warga berusaha melerai. Halimah segera menggendong Wengi yang masih menangis dan duduk tergeletak di tanah, dekat dengan batu yang tadi diduduki Wati. Marjuki dan warga menjegal kedua tangan Wati agar berhenti menyerang Samsul yang sudah menangis histeris. Surti dan orang tua Samsul berlari mendekat. "Ya Allah, Wati edan kamu apakan anak saya, Surti harusnya anak kamu itu dipasung biar tidak membahayakan orang," marah Sarah, ibunda Samsul. "Maaf bu, maafkan Wati," mohon Surti memelas pada Sarah. "Wong edan dibiarin berkeliaran, tuh lihat anak saya dicakar sampe nangis gini," teriak Sarah penuh amarah pada Surti. "Kamu harus tanggung jawab Surti, saya laporkan anak kamu itu ke polisi biar dipasung sekalian," ancam Sarah masih penuh dengan ledakan amarah. Pak RT yang baru datang berusaha menengahi, dia bertanya pada warga rekonstruksi kejadian penyerangan Wati pada Samsul. "Saya sampai sini Wati sedang memukuli Samsul, ta...." "Tuh, Pak RT denger kan kata pak Marjuki. Memang sudah sering ‘kan Wati edan itu ujug-ujug ngamuk main pukul orang sembarangan," potong Sarah berapi-api tak terima anaknya jadi bulan-bulanan amukan Wati. "Sebentar Sarah, kamu dengerin dulu pak Marjuki ngomong sampai selesai," putus pak RT yang juga disetujui warga lain. "Saya dan istri langsung mengajak pak Tori ke sini begitu Sahrul memberitahu kalau teman-temannya berniat meledek Wati, jadi yang tahu kejadian sebenarnya ya mereka," tunjuk Marjuki pada Sahrul dan teman-temannya yang berdiri ketakutan karena Wati masih meronta-ronta dengan napas ngos-ngosan memandang nyalang ke arah Samsul meskipun kedua tangannya ditahan beberapa warga agar tidak kembali menyerang Samsul. "Yoga, Sahrul, Pian dan Cecep, tolong kalian ceritakan yang sebenarnya. Tidak boleh ada yang ditutupi," perintah Ustadz Soleh yang juga berada di sana. "Anu ustaz, iya, kami salah ngeledek Wati, tapi Wati diam saja," ungkap Cecep dengan suara gemetar. "Teruskan," pinta ustaz soleh. "Terus saya diajak Sahrul berhenti ngeledek Wati, saya juga ajak yang lain buat pulang, Wati kan duduk di sana diam saja diledek," terang yoga. "Eh begitu saya balik badan, Wengi jerit nangis dan Wati langsung nyerang Samsul, sambung Yoga menjelaskan kejadian. "Kamu tahu kenapa Wengi nangis?" tanya Pak RT pada Yoga. Kepala Yoga menggeleng, Sahrul dan Cecep juga menggeleng. "Itu pak, i-tu...." Pian terbata karena gemetar dan takut mengatakan yang sebenarnya. "Itu apa Pian? Jangan takut kamu ngomong saja. Ada pak ustadz dan pak RT yang melindungi kamu. Bapak 'kan sering ngomong kalau anak yang jujur balasannya pahala," bujuk ustaz Soleh pada Pian. "Itu pak Ustaz, Samsul lempar kerikil ke Wati tapi yang kena Wengi," beber Pian dengan suara bergetar. "Jangan bohong kamu Pian, tidak mungkin Samsul seperti itu," bela Sarah dengaan munuduh Pian yang berbohong. “Sudah, Bu, biar saya yang bertanya pada Samsul,” pinta Ustadz Pian yang kini mendekati Samsul yang masih terisak di samping Sarah. "Samsul, benar yang dikatakan Pian?" tanya Ustaz Soleh dengan suara lembut sambil menepuk pundak Samsul tanpa menanggapi kalimat Sarah yang membela sang anak. Bukan menjawab, tangis Samsul malah semakin keras. Itu sudah cukup menjawab pertanyaan dari Ustadz Soleh. "Sudah, sudah sekarang masalah sudah jelas. Lain kali jangan begitu ya, Nak. Nanti biar pengobatan Samsul saya yang bayar, sekarang kita bubar sudah sore pak, bu," lerai Marjuki. Sarah menyeret Samsul yang masih menangis histeris. Halimah yang menggendong Wengi berusaha membujuk Wati untuk tenang. Warga langsung bubar ketika Surti dan Halimah menuntun Wati pulang ke rumah. Tidak lupa Surti berterima kasih dan meminta maaf pada semua warga. Surti sebenarnya tahu kalau anaknya tidak mungkin ngamuk tanpa sebab. Namun, dia sadar kalau bagaimanapun dia ingin membela Wati kalau tidak ada saksi mata sudah dipastikan dia pasti kalah telak. "Sabar ya mak Surti," kata Halimah setibanya mereka di rumah sederhana Surti. "Wati, Wengi boleh saya mandikan, biar cantik, Wati juga mandi ya sama Mak Surti. Oke Wati?" bujuk Halimah sambil mengusap rambut Wati agar sedikit lebih rapi. Wati mengangguk, entah kenapa dia selalu luluh dan tidak bisa menolak apapun yang disuruh Halimah. Marjuki dan Sahrul sudah pamit terlebih dulu meninggalkan Halimah di rumah Surti. Dia takut si Hendra yang seusia dengan Wengi menangis saat bangun tidak mendapati siapapun di rumah mereka. Surti menuntun Wati ke kamar mandi untuk memandikan sang putri, tak terasa air mata mengalir di pipi Surti. "Maaf," ucap Wati penuh rasa sesal entah kenapa dirinya selalu tidak bisa mengendalikan diri kala Wengi sang putri dibuat menangis oleh orang lain. Emosinya kerap tidak terkontrol saat ada orang yang dicurigai berusaha menyakiti Wengi. Tangan Wati mengusap air mata sang Ibu. Surti memeluk putri semata wayangnya. Suaminya belum tahu keberadaan mereka di sini karena saat Linda membawa mereka ke sini saat Wati baru saja melahirkan Wengi. Namun, Surti meninggalkan surat pada tetangganya yang berisi alamat mereka di sini. Hingga saat ini, Surti masih berharap kalau suaminya akan datang menyusul mereka. Suami Surti, Wasjud sedang mengadu nasib menjadi TKI di arab saudi. Dia pergi membawa nomer telepon tetangga Surti. Tiga bulan setelah kepergian Wasjud, Surti belum juga mendapat kabar dari sang suami. "Udah cantik nih, Wengi," puji Halimah bermonolog pada dirinya sendiri yang sudah selesai memandikan dan mendandani si kecil Wengi. Wati juga sudah selesai mandi, Halimah menyerahkan Wengi pada Wati, dia menyisir rambut Wati yang masih sedikit basah. "Nah, Wati sudah cantik seperti Wengi, Imah pulang ya, Wati yang nurut sama Mak Surti," pesan Halimah pada Wati sebelum dirinya pulang. "Terima kasih, Nak." Surti memeluk Halimah, rasa haru menguar tanpa bisa dicegah, mendapatkan perhatian yang tulus dari Halimah membuatnya serasa memiliki keluarga baru. Saat Wati masih sehat, dia juga begitu sayang dan perhatian pada Surti. "Mak sabar ya, aku pulang dulu," pamit Halimah mencium tangan Surti. "Assalamualaikum," Sambungnya. "Waalaikumsalam." Surti menyusut air yang merembes di sudut matanya. Dia mengantar Halimah sampai ke pintu. Ditutup pintu dengan rapat sebelum dia kembali melihat Wengi dan Wati di ruang tengah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN