“Aw …, Hendra!” pekik Wengi kaget yang secara spontan langsung melingkarkan kedua lengannya di perut Hendra saat tiba-tiba Hendra menarik gas motornya. “Sorry, sengaja,” kekeh Hendra. Wengi kembali mundur dan memukul pundak Hendra yang masih terkekeh. “Menyebalkan,” ocehnya dengan mimik wajah cemberut. Tidak ada lagi pembahasan tentang seandainya yang sengaja digantung Hendra. Hendra belum berani untuk melanjutkan kalimat pengandaian yang begitu ingin dia ungkapkan pada Wengi. Wengi pun sungkan untuk kembali membahas hal tersebut hingga mereka berdua lebih memilih sama-sama diam sampai tiba di sekolah. “Alhamdulillah ….” Seruan terdengar menggema dan saling bersahutan dari mulut ke mulut yang sudah membuka surat pengumuman lulus. Wengi berpelukan dengan Cindi, air mata haru menyeruak

