Aku terjatuh melihat sendu wajahmu … Bahagialah … Senyummu begitu kunantikan … Duniamu tak sendiri, aku selalu ada meskipun tak kuasa menghapus dukamu. Namun, percayalah hati ini hanya menyimpan namamu hingga kau menjadi penyempurna agamaku. “Gila?” ulangku Cindi langsung memberikan kertas padaku, tak cukup sekali aku membacanya. Tentu saja tiap kata kembali aku bandingkan dengan surat-surat kaleng yang sudah diterima terlebih dahulu. “Dia juga sekolah di sini?” tebakku dengan suara berdesis karena tak yakin dengan apa yang ada di pikiranku ini. “Dia tahu segala tentang kamu dan itu bikin saya semakin curiga dengan Hendra,” celetuk Cindi yang menebak kalau semua surat yang diterimaku selama ini dari Hendra. Aku tak mau mengiyakan, tapi pikiran ini juga tak bisa mengelak tebakan Ci

