“Tapi bukan untuk menikahinya.” Alvin menggigit gorengan bakwan yang masih tersisa setengah potong lagi. Dia mengunyahnya sambil sesekali menoleh pada papahnya. “Enak loh, Pah.” Alvin memberikan sepotong bakwan pada Bram. Dia sama sekali tidak merasa bersalah mengatakan kalimat barusan pada papahnya. Bram menerimanya meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tanya kenapa Alvin tidak mengizinkan dia untuk menikah lagi. Bram menggigit bakwan di tangannya dengan ragu, dia mengunyah perlahan tanpa meresapi rasa bakwan yang dimakan. “Papah tegang banget sih, takut banget gagal nikah. Sudah kebelet pengen punya bini lagi ya, Pah,” tawa Alvin terdengar santer di keheningan fajar. Pemilik warung yang awalnya sibuk di dapur pun keluar saat mendengar suara tawa Alvin. “Wah maaf ya Pak, saya

