Pesan Surti

1591 Kata

“Wengi ….” Wengi mendongak melihat dengan netranya bibir Wati bergerak menyebut namanya dengan begitu merdu. Bukan berteriak seperti biasanya. “Ibu, maafkan aku ...,” mohon Wengi dengan menatap mata sang ibu penuh rasa penyesalan. Wati mengangguk, Wengi pun kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Suasana yang begitu mengharukan, membuat Lusi dan Surti yang menyaksikannya ikut meneteskan air mata, besar harapan Surti kalau sikap sang cucu bisa berubah. Dia sudah lelah, badan rentanya sudah tak lagi mampu menjaga putri dan cucunya. Lantunan suara muazin yang mengalun dengan merdu terdengar hingga ke rumah Surti. Lusi pun pamit undur diri dengan janji akan kembali esok hari. Wati masih ada di dalam kamar Wengi. Kamar yang selama ini tidak berani dia masuki sama sekali. Kama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN