“Wengi ….” “Iya, Bu.” Suara lembut dari seorang gadis membuat Mauris dan Bram seketika membalikan badan dan mencari suara yang tadi mereka dengar. “Wengi ….” Bram menatap sekeliling mencari gadis bernama Wengi yang tadi menjawab panggilan seorang wanita yang menyebut namanya. Namun, dia tidak bisa melihat wajah si gadis yang berada di sebuah ruangan bertanda koperasi. Bram melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. “Bapak, mari saya antar ke ruang ibu Eli, di sebelah sana” ajak Parjo, si satpam saat melihat kedua tamunya kembali berhenti melangkah. “Oh, maaf. Mari, Pak,” gagap Bram menanggapi ajakan satpam. Wengi … Wengi … nama itu terus terngiang di pikirannya hingga saat diskusi dengan kepala sekolah, Bram menyerahkan semuanya pada Mauris. Dia tidak tertarik sama sekali membaha

