Setelah keluar dari kamar Andra, Abi langsung menuju kamarnya. Dengan keadaan marah ia berjalan ke kamar mandi lalu meluapkan kekesalan sekaligus penyesalan pada cermin. Setelah itu, Abi berdiri di depan cermin yang ia pukul dengan nafas tersengal. kepalanya menunduk, memperhatikan darah mengalir ke wastafel yang keluar dari ruas-ruas jari sambil merenung dan menyesali perbuatan bodohnya telah melecehkan Aina sampai menangis. Abi sudah dibutakan pemikirannya sendiri. Bayang-bayang akan kejadian yang belum tentu terjadi, membuatnya mendahulukan emosi dari pada logika. Rasa takut kehilang dan kekhawatiran mendorong dirinya untuk segera memiliki Aina seutuhnya dan menulikan telinga dari penolakan Aina. Padahal, niat datang ke kamar Andra untuk melihat keadaan wanitanya. Namun, begitu meliha

