Kasih Sayang Juan

1950 Kata
“Iya, apa kamu masih bisa mengatakan dia gadis pintar?” “Apa mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan?” selidik Juan. “Itu yang mau aku tanyakan. Tidak hanya tentang hubungan kalian, Na juga tidak mengatakan kejujuran tentang kepemilikan apartemen ini yang jelas-jelas milikku.” “Tunggu! Bukankah Danu memang menyuruhnya untuk menyembunyikan identitas? Mungkin dia tetap tidak ingin ada yang tahu bahwa dia adalah adikku dan Danu," tebak Juan. “Jika dia menyembunyikan identitasnya dan tidak ingin berurusan dengan keluargaku atau aku, mungkin aku bisa mengerti karena memang sejak awal Danu bekerja, Na tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan Danu, bahkan aku sendiri tidak mengenalnya. Tetapi dia menyembunyikan identitas dan merubah namanya justru untuk berurusan dengan keluargaku dan menjadi bodyguard pribadiku, bukankah itu sedikit aneh? Apa tujuan dia ingin ada di lingkungan keluargaku dengan menjadi orang asing?” “Benar juga!” “Apa menurutmu masuk akal jika dia meminta perlindungan karena Danu sudah tidak ada?” tebak Andra “Jika dia meminta perlindungan, harusnya dia katakan bahwa dia adik Danu dan aku, agar yang lain bisa langsung melindungi sebelum aku datang.” “Itu yang aku maksud?” Juan langsung menatap Aina yang tetap nyaman tidur di lengannya sampai memeluk tubuhnya. “Apa pura-pura bisumu juga ada tujuannya? Aina, kamu masih terlalu naif untuk ikut campur pekerjaan Danu. Keluarga Prayoga saat ini sedang tidak baik. Jika kamu ingin ada dilingkungan keluarga itu karena mengkhawatirkan kehidupanmu, mungkin setelah Andra menyelesaikan masalah saat ini dan menyingkirkan Jenny beserta anak-anaknya, kamu baru bisa mendekatkan diri pada orang-orang baik di sana. Lagipula, tanpa kamu mendekatkan diri, keluarga Prayoga pasti akan menjamin keuanganmu sebagai dedikasinya pada Danu dan aku. Kamu tetap tidak perlu susah payah bekerja.” Juan membelai lembut kepala Aina. “Apa kamu sesayang itu dengannya?” tanya Andra saat melihat tatapan tulus Juan. “Aku sangat menyayangi dia, Dra. Aina dan Danu adalah orang yang benar-benar menerima kedatanganku. Mereka berdua orang yang membuat aku merasa memiliki saudara dan keluarga. Mereka juga yang merubah seorang preman dan residivis ini menjadi manusia yang baik dan penyayang. Mungkin jika aku menikah nanti, aku akan membawa dia ikut bersamaku, aku akan benar-benar mengganti peran Danu. Danu sangat tidak mau dia sedih dan kesepian. Maka, aku juga harus melakukan hal yang sama.” “Kamu melupakan jasa Papahku?” sindir Andra. “Tentu saja tidak!” “Kenapa hanya Danu dan Na yang kamu sebut?” “Karena kedekatanku dengan Tuan Bara tidak sedekat mereka!” “Juan, bicara tentang Papah, aku jadi teringat kedatangan Levin dan Lucas kemarin.” Andra meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai alas, padahal ia sudah menggunakan bantal “Kedatangan?” Juan kembali bertanya heran. “Iya mereka kemarin datang ke sini.” “Kemarin aku beberapa kali bertemu mereka, kenapa mereka tidak mengatakan apa pun? Padahal mereka tahu aku terus mencari keberadaanmu.” “Itu tidak penting untuk dibahas karena aku tidak membutuhkan bantuan mereka dalam hal apa pun.” “Untuk apa mereka datang ke sini?” “Mereka mencari stempel keluarga.” “Stempel? Tapi selama tiga hari di rumah, aku tidak mendengar kabar stempel hilang.” “Tidak mendengar? Apa itu berarti mereka menyembunyikan hilangnya stempel?” tebak Andra. “Atau mungkin kamu yang salah mendengar, Dra?” “Tidak, aku yakin mereka mencari stempel. Na juga pasti mendengar saat Levin dan Lucas membicarakan stempel,” tampik Andra. “Apa mungkin sebelum meninggal stempel ada pada Danu?” “Tidak mungkin Danu memegang stempel. Dia hanya pekerja dan bukan bagian keluarga Prayoga seperti aku dan Papah. Jika Papah meninggal, akulah yang seharusnya memegang stempel itu. Bahkan, anak-anak wanita serakah itu pun tidak punya hak untuk memegangnya.” “Itu kalau Tuan Bara meninggal secara wajar maka, stempel berada di keturunan sebagaimana mestinya. Tetapi, Tuan Bara meninggal secara tidak wajar dan Danu diberitakan orang yang membunuh Tuan Bara.” “Benar juga!” gumam Andra. “Dra, apa pikiranmu sama denganku?" "Apa?" "Menurutku, Danu adalah satu-satunya orang yang mengetahui atau mungkin menyaksikan kematian Tuan Bara, lalu dia berusaha menyelamatkan stempel itu dengan membawa pergi dan menyembunyikannya di sini, tetapi mereka berhasil mengejar lalu membunuhnya untuk menghilangkan jejak dan sekarang mereka mencari stampel itu ke sini?” “Aku bingung harus mengatakan apa? Jika benar Danu membawa dan menyimpan stampel itu di sini, tapi mayat Danu ditemukan di jalan tidak jauh dari rumahku dan sangat jauh dari apartemen. Itu berarti Danu baru saja pergi dari sana dan belum sampai ke sini." “Ah, aku lupa mengatakan padamu. Satu hari setelah kematian Tuan Bara, Pak Burhan—pengacara keluargamu datang dan mengatakan satu hari sebelum meninggal, Tuan Bara sudah membuat surat wasiat yang menyatakan seluruh perusahaan miliknya di bidang apa pun yang berada di Indonesia, 60% miliknya diberikan padamu dan 40% untuk ke empat anak Jenny.” “Apa kamu berpikir keluarga serakah itu benar-benar membunuh Papah karena harta?” tanya Andra sambil menoleh ke arah Juan. “Bukan hanya berpikir, tapi aku yakin.” “Itu berarti, tujuan kita saat ini tidak hanya mencari tahu kematian Papah, tapi jika mencari stempel” “Dan menjaga adikku!” timpal Juan karena tidak mau menyepelekan tugas menjaga Aina. “Itu tugasmu, bukan tugasku!” “Itu tugas kita berdua. Ingat! Danu mengabdi hingga akhir hayat pada Tuan Bara dan kamu harus ikut menjalankan kewajiban Danu meskipun dia sudah tidak ada. Bila perlu kamu menikahinya.” Andra mendengus mendengar usulan Juan. “Mana cocok aku menikah dengan wanita gila ini. Dia benar-benar menjengkelkan. Aku heran dengan kalian, bisa-bisanya mengangkat dia menjadi adik, bahkan sangat menyayangi.” “Kamu belum lihat sisi baiknya dan belum ada satu Minggu kamu bersamanya. Kesimpulanmu terlalu dini untuk mengatakan wanita menjengkelkan. Percayalah, dia tipe wanita penurut, manja, dan sangat bergantung pada pria yang ia pikir bisa melindungi, seperti sikapnya padaku.” Tiba-tiba Andra teringat tentang kesedihan tadi pagi saat ia mengatakan perihal pergaulan dan teman-teman. “Juan, sebenarnya bagaimana Danu menjaga Na? Apa Danu juga membatasi pergaulannya?” “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” “Tadi pagi saat aku menyuruh Na menanyakan suatu tempat pada temannya, dia langsung menunjukkan wajah sedih. Dia bilang Kakaknya melarang dia bergaul dengan siapa pun, apa itu benar?” “Benar! Danu tidak mengizinkan Aina bergaul dengan siapa pun semenjak Aina mengalami penyerangan delapan tahun lalu. Waktu itu Danu baru beberapa bulan menjadi bodyguard Tuan Bara dan Aina baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama. Aina dan teman-temannya tiba-tiba diserempet oleh sebuah minibus saat akan mendaftar ke sekolah baru hingga ia terpental dan mengalami luka paling parah diantara teman-temannya. Bersamaan dengan itu, ada yang mengirim foto pada Danu saat Aina tergeletak di pinggir jalan. Si Pengirim foto yang ternyata Tuan Putra—Direktur Utama PT. Indos Good, mengancam akan membuat Aina lebih celaka lagi jika ia terus melindungi Tuan Bara dan harus bisa membujuk Tuan Bara untuk menjadi investor di perusahaan tersebut sebelum Danu berhenti dari Tuan Bara.” “Semenjak itu, Danu benar-benar menutup rapat identitas Aina termasuk tidak bergaul dengan siapapun apalagi sampai membawa teman ke rumah. Alamat yang Aina berikan pada sekolah dan kampusnya pun alamat di kontrakan kecil sebelum bekerja pada keluarga Prayoga. Tuan Bara Prayoga yang mengetahui kabar itu langsung memasukkan Aina ke sekolah yang dia pilihkan, yang ternyata satu sekolah dengan anak pertama Jenny, yakni Abi. Setelah pulang sekolah dan juga pulang kuliah, Aina harus langsung pulang dan tidak boleh pergi ke mana pun. Bisa dibilang dunia Aina hanya aku dan Danu. Hingga saat ini, Aina tidak boleh pergi ke mana pun tanpa aku atau Danu. Bisa kamu bayangkan seberapa sedihnya Aina saat ini kehilangan seorang Danu, lelaki panutannya?” “Na satu sekolah dengan Abi?” “Iya, Abi adik pertamamu.” “Berengsek! Dia bukan adikku!” Andra melempar guling ke perut Juan, sebagai bentuk protesnya karena terima anak-anak Jenny disebut sebagai adiknya, meskipun memang benar adanya. Juan tersenyum sambil menangkis guling agar tidak mengenai Aina. “Kamu tidak bisa menolak takdir, Dra.” Keduanya terus bercerita hingga mengantuk dan akhirnya tidur bertiga dalam satu tempat tidur dengan Aina berada di antara mereka. ••••••••••••••••• Malam ini Abi tidak bisa tidur karena terus memikirkan Aina setelah ia melihat pujaan hatinya itu pergi dari apartemen bersama Juan—ajudan setia saudara sambungnya. Abi takut, kehadiran Juan di dekat Aina akan kembali menjadi penghalang untuknya bersama dengan Aina lagi. Padahal, kematian Danu seperti angin segera baginya, karena satu-satunya penghalang cintanya dengan Aina sudah tidak ada lagi. “Aina, Semoga Juan bukanlah penghalang untuk kita. Cukup Danu yang memisahkan kita dan aku tidak akan sanggup jika harus menjauhimu lebih lama lagi. Lima tahun ini sangat menyiksaku. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan tanpa bisa memeluk untuk meluapkan kasih sayangku. Jika aku bisa membawamu pergi, aku akan membawamu pergi dari Jakarta. Aku ingin kita hidup hanya berdua jauh dari keluarga Prayoga ini, agar aku tidak selalu mendengar tentang uang dan kekuasaan. Aku ingin memulai dari nol denganmu dan menciptakan dunia kita berdua tanpa campur tangan siapa pun. Aku ingin pengorbanan lima tahunku ini berbuah manis dengan hidup bersamamu,” monolog Abi sambil menatap foto bersama Aina saat Aina lulus Sekolah Menengah Atas. Tiba-tiba Abi teringat pertemuan pertama kali dengan Aina ketika pingsan dan ia menjadi salah satu orang yang ikut menggendong juga menemani di UKS. Ia sempat menertawakan Aina yang waktu itu masih mengenakan seragam SMP dengan kaos kaki berbeda warna, lima buah kuncir menghiasi kepalanya, dan make-up yang sengaja dibuat tebal dengan perpaduan warna-warna terang. Juga kertas besar yang menggantung di lehernya bertuliskan ‘Aku wanita cantik.’ Flashback On “Hei, kamu, siswa dengan lima kuncir di kepala, ikut aku!” panggil Abi selaku salah satu panitia MOS. “Aku, Kak?” tanya Aina sambil menunjuk dirinya. “Iya, di kelas ini siswi yang konsisten dengan lima kuncir di kepala sejak awal masuk hanya kamu.” “Baik, Kak.” Aina segera beranjak dari mejanya dan menghampiri Abi—Kakak kelas yang menurut siswi lain paling tampan. “Bawa tasmu sekalian!” perintah Abi lagi. “Baik, Kak!” Aina kembali ke mejanya untuk mengambil tas sesuai perintah. Kemudian Aina mengikuti Abi keluar dari kelas yang membuat panitia MOS dan siswa-siswi lainnya bertanya-tanya. Begitu tiba di ruang kelas kosong, Abi langsung duduk di kursi dan menyuruh Aina berdiri tegak di depannya. “Kamu tahu siapa aku?” tanya Abi. “Tahu, Kak,” jawab Aina dengan terus menunduk “Siapa?” “Kak Abiansyah.” Braaaak …. “Lihat aku jika sedang bicara!” Tiba-tiba Abi menggebrak meja hingga membuat Aina kaget. “Ba—baik, Kak,” jawab Aina takut dan langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Abi. “Kamu ingat aku?” “Ingat, Kak.” “Siapa aku?” “Kakak adalah orang yang menyuruh aku push up sebanyak 25 kali di hari pertama MOS lalu hari ke-dua Kakak menyuruh aku merayap di depan kelas selama dua menit. Di hari ke-tiga Kakak menyuruh aku berlari di tengah lapangan sambil berteriak. Di hari ke-empat kakak menyuruhku bernyanyi dengan suara kencang di depan kelas. Dan di hari ke-lima ini, aku tidak tahu kakak akan menyuruh apa.” “Ingatanmu bagus juga.” “Terima kasih, Kak.” “Berjongkok dan perbaiki tali sepatuku!” perintah Abi. Sebagai siswa baru, Aina tidak bisa membantah perintah senior. Ia langsung berjongkok di depan meja dan mengikat tali sepatu Abi yang masih terikat kencang. “Sudah, Kak," ujar Aina sambil berdiri. “Siapa yang menyuruhmu bangun?” “Maaf, Kak, aku tidak tahu.” Aina kembali berjongkok. Abi beranjak dari duduknya untuk duduk bersama di lantai, tepat di hadapan Aina “Jika aku bertanya masalah pribadi, kamu harus menjawab.” “Baik, Kak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN