Kisah Abi dan Aina

2513 Kata
"Kenapa banyak luka lecet di tangan dan wajahmu?" "Dua Minggu lalu aku mengalami kecelakaan, Kak." "Apa saat aku menghukummu untuk push up, luka di tanganmu semakin sakit." "Tidak hanya saat push up, saat merayap di lantai juga sakit, Kak." "Kalau begitu maafkan aku." "Tidak apa, Kak. Kakak tidak perlu minta maaf." "Di mana rumahmu?" "Dekat-dekat sini, kak." "Aku boleh datang?" "Maaf, Kak, tidak boleh!" "Apa kamu takut kekasihmu marah jika aku datang?" "Tidak, Kak. Aku hanya tidak suka ada yang datang ke rumahku." "Setelah masa orientasi ini selesai, apa kamu mau aku antar-jemput sekolah? Aku tidak akan datang ke rumahmu, tapi aku akan menunggu di dekat sana." "Tidak, Kak. Terima kasih tawarannya." "Aku serius!" Abi mulai kesal karena Aina terus menolaknya. "Aku juga serius. Aku sudah terbiasa pulang dan pergi sendiri." Abi mendengus mendengar jawaban Aina yang terus menolaknya. Ia ingin memaksa, tapi tidak mungkin karena takut Aina tidak nyaman. "Kamu bisa memijat?" "Bisa, Kak. "Kalau begitu pijat aku. Kakiku pegal setelah main basket tadi." Abi langsung meluruskan kakinya di depan Aina. Aina kemudian duduk dari posisi jongkoknya agar bisa lebih nyaman memijat Abi. "Apa makanan kesukaanmu?" "Semua makanan yang dimasak Abangku, pasti aku suka, Kak." "Abangmu pintar memasak?" "Iya, Kak." "Apa masakan ibumu tidak enak hingga kamu hanya menyukai masakan Abangmu?" Aina menghentikan sesaat pijatannya mendengar pertanyaan Abi, lalu kembali melanjutkan lagi sambil bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. "Kakak mau berapa lama aku pijat?" "Apa aku baru saja menyinggung perasaanmu?" tanya Abi karena paham saat Aina menghentikan gerakan dan tidak menjawab pertanyaannya. "Tidak, Kak." "Sejak tadi berbicara, aku tidak tahu namamu. Apa kamu tidak punya nama dan tidak ingin mengenalkan diri?" "Maaf, Kak. Kakak sejak tadi tidak bertanya, jadi aku tidak mengenalkan diri." "Kalau begitu siapa namamu?" "Namaku Aina Zahra, Kak." "Bisa kita berkenalan secara resmi." Abi mengulurkan tangannya. Aina langsung menghentikan pijatannya dan membalas uluran tangan Abi dan ramah. "Abiansyah." "Aina Zahra." "Maafkan semua hukumanku kemarin." Aina menunjukkan senyum manisnya pertanda tidak mempermasalahkan perbuatan Abi. "Tidak apa-apa, Kak. Kakak ada di kelas berapa?" "Sebelas E." "Ada di mana ruang kelas Kakak?" "Di kelas yang tadi kamu tempati." "Kelas Kakak nyaman juga. Kira-kira ruang untuk anak kelas sepuluh dimana, Kak?" "Di seluruh lantai tiga. Di atas ruang kelasku." "Itu berarti aku akan sering naik tangga setiap hari." "Jika kamu bisa terbang, terbang saja tidak perlu menaiki tangga. Lalu jika kamu ingin pulang, kamu bisa langsung lompat, lebih praktis dan hemat tenaga." Aina langsung tertawa mendengar gurauan Abi. "Kalau lompat, aku bisa langsung mati, Kak." "Belum tentu. Jika aku berhasil menangkap saat kamu melompat, kamu pasti akan tetap hidup." Aina tertawa lepas mendengar gurauan Abi lagi. "Kakak pikir aku bola basket?" Serunya. "Tidak hanya bola basket yang harus ditangkap, kekasih juga harus ditangkap agar bisa segera dimiliki." Abi mengucapkan kata itu agar Aina memahami maksud hatinya. Sedangkan Aina tetap menganggap perkataan Abi hanyalah gurauan. "Kekasih ditangkap bukan untuk segera dimiliki, Kak, tapi agar tidak kabur dibawa sahabat, karena jaman sekarang sahabat adalah pencuri paling ramah." "Benarkah? Apa itu pengalaman pribadimu?" "Bukan, Kak, aku belum pernah memiliki kekasih, aku hanya sering mendengar cerita teman-temanku yang kekasihnya sering direbut sahabatnya sendiri." "Kamu belum pernah memiliki kekasih?" "Belum, Kak." "Berapa usiamu?" "Dua bulan lagi, usiaku genap enam belas, tahun." "Benarkah, beruntung sekali kita berkenalan sekarang. Mungkin dua bulan lagi kita bisa menjadi lebih dekat dan aku bisa merayakan ulang tahunmu." "Tidak akan bisa, Kak." "Kenapa?" "Sejak kecil aku tidak pernah merayakan ulang tahun." "Waw, ternyata banyak poin plusnya aku mengenalmu sekarang." "Poin plus apa, Kak?" "Kamu tidak akan tahu sekarang," "Maksud, Kakak?" "Itu rahasia lelaki." Abi terus mengajak Aina berbincang sampai melewati jam pulang sekolah, alhasil mereka hanya tinggal berdua di di kelas. •••••••••••••• Selama dua Minggu setelah hari itu, Abi terus mendekati Aina dengan halus karena ia tahu, Aina tidak memiliki perasaan untuknya. Abi tidak memaksa Aina untuk mau pulang dan pergi bersamanya, ia juga tidak memaksa mendatangi rumah Aina. Tetapi cara Abi mendekati dengan cara-cara romantis yang menjadi idaman remaja kala itu seperti tiba-tiba menggandeng saat berjalan, menitip salam untuk Aina pada siapa pun, mendatangi kelas hanya untuk menanyakan jajan atau tidak, hingga duduk menunggu di depan kelas Aina saat jam pelajaran hanya untuk memberikan sebungkus roti. Di Minggu ketiga kedekatan mereka, Aina mulai nyaman dengan Abi dan menyambut perlakuan baiknya. Namun, itu tidak berlangsung lama, sampai Aina mendengar Abi berkelahi dengan ketua kelasnya yang Abi pikir menyukai Aina sama seperti dirinya. Padahal kedekatan mereka hanya sebatas bendahara dan ketua kelas. "Kenapa Kakak berkelahi dengan temanku?" tanya Aina di ruang kelas kosong setelah Abi dipanggil guru BP karena perkelahiannya. Aina marah karena merasa tidak enak hati pada temannya yang Abi pukuli dengan alasan mendekati dirinya. "Kenapa kamu mau didekati dia?" Abi balik bertanya sambil memegangi pipinya yang terasa sakit. "Kak, aku bendahara kelas, wajar jika aku dekat dengan ketua kelasku." "Tapi kedekatan kalian tidak wajar di mataku dan aku tidak suka!" "Apa hak Kakak mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh dekat denganku?" Abi menyunggingkan sudut bibirnya mendengar pertanyaan Aina. Ia segera bangun dari duduknya sambil mengambil tas ransel di meja dan menggantungkan di bahu kanannya. "Aku pikir kamu paham dengan tiga Minggu kedekatan kita, meskipun aku tidak mengatakannya. Lalu, untuk apa perkelahianku tadi, jika kamu tidak menganggap pendekatan yang aku lakukan? Kalau begitu aku minta maaf karena sudah banyak mengganggu waktumu dan terima kasih tiga Minggunya." Abi langsung pergi meninggalkan Aina sendirian. Aina hanya menunduk tanpa berniat mencegah kepergian Abi. Ia tahu dan paham pendekatan Abi, tapi ia tidak suka dengan perkelahian yang Abi lakukan. Menurutnya, kecemburuan Abi berlebihan dan tidak baik jika dijadikan kekasih. Maka, setelah hari itu hubungan Abi dan Aina mulai merenggang. Ditambah lagi masa skorsing selama dua Minggu yang harus Abi jalani sebagai hukuman dari sekolah atas perbuatannya, membuat Aina dan Abi secara total tidak ada interaksi lagi. Begitu selesai masa skorsing-nya, Abi kembali masuk sekolah dan tidak melakukan pendekatan lagi dengan Aina. Namun, ia tetap memberi perhatian padanya melalui orang lain, seperti saat ada yang menyampaikan Aina tidak keluar kelas saat jam istirahat karena tugas pelajaran yang belum selesai, Abi akan langsung membeli makanan dan menitipkan pada orang lain, bahkan saat Aina ada di UKS karena sakit nyeri haid yang dia alami, Abi seperti kebakaran jenggot dan bertanya ke sana-sini obat yang cocok untuk meredakan nyeri saat haid. Padahal tanpa ia sibuk mencari obat pun, Aina sudah ditangani oleh anggota PMR sekolah yang sedang berjaga di UKS. "Aina, nih, obat dari Kak Abi," ucap salah satu teman yang datang untuk melihat keadaannya. "Loh, Kak Abi tahu aku ada di UKS?" tanya Aina sambil menanggapi sebotol jamu khusus untuk nyeri haid. "Dari kamu baru masuk UKS, Kak Abi sudah tahu." "Siapa yang kasih tahu." "Tanpa dikasih tahu, pasti dia sudah tahu bagaimanapun keadaan kamu." "Ya sudah, sampaikan terima kasihku pada Kak Abi." "Ok!" Setelah itu teman Aina keluar dari UKS untuk melanjutkan pelajaran dan Aina melanjutkan istirahat sampai memandangi botol pemberian Abi. "Kak Abi tetap baik, meskipun sudah tidak dekat lagi," ucapnya. Ketika bel waktu pulang sekolah berbunyi, Aina terpaksa pulang terlambat karena masih merasa sedikit sakit di pinggangnya. Begitu keluar dari ruang UKS, sekolah sudah sangat sepi. Aina jalan perlahan sambil memegangi perutnya. Dan ketika tiba di gerbang sekolah, Aina melihat Abi sedang bersandar di motor matic-nya. Karena hubungan mereka yang sedang tidak baik-baik saja, Aina berjalan menunduk dan pura-pura tidak melihat Abi. Ia juga tidak mau menyapa Abi lebih dulu. Melihat Aina berlalu begitu saja, Abi segera menaiki motor dan menjalankan untuk menghadang jalan Aina. "Cepat naik!" perintahnya. "Tidak, terima kasih, Kak." "Wajah kamu pucat, aku takut kamu pingsan di jalan." "Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa menaiki kendaraan umum," jawab Aina dengan sopan dan melanjutkan lagi langkahnya. Abi segera turun dari motor dan langsung menarik tangan Aina untuk mau diantar pulang. "Kak Abi, lepas." "Aku akan melepas, jika sudah tiba di rumahmu" "Aku tidak mau diantar pulang!" "Kalau kamu tidak sedang sakit, aku tidak akan memaksa seperti ini. Jika kamu tidak suka aku dekati lagi, aku tidak akan mendekati lagi setelah hari ini." "Kak, aku bukan tidak mau Kakak dekati aku lagi, hanya saja aku memang benar-benar tidak ingin Kakak mengantarkan aku." Hati kecil Aina sangat ingin diantar pulang, tapi ia ingat pesan Danu, tidak boleh ada satu pun orang yang tahu alamat rumahnya. "Kamu masih marah karena aku berkelahi dengan temanmu?" "Tidak, Kak. Yang berkelahi Kakak, bukan aku, kenapa aku harus marah?" "Kenapa sikapmu berubah setelah aku berkelahi dengan temanmu?" "Kakak yang berubah, bukan aku." "Kamu yang mengabaikanku hingga membuat aku tidak percaya diri mendekatimu lagi." "Aku tetap sama saja, Kak." "Baiklah, kemarin adalah kesalahanku, tidak mengungkapkan perasaan karena aku pikir kamu mengerti tanpa aku katakan." Genggaman tangan Abi berpindah dari pergelangan ke jemari Aina. "Aku menyukaimu sejak aku menggendongmu ketika kamu pingsan saat upacara pembukaan MOS. Segala hukuman yang aku berikan selama masa orientasi hanya untuk mencari perhatian agar kamu mengenalku beda dari yang lain. Aku mendekatimu untuk memastikan kamu belum ada yang memiliki dan tidak sedang menyukai siapa pun. Sekarang, apa kamu mau menjadi kekasihku?" Tentu Aina sangat mau menjadi kekasih pria pertama yang membuat hatinya nyaman. Aina ingin berteriak agar Abi tahu besarnya kebahagiaan yang ia rasakan, tapi Aina masih malu-malu depan Abi. "Mau, Kak," jawab Aina sambil menunduk malu. Senyum bahagia langsung terbit di wajah Abi. Satu tangannya meraih tangan Aina yang bebas dari genggamannya. "Terima kasih mau menerima dan menjadi kekasihku. Aku janji tidak akan ada perkelahian lagi asal kamu bisa selalu terbuka padaku agar tidak menjadi kesalahpahaman di antara kita." "Iya, aku akan terbuka dengan Kakak. Aku akan mengatakan semua hal yang aku lakukan pada Kakak." Abi langsung merangkul bahu Aina untuk memastikan ia bisa bermesraan dengan Aina selain menggenggam tangan. Kemesraan yang dilakukan layaknya remaja SMA. Tidak ada pelukan atau ciuman untuk meluapkan kebahagiaan. Setelah itu, Aina langsung menaiki motor untuk pulang bersama Abi. Aina turun di depan gang tempat ia tinggal di kontrak dulu. Lalu setelah Abi pergi, Aina segera menaiki angkutan umum untuk pulang ke apartemen karena dari tempat ia turun ke apartemen cukup jauh. ••••• Satu bulan setelah mereka meresmikan hubungan, Abi mengajak Aina ke daerah perbukitan di Bogor untuk merayakan ulang tahun Aina yang ke 16. Abi mengajak pergi jam sembilan malam agar ia bisa merayakan ulang tahun Aina di jam dua belas malam. Aina bisa mengikuti ajakan Abi pergi malam hari karena Danu sedang pergi ke luar kota dan Juan sedang sibuk dengan Andra. "Selamat ulang tahun, Wanitaku," ucap Abi sambil memberikan kado kecil tepat di hadapan Aina yang sedang memandangi indahnya kota Bogor di malam hari dari perbukitan. "Kak Abi mengingat ulang tahunku?" "Tentu. Sudah sejak dua bulan lalu aku menanti momen ini. Aku senang bisa menjadi orang pertama yang merayakan ulang tahunmu. Aku ingin tahun-tahun berikutnya kita tetap merayakan ulang tahunmu dengan suasana intim seperti ini." "Terima kasih telah menjadi orang pertama yang merayakan ulang tahunku, Kak." Aina menyandarkan kepalanya di lengan Abi. "Semoga hubungan kita tetap seperti ini terus dan sayangmu semakin hari semakin bertambah untukku." "Pasti, Kak. Aku yakin rasa sayang ini pasti akan terus bertambah setiap hari." Abi langsung merangkul Aina sebagai bentuk terima kasihnya. "Buka kadonya sekarang!" "Baik, Kak." Aina langsung merobek kertas yang membungkus kotak perhiasan berbahan beludru berwarna merah itu. Mata Aina berkaca-kaca saat melihat dua kalung dengan liontin berbentuk hati yang bisa dibagi dua. "Kalung itu tidak mahal, harganya hanya ratusan ribu karena uang saku yang aku kumpulkan hanya cukup untuk membeli kalung itu," ucap Abi saat Aina menatap kalung pemberiannya. "Ini cantik sekali, Kak." "Kamu suka?" "Hmm." Aina mengangguk kegirangan. "Satu untukmu dan satu untukku." Abi langsung mengambil satu kalung dari kotak perhiasan yang masih Aina tatap untuk langsung dipakaikan ke leher Aina. "Kalung untukku akan aku jadikan sebagai gelang." Abi menyodorkan tangannya agar Aina memakainya. Aina langsung mengerti dan mengambil kalung yang masih berada di tempatnya untuk ia lilitkan di pergelangan tangan Abi. "Sudah, Kak," ujarnya. "Terima kasih," balas Abi. Keduanya saling tatap dengan binar kebahagiaan di mata masing-masing, hingga perlahan senyum keduanya hilang berganti dengan tatapan keinginan. Abi menangkup wajah Aina dengan satu tangannya. Ibu jarinya perlahan membelai lembut bibir Aina. Ia ingin menyentuh bibir itu, tapi takut Aina menolak. Ia hanya bisa meminta melalui sorot matanya yang menunjukkan pengharapan dan wajah yang perlahan mendekat. Aina dapat mengerti maksud Abi karena ia juga ingin Abi menciumnya. Maka, begitu wajah Abi semakin mendekat, Aina langsung memejamkan matanya pertanda ia memberi izin. Akhirnya, Aina dapat merasakan apa itu ciuman pertama. Ia juga bisa merasakan nyaman pelukan dari pria selain dari Danu dan Juan. Bersama Abi, Aina menemukan bahagianya memiliki kekasih. Dengan Abi ia bisa merasakan ciuman pertama. Abi mengajarkan banyak hal tentang cinta. Abi membuat hari-harinya berwarna, bahkan terkadang membuat logikanya hilang karena ingin terus bersama dengan Abi. •••••• Setelah hari itu, hubungan Aina dan Abi semakin mesra, Abi juga tidak segan-segan menunjukkan kemesraannya di sekolah. Tidak peduli jika Aina terkadang malu-malu saat ia tiba-tiba menggandengnya di depan umum. Selama menjalani hubungan, Abi dan Aina selalu menghabiskan waktu untuk berdua di kelas kosong atau di kantin sekolah dan jika Abi mengantarkan pulang, Aina selalu meminta diturunkan di depan gang biasa Abi menurunkannya. Hubungan keduanya terus berjalan seperti itu hingga Abi lulus sekolah. Tidak ada pertemuan di luar sekolah karena Aina takut Danu mengetahui ia memiliki kekasih. Kalaupun mereka bertemu di luar sekolah, itu berarti Danu dan Juan sedang berada di luar kota dengan tugas masing-masing. Satu bulan setelah Abi lulus kuliah, ibunya menikah dengan Bara Prayoga—bos di tempat dia bekerja. Tidak ada prasangka apa pun pada pernikahan ibunya, bahkan tidak terpikir sedikit pun bahwa pernikahan ibunya akan menjadi penghalang hubungannya dengan Aina. Setelah lulus sekolah, Abi dan Aina tidak bisa menghabiskan waktu berdua di lingkungan sekolah lagi, alhasil ia sering mengajak Aina ke berbagai tempat di Jakarta sebagai quality time mereka setelah Aina pulang sekolah atau jika ia sedang tidak ada jadwal kuliah. Kegiatan itu terus berlangsung selama satu tahun hingga Aina lulus sekolah. Dari seringnya Aina telat pulang ke apartemen setelah pulang sekolah, Danu mulai curiga lalu mencari tahu kegiatan Aina jika sedang di luar. Danu cukup terkejut, ternyata Adiknya menjalin kasih dengan anak dari istri baru bosnya. Tentu Danu tidak suka Aina dekat dengan anak dari wanita yang merusak rumah tangga orang sekaligus orang yang paling ia hindari dari Aina. Bahkan, Danu sudah men-judge Abi pria yang licik dan serakah hanya karena perbuatan ibunya. Maka, ia langsung mencegah Abi mendekati Aina lagi. Satu tahun ibunya menyandang status sebagai Nyonya Prayoga, Abi baru tahu kalau bodyguard dari ayah dan bodyguard saudara sambungnya yang pulang dari new York hanya untuk menegurnya adalah kakak Aina. Maka, dengan berat hati Abi langsung menghilang begitu saja dari kehidupan Aina dan merelakan hubungan yang sudah tiga tahun ia jalani terhenti karena ketidak setujuan kakak-kakaknya itu. Akhirnya Abi hanya bisa memperhatikan Aina diam-diam untuk memastikan Aina tidak menjalin kasih dengan siapa pun sampai ia mapan nanti. Rencana untuk kuliah di satu kampus yang sama pun, gagal sudah saat Danu memutuskan untuk menguliahkan Aina jauh dari kampus tempat kuliah Abi hingga akhirnya mereka benar-benar terpisah. Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN