Andra Prayoga

1136 Kata
Andra Pov Saat mendapat pesan dari Danu pagi tadi waktu New York, yang memberitahukan bahwa, Papah telah dibunuh, aku langsung pulang menggunakan pesawat pribadiku. Setelah menempuh perjalanan udara selama 21 jam, aku tiba di Indonesia pada sore hari. Tadinya aku ingin ke mansion Papah, tapi ternyata proses pemakaman Papah sedang berlangsung. “s**t! Kenapa orang-orang serakah itu tidak menunggu aku dulu? Aku ingin melihat Papahku untuk terakhir kalinya!” umpatku pada Juan ajudan setiaku. “Tuan sudah meninggal sore kemarin dan ini sudah 24 jam jenazah tuan disemayamkan. Karena sejak semalam kau sulit dihubungi Jadi, keluarga yang lain sepakat untuk memakamkan sore ini,” jawab Juan. “Tentu saja aku sulit dihubungi, aku sedang dalam pesawat dan tidak mengaktifkan ponselku,” jawabku kesal. Padahal Juan juga tidak tahu apa-apa karena dia juga bersamaku. “Selain itu ....” Juan terdengar ragu untuk menyampaikan info berikutnya. “Ada apa?” tanyaku penasaran. Juan menghela nafas terlebih dahulu sebelum berkata, “Jenazah Danu juga sudah siap untuk dimakamkan.” “Apa? Mereka juga membunuh Danu?” ujarku dengan, lantang. Aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa Danu juga meninggal. Padahal aku mengetahui berita kematian Papah darinya. Itu berarti Danu masih hidup saat Papah sudah tidak ada. “Apa jangan-jangan Danu tahu penyebab kematian Papah dan Danu ikut dibunuh!” tebakku. “Sepertinya begitu. Info yang aku dapat dari Reza—kepala bodyguard di mansion, Danu tertangkap basah mencuri barang-barang milik Tuan Bara. Kemudian karena panik, dia membunuh Tuan lalu melarikan diri hingga kecelakaan dan meninggal di tempat.” “Danu mencuri?” ujarku lagi yang membuat aku semakin tidak percaya. “Ya! Keluarga Papahmu menyebarkan berita seperti itu ke media. Jadi, mereka semua bebas dari tuduhan apa pun karena tersangka dan korban sudah sama-sama tidak ada.” “Benar-benar keluarga licik dan serakah!” umpatku kesal. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Juan di dengan tetap fokus mengemudi. Meskipun aku dijemput dengan iring-iringan beberapa mobil yang di kirim oleh istri Papahku, aku tidak ingin ada orang lain di dalam mobil selain aku dan Juan. “Tentu akan mencari tahu penyebab kematian Papah dan Danu,” jawabku tegas. “Baik, kalau begitu aku akan mencari tahu rencana mereka berikutnya,” ucap Juan. “Harus!” “Selain itu, kita juga harus menjaga adiku dan Danu karena pasti dia sendirian sekarang dan pasti sedang bersedih karena kehilangan Danu.” “Itu urusanmu dengannya!” Aku Andra Prayoga—pewaris dengan aset dan saham terbesar di keluarga Prayoga. Aku menguasai 80% seluruh kepemilikan harta apa pun yang dimiliki keluarga Prayoga. Karena aku adalah putra tunggal dari ayah dan ibu kandungku. Bahkan seluruh harta peninggalan Ibuku sudah mengatasnamakan aku, begitu juga dengan sebagian aset yang dimiliki Papahku. Namun, semua aset dan saham itu, belum resmi jika semua dokumen dan berkas belum mendapatkan cap stempel turun-temurun milik keluarga Prayoga yang disimpan Papah. Aku tidak memedulikan tentang harta, jadi aku tidak terlalu memburu stempel itu. Dan aku yakin Papah pasti pria yang amanah. Papah tidak mungkin memberikan hakku pada anak-anak tirinya. Tetapi sekarang berbeda, Papah sudah tidak ada dan stempel itu ada di mansion Papah. Bukan tidak mungkin, Jenny si Wanita serakah itu akan membuat dokumen palsu dan menggunakan stempel itu untuk melegalkan semuanya. Sepertinya, kembalinya aku ke Indonesia selain ingin mencari tahu kematian Papah, aku juga harus segera mengamankan stempel itu yang pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku meninggalkan Indonesia enam tahun lalu saat ibuku meninggal setelah mengetahui perselingkuhan Papah dengan sekretarisnya bernama Jenny—Single parent dengan tiga Anak. Papah Menikahinya tepat satu bulan setelah Mamahku meninggal dan wanita itu sudah hamil sembilan bulan. Saat itu aku sangat marah pada Papah lalu memutuskan pergi dan tinggal dengan Kakek-Nenek dari ibuku di New York dengan membawa Juan. Aku bahkan langsung memberikan apartemenku yang baru satu tahun aku tempati pada Danu. Aku benar-benar muak dengan keluarga penjilat itu. Setiap bulan Danu akan memberikan informasi apa pun tentang mereka tanpa sepengetahuan Papah. Danu dan Juan tadinya adalah dua bodyguard kepercayaan Papah. Saat bertemu Papah, Danu hanya seorang buruh pabrik dan Juan adalah preman yang sedang merampok Papah yang berhasil dilumpuhkan oleh Danu. Keduanya dijadikan bodyguard karena sama-sama membutuhkan pekerjaan yang lebih layak delapan tahun lalu. Baik Juan ataupun Danu, sama-sama memiliki jiwa pengabdian yang tinggi dan kejujuran hingga Papah sangat percaya pada mereka berdua. Bisa dibilang aku sangat beruntung memiliki ajudan yang lambat-laun merangkap menjadi sahabat terbaikku, karena kedekatan kami yang hampir setiap detik selalu bersama. Selain itu, Papah pasti akan menegur Juan jika tidak tahu hal terkecil sekalipun tentang aku saat Papah menanyakan kabarku. Setelah tinggal di New York, hubungan aku dan Papah memang amat sangat renggang bahkan, satu tahun satu kali aku berkomunikasi dengannya, itu pun karena Juan memaksa. Selebihnya Juan yang menyampaikan semua informasi tentang aku pada Papah, mulai dari kesehatan, pekerjaan, hingga percintaan. Aku sebenarnya tidak membenci Papah, aku hanya kecewa dengan tindakan Papah yang sudah membuat Mamah sakit hati hingga meninggal dan membawa istri barunya tinggal bersama di rumah yang dibangun bersama Mamahku. Aku tidak habis pikir, apa membuat Papah begitu tergila-gila pada wanita licik itu. Kini, aku menyesal telah jauh dengan Papah, aku tidak menyangka wanita itu tega membunuh suami yang harusnya ia jaga hanya demi kekayaan. Setelah tiba di Indonesia, aku langsung menuju ke pemakaman Papah. Rencananya setelah pulang dari makam, aku akan tinggal di apartemen yang ditempati Danu selama satu bulan sambil menunggu mansion Papah direnovasi untuk memperluas kamar pribadiku, karena aku tidak mau banyak berinteraksi dengan wanita licik itu berserta anak-anaknya. Selain itu, Juan juga ingin menemui adik kesayangannya sekaligus adik Danu yang sudah ia tinggalkan karena ikut denganku, yang tidak aku ketahui di mana tempat tinggalnya, dan tidak penting juga untukku. Juan dan Danu memilik satu adik perempuan yang tidak aku ketahui identitasnya karena memang mereka harus menyembunyikan keberadaan wanita itu demi keselamatannya dari musuh dan pesaing bisnis keluargaku. Jadi menjaga dia bukanlah salah satu misiku pulang ke Indonesia. Begitu tiba di pemakaman, aku melarang Juan dan beberapa bodyguard mengikuti sampai ke makam dan cukup menunggu di dekat mobil saja. Aku ingin sendirian meratapi kepergian Papah sekaligus penyesalan karena sudah mengabaikan Papah dengan merenung di samping makamnya. Rasa kecewa yang sudah aku pelihara enam tahun lamanya, kini hilang bersama tetesan air mata yang keluar begitu saja saat aku menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama pria yang menjadi panutanku sejak kecil, hingga masalah percintaan membuat aku marah padanya. “Pah, kenapa Papah harus memilih wanita yang salah? Kenapa dulu Papah lebih memilih dia dan menyakiti Mamah? Jika Papah menjadi pria setia, mungkin akhir hidup Papah tidak akan seperti ini. Maafkan segala kesalahanku, Pah. Aku tidak pernah membencimu. Aku hany—“ Aku tidak dapat melanjutkan perkataanku saat bayangan seseorang berdiri tepat di belakangku dan mengatakan “Maafkan aku, Tuan.” Belum sempat aku melihat wajahnya, sebuah kayu besar mengenai tengkukku dengan sangat kencang hingga kesadaranku hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN