Pura-pura Bisu

1154 Kata
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Aina sudah dua puluh menit duduk di samping Andra menunggu dia siuman dengan buku kecil di sampingnya dan pulpen karena ia akan pura-pura bisu agar mendapat pekerjaan dari Andra. “Hei, ayo bangun! Kenapa ketika aku menunggumu, kamu tidak sadar juga?” tegur Aina. karena bingung apa yang harus dilakukan, Aina memperhatikan dengan seksama wajah Andra. Jari telunjuknya dengan lembut berjalan di tulang hidung Andra. “Hidungnya mancung sekali. Ini hidung Pinokio atau hidung Tuan Andra? Apa waktu kecil Anda sering berbohong hingga begitu dewasa hidung Anda semancung ini?” monolog Aina. Puas memperhatikan hidung, punggung jari-jari Aina membelai pipi Andra. “Kulitnya lembut dan putih sekali. Aku sebagai wanita insecure melihat dia.” Kemudian Aina menyandarkan dagunya di d**a Andra untuk melihat lebih dekat. “Ternyata ada pria tampan selain Bang Danu, Kak Juan, dan Kak Bi di mataku. Aku pikir mereka sudah paling tampan ternyata ketampanan Anda mengalahkan mereka. Tapi sayang, Anda berasal dari keluarga jahat, jadi percuma saja wajah tampan jika hati Anda jahat!" Tiba-tiba Aina mengerutkan keningnya saat teringat sesuatu. “Tunggu! Biasanya pria tampan dadanya berbulu, apa d**a Anda juga berbulu?” Aina mengangkat wajahnya dan langsung membuka kancing kemeja Andra hingga ke pusar hanya untuk melihat bulu dadanya. “Wah … bersih sekali. Apa itu berarti nafsu seks Anda kecil?” ujar Aina sambil tertawa karena ia pikir pria dengan banyak bulu di dadanya memiliki gairah seks yang besar. “Apa jangan-jangan Anda impoten?” Aina menutup mulutnya agar tidak tertawa lepas. Seketika pikiran konyol merasuki otaknya dan ingin melihat ukuran ‘bawah’ Andra. “Apa itunya sekecil nafsunya?” ujarnya sambil menatap resleting celana Andra. Dengan perlahan Aina menggeser kedua tangan Andra yang terikat dan meletakkan di d**a agar ia bebas membuka ikat pinggang dan pengait celananya. Ketika akan membuka resleting celana bahan yang Andra pakai, wajah Aina bersemu merah. Ia malu sendiri karena akan melihat organ intim pria untuk pertama kalinya. “Kak Bi, maafkan aku karena bukan ‘milikmu’ yang pertama aku lihat,” ujarnya sambil menurunkan resleting celana Andra. Aina memejamkan mata sekencang mungkin seolah resleting celana Andra adalah bom yang akan meledak jika sampai ke pangkalnya. “Apa yang kamu lakukan?!” bentak Andra sambil menyingkirkan tangan Aina dengan tangan terikat. Andra sangat terkejut saat melihat kancing kemejanya sudah terbuka begitu ia membuka mata. Lebih terkejut lagi saat pengait celananya sudah terlepas dan tangan seorang wanita berada tepat di bagian bawahnya. Tentu kesadaran Andra yang menurut Aina sangat tiba-tiba, membuat ia terkejut, malu, dan panik. Ia langsung mencari letak kertas dan pulpen yang sudah ia siapkan sejak tadi, lalu membantu Andra duduk sebelum menulis. "Maaf" tulis Aina di kertas yang ia tunjukkan pada Andra. Andra mengerutkan keningnya saat wanita yang tidak ia kenal meminta maaf melalui tulisan. “Apa dia tidak bisa bicara?” pikirnya. Aina kembali menulis di kertas untuk ditunjukkan pada Andra. "Tadi saya hanya ingin membersihkan celana Anda" tulisnya berbohong, karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Andra “Apa membersihkan celana harus membuka semua pakaianku?!” Aina kembali menulis untuk mengarang kebohongan. "Baju Anda juga kotor!" Andra membaca tulisan Aina sambil mengerutkan keningnya dan menatap Aina dengan curiga. “Apa kamu sering melakukan ini pada pria?” "Maksud Anda?" “Ck! Bodoh sekali, begitu saja tidak mengerti!” celetuk Andra. “Apa kamu sering menyekap pria seperti ini dan memperkosanya saat tidak sadarkan diri?” Seketika wajah Aina berubah kesal dengan bibir mengerucut. Jika ia sedang tidak pura-pura bisu, mungkin akan langsung memaki Andra dengan mengabsen semua nama binatang yang biasa digunakan untuk mengumpat. Aina kembali menulis di kertas dengan wajah kesal. "Tolong jaga bicara Anda, Tuan, saya bukan wanita seperti itu!" Andra menyunggingkan sudut bibirnya membaca tulisan Aina. Meskipun hanya tulisan, tapi Andra tahu Aina tersinggung dengan tuduhannya. Ditambah dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan. “Kamu membawa aku ke tempatmu lalu berkali-kali membiusku dan saat aku membuka mata, kamu sedang melucuti pakaianku. Lalu kamu wanita seperti apa?” "Sudah saya bilang, saya ingin membersihkan pakaian Anda!" “Alasanmu tidak masuk akal!” "Saya memang tidak berbohong!" “Lalu untuk apa kamu menyekapku? Tidak mungkin kamu melakukan ini hanya karena ingin membersihkan bajuku, kan?!” "Saya ingin bekerja pada Anda." “Apa?!” pekik Andra saat membaca tulisan yang Aina tunjukkan. Ia terkejut dengan permintaan wanita yang tidak ia kenal ini. “Kamu bisu dan ingin bekerja padaku, kamu pikir aku pemilik panti sosial?” "Justru karena bisu, saya ingin bekerja pada Tuan. Saya sudah melamar ke mana pun, tetapi tidak ada yang mau mempekerjakan seorang wanita bisu." “Kenapa tidak jadi wanita panggilan saja?” celetuk Andra dengan tatapan mengejek. Aina menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya. "Wanita panggilan di Jakarta sudah banyak, jadi saya tidak akan laku." “Atau kamu bisa menjual ginjalmu.” "Saya terlalu sering makan mie instan, jadi ginjal saya tidak bagus untuk didonorkan." “Mungkin kamu bisa menjadi simpanan pria beristri. Wajahmu juga tidak terlalu jelek,” usul Andra lagi. "Saya bisu dan tentu tidak bisa mendesah. Mana ada pria yang mau dengan wanita yang tidak bisa mendesah?" Andra tersenyum kecut membaca tulisan Aina. “Tapi aku tidak bisa memperkerjakan siapa pun karena memang aku tidak membutuhkan pekerja.” "Pekerjakan saya sebagai bodyguard. Saya akan menjaga dan melindungi Anda. Saya bisa bela diri, meskipun tidak terlalu pandai, tapi jika Anda menerima saya, saya akan memperdalam ilmu bela diri saya. Selain itu saya adalah adik dari bodyguard profesional, jadi saya tahu banyak cara melindungi majikan saya." “Apa?!” pekik Andra kesekian kalinya saat membaca tulisan Aina. Belum hilang keheranan sekaligus keterkejutannya saat Aina ingin bekerja padanya, kini ia kembali dibuat geleng-geleng kepala dengan wanita asing yang ingin jadi bodyguardnya. “Kamu ini gila atau apa? Apa kamu tahu siapa aku? Apa tubuh kurusmu bisa melindungi aku dari serangan musuh?” "Tuan adalah Andra Prayoga putra pertama dari Tuan Bara. Saya menawarkan diri jadi bodyguard Anda karena saya yakin bisa melindungi Anda. Bukankah sangat jarang ada bodyguard seorang wanita? Saya bisa menyamar sebagai apa pun untuk memanipulasi keadaan jika dibutuhkan. Bakat terbaik saya adalah pandai menguping pembicaraan orang dan keunggulan saya, yakni bisa menyimpan rahasia dengan aman. Saya juga orang yang kompeten dan profesional dalam bekerja. Jadi, jika Anda memperkerjakan saya, Anda mendapat banyak keuntungan dari keunggulan saya." “Pandai menguping kamu bilang bakat?” "Menurut saya, itu termasuk bakat." “Tapi aku tidak butuh bakat dan segala keunggulanmu!” "Kalau begitu maaf jika saya bermain kasar!" Aina beranjak dari duduknya setelah Andra selesai membaca tulisannya untuk mengambil pistol di lemari Danu dan langsung menodongkan ke kepala Andra. “Kamu mengancamku?” Andra tersenyum kecut saat pistol tepat berada di keningnya. Jika tangannya tidak terikat, mungkin ia sudah memelintir tangan wanita bisu di hadapannya ini. "Ini terpaksa saya lakukan karena Tuan menolak saya!" Aina menulis dengan satu tangannya tanpa menurunkan pistol dari kening Andra “Jika aku tetap menolakmu, apa kamu akan menembakku?” "Mungkin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN