Penghianatan
Dengan riang Daisy melangkah di lobby kantor milik tunangannya, senyum Daisy selalu terukir diwajah cantiknya itu, dengan menenteng lunch box di tangan kanannya Daisy membalas sapaan para staf kantor yang mengenalnya.
Daisy atau lebih akrab disebut Sy merupakan tunangan dari seorang CEO BRGroup bernama Arsya Brahmantyo, sementara BRGROUP merupakan milik ayah Arsya yakni Farhan Bramantyo.
Daisy memang jarang keluar rumah, namun kali ini mumpung ibut tiri dan ayah nya sedang ada diluar kota, Sy berencana membuat kejutan untuk sang kekasih dengan membawakan makan siang buatannya, menggunakan dress ping pucat dengan aksen bunga sakura membuat Sy tampak manis sekali hari ini.
Ting
Lift yang di naiki nya telah sampai di lantai 30 tepat di lantai ruangan CEO, berjalan dengan perlahan Sy mengkerut bingung karena meja sekretaris kosong padahal ini baru jam setengah 11 siang.
"Ah mungkin Gina sedang ke kamar mandi" batin Sy.
Meneruskan langkahnya menuju ruangan berpintu coklat tua bertuliskan 'CEO' membuat senyum Sy makin mengembang, namun makin dekat jarak Sy ke arah pintu ruang kerja Arsya, makin melambat pula langkahnya, jantung Sy berdetak tak nyaman, seperti ada tikaman ribuan jarum di hatinya, samar-samar Sy mendengar suara desisan di ruangan itu, makin dekat makin jelas, suara d***h dan lenguh*n kian jelas, seluruh tubuh Daisy gemetar dan fikirannya serasa kosong, badannya limbung saat suara menjijikkan itu makin jelas masuk ke telinganya, pintu didepannya tak tertutup rapat.
Brak
Dengan air mata menggenang dan dengan sisa kekuatan yang ia punya, Daisy membuka pintu itu dengan kasar.
Seketika itu pula langit seakan runtuh menimpanya, di sana di sofa besar ruang kerja Arsya, terdapat dua manusia berbeda jenis sedang melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan oleh suami istri.
Hera Maharani, gadis yang merupakan adik tirinya itu sedang b*****a dengan calon suami Daisy. Tatapan keduanya terpusat padanya karena terkejut, Arsya segera mendorong tubuh Hera dari pangkuannya berusaha dengan cepat memebenahi celananya, sungguh demi apapun gelagat kepanikan mereka terlihat menjijikkan dimata Daisy.
Dengan air mata yang makin meluruh, dengan tenaga yang seolah terkuras, Daisy melemparkan lunch box di tangannya ke arah mereka berdua sehingga Arsya terkena lemparannya dan isi kotak itu berhamburan mengenai Hera yanga da disampingnya.
Bruk
"Awh, dasar wanita s**l beraninya kau!" pekikan itu keluar dari mulut Hera, adik tiri yang ia sayangi yang ternyata menikam nya dibelakang.
Arsya menatapnya panik, namun pekik kesakitan Hera mengalihkan perhatian pria itu.
Daisy mundur dua langkah menolak percaya akan kejadian dideoan matanya ini, ia kemudian berlari menjauh dari sana, badannya limbung namun ia terus berlari dan mencapai lift, dengan tangan gemetar ia menekan tombol lift dan sebelum pintu tertutup ia masih menyaksikan ke arah ruangan Arsya dan pria itu sama sekali tak mengejarnya membuat kesakitan lain dihati Daisy saat ini.
Entah bagaimana caranya secara tak sadar Daisy telah sampai di basement dan melanjutkan langkahnya ke arah mobilnya, segera masuk kedalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi, tangisnya pecah disana, semua bayangan kebersamaan mereka terasa bagai kaset rusak yang terus berputar dimatanya.
Kebersamaan saat bersama Arsya terbayang dimatanya, saat mereka menghabiskan waktu ditaman setelah acara pertunangan mereka 6 bulan lalu.
"Sayang, kamu mau pernikahan yang seperti apa?"
"Aku ingin pernikahan sederhana namun bermakna"
Arsya kemudian memeluknya seraya terkekeh, mencium puncak kepala Sy dengan sayang.
Lalu kilasan keakraban antara dirinya bersama Hera terlintas.
"Kak, Hera lagi deket sama cowok tampan kaya loh"
"Wah, beruntungnya pria itu bisa deketin adikku yang manis ini"
Pujian Sy untuk adik tirinya sangat tulus, mereka terkekeh dan berpelukan. Namun setiap Sy berkata lebih jauh Hera selalu tersenyum misterius.
"Kapan nih dibawa kerumah"
"Nanti aja kak, lagian keluarga udah kenal kok"
"Aduh jadi makin penasaran deh"
Namun Hera hanya akan tersenyum tipis seraya menatap nya aneh.
Larangan ibu tirinya kini membuat Daisy paham ternyata ada yang mereka sembunyikan selama ini, sementara ayahnya sangat penurut terhadap istri barunya itu, padahal walaupun ibu tirinya selalu memberlakukan ia seenaknya, namun Sy selalu menurut.
"Daisy gak usah lanjut kuliah, lagian kan setelah lulus SMA sudah langsung tunangan toh ujungnya nikah juga, belajar aja jadi istri yang baik" ucapan Merisa yang tak lain ibu tirinya membuat ia terdiam, namun kemudian menurut karena ingin belajar menjadi istri yang baik kelak.
Terlebih ternyata Merisa sudah mengadukan hal itu kepada ayahnya dengan dalih itu adalah keinginan Daisy sendiri, sehingga Aryo Hermawan sang ayah menyetujui nya saja.
"Daisy! kamu ngapain aja sih dirumah, cepetan beres-beres jangan malas-malasan!" perintah ibu tirinya kadang membuat Daisy kesal, namun karena dukungan dan senyuman dari Hera ia kemudian mengerjakan tanpa banyak bicara, sekarang ia sadar bahwa Hera hanyalah seorang aktris berbakat selama ini.
Tangis Daisy semakin menjadi, genggaman tangannya pada setir mengerat, entah akan pergi kemana ia pun tak tahu, handphonenya terus-menerus berdering tanda telpon masuk, ia tak peduli ia hanya ingin lari dari semua ini.
Sampai pada akhirnya ia semakin tak memperhatikan jalan, masih tidak memperlambat laju mobilnya ia tak menyadari ada truk besar bermuatan melaju kearahnya.
"Apa! tidak!"
Terlambat, Sy terlambat menghindari kecelakaan maut itu.
Ciiiiiitt Brakkkkk
Mobil Sy menabrak truk besar didepannya, mobilnya terlempar berputar tak terkendali dan berguling sejauh belasan meter hingga terbalik, pecahan kaca dan himpitan remukan mobil menimpa tubuh Sy, bau anyir tercium disana karena darah telah berceceran ditubuhnya, Sy tak dapat menggerakkan tubuhnya, ia hanya bisa mengedipkan matanya dua kali sebelum darah mengalir dari kepalanya dan menutup penglihatannya, asap terlihat di mobil Sy kemudian terdengar samar riak jeritan orang-orang yang berusaha menolongnya.
"Ayah... ibu... " Lirih Sy disisa tenaganya, bayangan kebersamaan ia dengan ayah dan almarhumah ibunya saat kecil kini terbayang dimatanya.
Sebelum semua kesakitan nya terasa hilang, tubuhnya teras melayang, kesadarannya yang samar mulai pergi dan kemudian semua gelap, Sy menyerah dengan keadaannya.
Sementara orang-orang yang melihat kejadian itu segera mengerumuni mobil Sy, jeritan dan kepanikan tak terelakkan.
"Cepat telpon ambulans!"
"Bantu selamatkan korban cepat!"
"Gawat mobil mulai mengeluarkan asap sebentar lagi akan meledak!"
"Angkat cepat bawa ketempat aman!"
Belum jauh mereka mengangkat tubuh Sy, hanya sekitar sepuluh langkah dari mobilnya yang terbalik, ledakkan langsung terjadi.
Booommm
Habis, mobil yang dikendarai Sy hangus terbakar. Sementara Sy segera dilarikan ke rumah sakit, dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan, darah memenuhi seluruh bagian tubuhnya dan denyut nadi yang melemah.
****
Tbc
Mohon dukungannya ya teman ?