"Aku bahkan tidak mengenalmu," Belve menghela nafasnya. "Tunggu tunggu, apa kau manusia?" Lanjutnya.
"Tentu saja aku manusia," jawab Derren enteng. Masih sambil pura-pura kesakitan.
Derren terpaksa berbohong. Ini interaksi pertama mereka, Derren tidak mau membuat Belve takut. Tapi, karena mata Demon miliknya, Belve jadi ragu. Menurut Derren, pertemuan pertama akan berpengaruh besar pada sebuah hubungan. Jadi Derren berusaha bersikap sebaik mungkin, lalu mejelaskan semua pada Belve secara perlahan. Hal pertama yang harus Derren lakukan adalah, membuat Belve percaya padanya.
"Tapi....."
"Tidak usah pikirkan hal tidak penting, kau istirahat saja." Potong Derren, sebelum Belve menyelesaikan ucapannya.
Derren tahu, pasti dipikiran Belve tersimpan banyak pertanyaan. Karena, begitu banyak hal baru yang belum Belve ketahui. Sambil berfikir, Belve duduk dikursi yang sebelumnya Derren pakai. Kakinya terasa lemas, mungkin karena belum sembuh total. Belve harus tenang, agar tidak mencelakai orang lain lagi.
"Aku tidak menyuruhmu duduk disitu," Belve yang baru saja mendaratkan pantatnya, langsung berdiri lagi karena kaget.
"Lalu, aku duduk dimana?" tanya Belve pada dirinya sendiri.
Belve mengamati ruangan yang tengah dia tempati. Hanya ada satu kursi disana, tapi Derren tidak memperbolehkannya duduk. "Kalau begitu di lantai saja," gumam Belve kambali.
Akhirnya Belve memutuskan untuk duduk dilantai, walaupun dia sedikit kaget karena lantai yang begitu dingin. Dulu, saat di rumah pun Belve sering duduk di lantai, sambil membuat rangkaian bunga. Kegiatan itulah yang kadang membuat pikiran Belve teralihkan, selain menggambar. Merangkai bunga bisa menghibur dirinya saat sedih.
Belve memeluk lutut, agar bisa menutupi bagian intimnya. Seharusnya tadi Belve menggunakan selimut saja, tapi Belve sudah terlanjur duduk. Sedangkan Derren yang melihat kelakuan Belve, hanya memutar matanya malas. Bagaimana bisa, calon Luna dari Pack terbesar duduk dilantai seperti itu. Para Omega kerajaan saja, tidak pernah melakukan itu.
Lalu Derren dengan sigap berdiri dari ranjangnya, dan mengangkat tubuh mungil Belve dari lantai yang dingin itu. "Ah!" teriak Belve kaget.
"Turunkan aku," Belve berusaha memberontak, namun pemberontakannya ini tidak berpengaruh pada Derren.
Pria dingin itu tetap menggendong Belve, dengan wajah yang datar. Kemudian membaringkan tubuh mungil itu, dan memasangkan selimut. Tanpa berkata apapun, Derren ikut membaringkan tubuhnya disebelah Belve. Lalu memeluknya dari belakang. Mungkin ini, yang membuat Derren terkesan menyeramkan.
Diam dan tajam.
"Sebaiknya, aku duduk di kursi saja. Atau dilantai jika tidak boleh," protes Belve yang merasa tidak nyaman. Apalagi yang satu ranjang dengannya ini, adalah pria asing. Lagipula dia merasa tidak sopan, Belve hanya sedang numpang disini. Baru saja ingin bergerak, sebuah tangan kekar menahan perut rampingnya dengan erat.
"Kau bisa mati kedinginan," gumam Derren dengan suara beratnya. Namun hal itu tak membuat Belve diam, gadis berambut panjang itu mendorong tangan Derren agar terlepas.
"Diamlah. Aku akan mengambil makanan," potong Derren yang jengkel karena Belve terus memberontak. Lalu, Derren pergi meninggalkan Belve yang sedang mengatur duduknya.
"Apa yang harus aku lakukan? Berdiam diri lalu menunggu Tuan Derren kembali? tapi..." Belve menggigit-gigit jarinya, karena bingung. Kebiasaannya sejak kecil.
"Bukankah, Tuan Derren telah menyelamatkan aku?" tanya Belve pada dirinya sendiri. "Apa terkesan tidak sopan, kalau aku pergi begitu saja?" lanjutnya.
Belve kembali mengamati ruangan yang dia tempati. Lalu pandangannya teralihkan, oleh jendela yang tetutup rapat. Belve berfikir apa dia harus keluar lewat jendela itu? Belve mengamati jendela di depannya ini, mencari cara agar bisa membukanya.
Drrrtttt
Ternyata Jendela itu tidak di kunci. Belve melihat ke bawah, ingin tahu apa yang akan dia lewati jika jatuh. Beberapa detik kemudian, nyalinya kembali menciut. Karena melihat ada kolam renang, tepat dibawahnya.
"Itu hanya kolam, oke. Berkali-kali aku mengahadapi kematian, tapi tak kunjung mati, dasar." Belve memukul pelan kepalanya sendiri, lalu berpegangan pada tirai jendela. Satu kaki Belve, sudah berada diatas jendela. Belve menutup matanya rapat-rapat, bersiap menjatuhkan dirinya kapan saja.
"Aakh!" teriak Belve, saat seseorang menariknya dari belakang. Membuat aksi kaburnya gagal total. Dan parahnya lagi, aksi–nya itu dilihat oleh Derren langsung.
"Sudah aku katakan, kau tidak boleh pergi!" Derren mendorong tubuh Belve, hingga punggung Belve membentur tembok dibelakangnya. Lalu, Derren menatap Belve dengan tatapan penuh amarah. Kemudian berjalan pelan, mendekati Belve.
"Terimakasih, sudah menolongku. Sekarang, tolong biarkan aku pergi..." ujar Belve sedikit memohon pada Derren. Berharap, pria itu bisa memberinya kesempatan untuk pergi.
"Aku, adalah pemilik dirimu Belve princiella! Dan kau tidak akan pernah, pergi kemanapun!" potong Derren dengan matanya yang mengkilat merah. Belve kembali melihat netra merah itu, netra yang bisa membuat udara menipis.
"Kau bukan ma-" Derren mencium bibir Belve dengan ganas, sebelum perkataanya selesai. Derren melumat bibir ranum itu dengan membabi–buta.
"Jika kau menolakku kali ini. Maka aku masih punya banyak cara, untuk memilikimu," gumam Derren. Pikiran Derren telah terdominasi oleh emosi, yang akan berakibat buruk padanya.
Tangan Derren mengintari tubuh Belve, lalu menariknya hingga tak ada lagi jarak diantara mereka. Tangan yang satunya, ia gunakan untuk menarik wajah Belve yang sudah basah karena air mata. Lalu kembali mencium bibir Belve yang sedikit berdarah, karena ciuman kasar tadi. Sedangkan Belve mendorong tubuh Derren, sekuat tenaga. Namun tak berpengaruh sedikitpun pada Derren.
"Mmpph," merasa pasokan udara mereka telah habis. Derren melepaskan ciuman mereka dengan kasar. Lalu menatap Belve yang tengah ketakutan setengah mati, lalu mengangkat sembarang tubuh Belve dan melemparnya ke ranjang.
Plakk!
Belve menampar wajah Derren refleks, ketika pakaiannya mulai dibuka secara paksa. Sedangkan Derren, kembali menatap Belve dengan mata tajamnya. Menampar Derren adalah kesalahan besar, yang bisa membuat emosi pria itu semakin memuncak.
"Berani-beraninya, kau!" bentak Derren didepan wajah Belve. Kemudian, pria iti pergi meninggalkan Belve dengan beribu ketakutan. Belve menangis sejadi-jadinya, sambil menjambaki rambutnya sendiri. Kenapa penderitaanya tak kunjung berhenti? kenapa Belve masih harus merasa takut dan sedih?.
Lebih baik Belve pulang kerumahnya yang dulu, perilaku keluarganya tidak jauh berbeda dengan Derren. Tapi setidaknya, dia lebih mengenal keluarganya itu. Dan yang pasti mereka manusia. Belve seharusnya tetap bertahan disana, sambil mencari pekerjaan. Tapi apa yang Belve lakukan? Kenapa dia justru pergi mencari masalah lain? Kenapa dia malah bersama pria asing ini?.
Brrakk!
Belve terkejut karena suara pintu yang cukup keras, bahkan bangunan pun sedikit goyah karenanya. Derren membawa sebuah cambuk, yang dilapisi oleh cahaya merah. Cahaya itu adalah, kekuatan milik Derren yang tak sengaja menjalar.
Cttarr!
Suara cambukan yang memenuhi ruangan, menambah ketakutan Belve semakin menjadi. Bahkan tak ada suara yang bisa Belve keluarkan, karena aura mencekam milik Derren. Sedangkan Derren kembali menghentakkan cambuknya ke lantai, lalu berjalan dengan cepat kearah Belve.
Ctaaarrr!!!
"Ini hukuman untukmu, karena tidak mendengarkanku!" Derren mendaratkan cambukannya ditubuh Belve, hingga sang pemilik menjerit kesakitan.
"Aaakkkkh" cambuk Derren, dengan sempurna berhasil mengenai kaki jenjang Belve.
Ctaarrr!!!
"Ini hukuman untukmu, karena telah berlaku lancang!" kedua kalinya tubuh Belve terkena cambukan, rasanya perih.... sangat perih.
"Ahhggkk!" teriak Belve tak kalah kencang, dengan air mata yang mengalir deras. Darah keluar perlahan dari bekas cambukan itu.
Ctaarr!!!!
"Ini hukuman untukmu, karena ingin meninggalkanku!"
"Hhgk," cambukan kali ini berhasil mengenai leher Belve. Membuat nafas Belve tercekat, saking pedihnya.
Derren membuang cambuknya ke sembarang arah, lalu mendekati tubuh Belve yang penuh dengan luka. Belve menutup matanya menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya seperti hancur. Tangan Derren menyentuh kulit paha Belve yang terluka, lalu menatapnya dengan tatapan dinginnya. Derren mengunci tubuh Belve. Kemudian menarik tangan Belve dengan kasar, mengamati luka-luka yang mengalirkan darah segar.
"Aku, tidak akan pernah melepaskanmu," ucap Derren lalu menjilati leher dengan kasar. Sedangkan pemiliknya, hanya bisa menggeliat kesakitan. Tak ada suara yang bisa keluar, dari bibir pucatnya.
Derren menjilati dengan nafsu luka di leher Belve, lalu menyesapi Darah Belve yang terasa manis. Belve menggenggam erat kerah pakaian Derren, berusaha menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia sudah tak bisa mengelak lagi, tubuhnya sudah mati rasa.
"Sakit," perlahan pandangan Belve menggelap. Bersamaan dengan suara tangisan yang mengecil. Genggaman tangan Belve tergeletak begitu saja ranjang.
Derren yang merasa tak ada lagi perlawanan, segera mengakhiri aktivitasnya. Kemudian menatap wajah Belve yang sembab, karena terlalu lama menangis. Tanpa disadari air mata Derren menetes tepat di wajah Belve. Dia mengutuki dirinya sendiri, karena telah melukai Belve tanpa ampun. Tangan Derren mengusap lembut wajah Belve, menyingkirkan beberapa helai rambut yang sudah basah karena air mata. Lalu mengecup lembut bibir Belve.
"Sorry...."