Dilema cinta ira
"Ira....."
teriak ibu mengagetkanku yang lagi enak rebahan dikamar
"iya Bu..."
"kebiasaan deh,kalau manggil suka teriak2 kayak Tarsan manggil temannya."gerutuku sambil keluar kamar menemui ibu,walaupun dengan rasa malas,tapi klu gak segera disamperin bisa tambah ngomel,tau sendirikan emak2 kalau panggilannya gak segera dijawab.
"ada apa sih Bu,gak tau apa orang lagi nyantai juga."tanyaku ketika berada didepan ibuku yang lagi sibuk melipat baju.
"tolong tu belikan obat nyamuk diwarung mbk Retno mumpung belum malam, kasian nanti tidur pada digigitin nyamuk"suruh ibu
"malas ah,suruh Laila aja lah Bu,lagian ini kan udah malam."jawabku agak kesal
"Adikmu itu lagi belajar kasian,kamu itu ya,seharian cuma main hp aja,udah sana keburu makin malam,nanti warungnya tutup mau kamu malam ini gak bisa tidur dikeroyok nyamuk."timpal ibu dengan nada tinggi
"ya udah,mana duwitnya, aku ngambil hijab dulu."balasku sambil kembali kekamar untuk ngambil switter dan hijab, soalnya sekarang klu keluar rumah gak pakai hijab rasanya ada yang aneh dan campur malu.
"mana uangnya".pintaku setelah ku keluar dari kamar dan sudah rapi memakai switer coklat dan kerudung warna hitam.
"itu diatas meja"jawab ibu sambil tangannya menunjuk meja ditempat tv.
Setelah kuambil uang 10000 an diatas meja, aku langsung keluar menuju warung.Sebenarnya selain malas keluar malam,aku juga malu klu harus keluar apalagi kewarung mbk Retno,pasalnya untuk menuju warung mbk Retno aku harus melewati rumah Bu Dina,tetangga sebelah rumahku,yang rumahnya setiap malam selalu ramai oleh anak2 dan remaja yang nebeng WiFi dirumah tersebut. tentunya gak gratis mereka harus bayar 2000 rupiah selama 24 jam.
yah lumayanlah,dari pada pakai kuota lebih hematlah 2000 bisa main hp sepuasnya tanpa takut kuota habis.
Aku juga sering sih ikut nebeng WiFi disana, tapi adikku biasanya yang kusuruh bayar dan minta sandinya.
Seperti dugaanku, disana sangat ramai anak2 yang sedang Mabar entah main game apa.berat langkahku melewati rumah Bu Dina,malu,tapi aku harus terus jalan klu enggak bisa-bisa ibu ngomel sampai larut malam.
Aku menunduk,saat melewati sekumpulan anak laki-laki yang sedang duduk di teras rumah Bu Dina sambil main hp.walaupun aku kenal mereka semua tapi tetap saja aku malu.
"Eh Ira udah malam mau kemana"
sapa Bu Dina
"ini Bu, mau beli obat nyamuk diwarung mbk Retno."jawabku sambil terus jalan.
Pulang dari warung,kulihat semakin banyak aja yang berkumpul dirumah Bu Dina,sambil menunduk kupercepat langkahku biar cepat sampai rumah.
"Ra.." sapa dari salah satu remaja yang berkumpul dirumah Bu Dina.
aku reflek menengok untuk memastikan siapa yang menyapaku,ternyata mas Bagas anak kedua Bu Dina.
"eh iya mas,ada apa ya."jawabku sambil berhenti sejenak.
"enggak kok, cuma manggil aja"jawabnya sambil senyam-senyum entah kenapa.
"emang Ira dari mana, kok sendirian aja."
imbuhnya.
"itu mas dari warung Bu Retno,beli obat nyamuk disuruh ibu".balasku sambil memperlihatkan bungkusan plastik yang kubawa.
"oh...kirain dari mana".timpal mas Bagas lagi.tapi tak kuhiraukan lagi ucapan mas Bagas,aku segera menuju rumah,gak mau berlama-lama ngomong sama mas Bagas,malu dilihatin semua teman mas Bagas yang lagi pada nongkrong.
Setelah kuserahkan obat nyamuk beserta uang kembaliannya kepada ibu, aku langsung masuk kamar, dan merebahkan tubuh dikasur sambil main hp, inilah hal yang kurasa paling nyaman dalam hidupku.
Disela main hp,aku jadi teringat kejadian tadi waktu didepan rumah Bu Dina, dimana mas Bagas menyapaku.
"tumben banget ya mas Bagas menyapaku sambil senyam-senyum biasanya kan tu orang dingin dan pemalu."batinku sambil kutatap langit2 kamarku.
"ah mungkin karena ada teman2nya aja kali ya,biar kelihatan akrab dan ramah sama tetangganya,baik hati,murah senyum,tidak sombong,dan rajin nabung."
" ih apaan sih Ra,kok malah ngelantur udah ah tidur aja ngantuk udah malam."tambahku sambil menarik selimut tapi lebih tepatnya sarung yang buat selimut.
Pukul 7 pagi,seperti biasa aku udah bersiap-siap berangkat kerja,aku bekerja dipabrik dekat rumahku,setengah tahun yang lalu setelah lulus sekolah aku langsung melamar pekerjaan dipabrik textil dikotaku, dan Alhamdulillah aku keterima.
"udah sarapan Ra?"tanya ibu yang tiba-tiba berada di depanku.
"udah bu tadi bareng Laila."jawabku sambil memakai kaos kaki dan sepatu.
setelah semua siap kupamit pada ibu tak lupa kucium tangannya dan mengucapkan salam.
Sesampai dipabrik tempatku bekerja.
"Ira...tunggu"teriak Dewi teman kerjaku ketika aku selesai memarkirkan motorku, parkir motor tempatku bekerja.
"Eh wik ayo cepetan entar telat, dimarahin pak kepala loh."kataku sambilkutunggu sidewi memarkirkan motor metiknya.
"iya tunggu sebentar,gak sabaran banget sih."gerutu Dewi.
"eh Ra tau gak sirama nanyain kamu tuh semalam" kata Dewi sambil mengejar langkahku dan menarik lenganku.
"mau apa dia nanyain aku."jawabku sambil kugenggam tangan Dewi agar jalan bersebelahan denga ku.
"katanya sih dia tuh pingin lebih dekat sama kamu."jawab Dewi lagi.
"bukanya kita bertiga udah dekat,kita kan sahabat sejak SMA dan sekarang satu pabrik gimana sih kamu."jawabku sambil kulihat wajah Dewi.
"ih kamu mah ya,masak gak tau sih maksud aku."jawab Dewi dengan kesal, terlihat sih dari mimik mukanya.
"udah ah ayok kerja aja,capek aku ngomong sama orang tulalit kayak kamu."tambah Dewi yang kini meninggalkanku masuk pabrik.
aku bengong,sambil menggaruk rambutku yang tertutup hijab sambil berfikir kenapa Dewi marah kukan benar-benar gak tau yang dia omongin itu maksudnya apa.
"udah ah, nanti pas istirahat dikantin aku banyak lagi sama Dewi apa maksud dari omongannya tadi."batinku sambil kulangkahkan kaki masuk pabrik dan memulai pekerjaanku.
Akhirnya jam istirahat tiba,rasanya udah capek banget,perutku pun sudah mulai keroncongan dan cacing2 udah teriak minta makan,tapi sebelum menuju kantin untuk makan siang,aku menuju kemusholla pabrik dulu untuk melaksanakan sholat dhuhur.
"tenang ya cacing, kita sholat dulu, setelah itu baru deh makan."batinku sambil kuusap perutku.
setelah sholat dhuhur aku segera kekantin untuk mencari makan,sekalian mencari Dewi, aku penasaran dengan ucapan Dewi tadi pagi tentang Rama.
sampai dikantin, kumemesan nasi dengan lauk telur,sayur asem,dan sambal.sambil menunggu pesanan, mataku mencari keberadaan Dewi,dan ternyata dia duduk dipojok bersama rekan kerjaku Mia dan Santi,pesanan pun udah jadi, kubayar lalu kubawa sepiring nasi beserta lauknya menuju tempat Dewi duduk.
"Eh wik kok kekantin duluan sih,gak nunggu aku."kataku agak kesal.
"maaf Ra,soalnya tadi aku udah lapar banget tadi dirumah gak sarapan,terus ya.. mumpung aku dapat bulanan dan gak sholat ,jadi ya..aku langsung kesini."balas Dewi sambil cengar-cengir.
"udah jangan marah,sini duduk."
balasnya lagi sambil mempersilahkan aku duduk di bangku sebelahnya.
"ya udah, tapi masuknya nanti ya,nunggu aku selesai makan."jawabku sambil duduk dan mulai menyantap makan siangku.
"iya.." balas Dewi sambil tersenyum.
"eh wik rak aku sama Mia masuk duluan ya,belum sholat soalnya."pamit Santi sambil mengajak Mia beranjak dari bangku tempat duduknya,aku dan Dewi mengangguk berbarengan.
dan berhubung Santi dan Mia udah pergi,jadi aku bisa minta penjelasan Dewi soal tadi pagi.
"wik maksud omongnmu tadi pagi itu apan sih."ku mulai membuka obrolan serius dengan Dewi.
"omongan yang mana."jawab Dewi pura2 gak tau.
"itu loh soal sirama."jawabku sambil terus melahap makan siangku.
"oh itu?..kamu tau gak semalam Rama tuh wa aku terus dia bilang dia tuh suka sama kamu, tapi dia malu."jawab Dewi tanpa mengerem omongannya.
bersamaan dengan itu aku tersedak karena kaget mendengar omongan Dewi.
Dewi pun kaget melihat aku tersedak, dan buru-buru menyodorkan air mineral yang ada didepan kami kepada ku, sambil menepuk punggungku.
kuminum air mineral yang diberikan Dewi sampai habis untuk menghilangkan sesak didada akibat tersedak.
setelah pernafasan ku lega kutatap wajah Dewi dengan lekat.
"serius kamu wik".kataku sambil melotot.
"serius ra.ngapain sih aku bohong,kalau gak percaya nih, Wanya belum aku hapus".ucap Dewi sambil memberikan hpnya padaku.
secepat kilat kuambil hp Dewi dan k****a wa dari Rama ya itu memang dari Rama, no yang sama yang kusimpan dihp ku juga.kubaca satu persatu chat Rama dan Dewi,dan aku kaget,ketika membaca sebuah chat yang menyatakan bahwa Rama menyukaiku.oh tidak mungkin...aku kaget karena aku tak menduga Rama yang selama ini kuanggap sebagai sahabat ternyata dia diam-diam menyukaiku,aku sedikit GR,tapi,aku takut menyakiti hati Rama,sahabat terbaikku sejak dibangku sekolah,karena jujur aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Rama selain sebagai sahabat.
"Ra!." panggil Dewi yang melihat aku bengong yang masih memegang hp Dewi.
"eh iya wik ada apa."jawabku gelagapan karena kaget.
"ayo ra.masuk, jam istirahat udah habis"
ucap Dewi sambil mengambil hpnya dari genggamanku.
akupun berdiri dan mengikuti langkah Dewi meninggalkan kantin.
Dan tiba2 hp ku bergetar tanda ada pesan masuk.langsung kuambil hp disaku celanaku, dan kubuka benar saja ada satu pesan diwa yang masuk,dan k****a pesan dari Rama.
penasaran isi pesan kubuka aplikasi wa ku.
[Ra udah makan apa belum,jangan lupa makan ya biar gak sakit]
pesan Rama
[iya ini juga baru selesai makan sama Dewi]
kubalas pesan Rama
[bagus lah klu udah makan,oh ya kamu sama Dewi ngobrolin apa aja]
balas Rama
[enggak ngobrolin apa2 kok cuma makan bareng aja,udah ya ram aku mau lanjut kerja]
balasku untuk mengakhiri pesan wa yang dikirim rama.
dan Rama cuma membalas dengan emoti senyum.
Sore hari seluruh karyawan pabrik berhamburan keluar karena memang udah waktunya mereka untuk pulang kerumah masing-masing.
"Ra..Ira.."sebuah teriakan dari seorang lelaki menghentikan langkahku menuju parkiran motor.aku menoleh dan ternyata yang memanggilku adalah mas Bagas tetanggaku.
"iya mas,ada apa ya"jawabku sambil memandang sosoknya.
"boleh gak aku nebeng pulang bareng,tadi sih aku berangkat bareng Lutfi, tapi tiba-tiba Lutfi disuruh lembur.boleh ya aku boncengin deh."pinta mas Bagas sambil memelas.
Sebenarnya aku pingin nolak,karena aku gak nyaman boncengan sama mas Bagas aku malu,tapi kalau aku tolak, kasihan juga dan lagi kalau ibunya mas Bagas tau aku menolak anaknya nebeng dan akhirnya mas Bagas pulang jalan kaki, wah,bisa gawat bisa-bisa perang dunia ketiga.
"ya udah deh mas,boleh"jawab ku sambil kuserahkan kunci motorku kepadanya.
dan kami pun berjalan bareng menuju parkiran motor tapi mas Bagas menyuruhku menunggu didepan pintu keluar pabrik.
"Ayo Ra."ucap mas Bagas ketika tepat berada di depanku.dan aku langsung naik dijok belakang membonceng mas Bagas.
"udah Ra."ucap mas Bagas sambil memastikan aku sudah membonceng dengan benar.
"udah mas."jawabku.
Dan mas Bagas pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
selama dalam perjalanan,kami lebih banyak diam,pingin memulai pembicaraan tapi aku malu dan bingung mau bicara apa.yah, walaupun kami tetanggaan sebelah rumah,tapi kami jarang bertemu dan berbicara,mungkin karena kami sudah tambah dewasa,jadi sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"gimana pekerjaan kamu Ra.?kamu betahkan kerja dipabrik".tiba-tiba mas Bagas membuka pembicaraan.
"iya mas betah kok".jawabku singkat karena malu.
"udah lama ya Ra, kita gak ngobrol dan main bareng,terakhir kita ngobrol bareng dirumah Dewi waktu itu aku masih SMP dan kamu masih SD.yah...kira-kira udah 5 tahunan ya Ra."ucap mas Bagas lagi memecah kesunyian.
"iya mas."lagi-lagi karena malu aku hanya menjawab pertanyaan mas Bagas singkat.tidak ada lagi pertanyaan dari mas Bagas mungkin dia malas jika harus ngobrol lagi bagaimana enggak yang diajak ngomong aja gak respek.
30 menit perjalanan dari pabrik menuju rumah kami,dan mas Bagas menghentikan motornya tepat didepan rumah.
kulihat ibu yang sedang menyapu halaman melihat kami dengan pandangan bingung karena aku pulang dibonceng Bagas.
"lho Bagas,kok bisa pulangnya bareng Ira emang motornya kenapa.?" jawab ibu yang penuh tanda tanya.
"iya Bulek, motor saya dipakai bang Hendra, motor bang Hendra masih diberengkel".jawab mas Bagas sambil menyalami tangan ibu.
"ya udah Bulek, sama Ira saya pamit ya.oh ya Ra makasih ya?" ucap mas Bagas sambil berlalu menuju rumahnya.
"iya mas."jawabku.
"Bagas, udah pulang,emang pulang bareng siapa?."tanya Bu Dina yang terkejut melihat anaknya berjalan dari arah rumah ku.
"sama Ira Bu".jawab mas Bagas
"lho kok sama Ira, emang silutfi kemana".
ucap budina lagi.
"lembur Bu?"jawab mas Bagas sambil langsung nyelonong masuk kedalam rumahnya.
Aku dan ibu sengaja mendengarkan percakapan antara ibu dan anak tersebut,aku dan ibu penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Bu Dina, ketika tau anak keduanya pulang bersamaku,anak tetangga yang selalu diremehkannya.
"kok bengong,sana masuk mandi terus sholat asyar keburu habis waktunya loh."ucap ibu.
"iya Bu.."timpalku sambil masuk kedalam rumah.
Habis sholat Maghrib ku rebahkan diri dikasur sejenak,menghilangkan lelah setelah bekerja seharian.
ketika sedang mengistirahatkan tubuh ditempat tidur,hp ku berbunyi ternyata sebuah pesan dari Rama.
[malam ra.lagi ngapain nih]
isi pesan Rama
[lagi rebahan aja]
balasku
[kamu kenapa Ra gak enak badan ya biasanya klu balas wa dari aku panjang lebar ini kok pelit amat]
tulisnya lagi
[enggak kok aku cuma capek aja]
balasku
[oh gitu,besok hari Minggu aku main kerumah ya,ada yang mau aku omongin]
tulisnya lagi
"Apa..! Rama mau datang kerumah dan ngomong sesuatu,apa jangan-jangan dia mau nembak aku ya.."batinku menerka-nerka kedatangan Rama besok.
tak ku balas wa dari Rama lagi aku bingung harus balas apa,aku tidak mau hubungan persahabatan ku dengan Rama dirusak oleh kata cinta,selain itu, aku juga benar-benar tidak mempunyai rasa terhadap Rama.
"Aku curhat sama Dewi aja deh,barang kali Dewi nanti ada jalan keluar".ucapku sambil mencari kontak Dewi dihp dan kemudian aku menghubungi Dewi.
"Hallo wik,kamu lagi ngapain."tanyaku setelah panggilan diterima
"eh Ira,lagi nonton tv nih,emang ada apaan."ucap Dewi.
"kamu tau gak, kalau Rama besok mau kerumah dan katanya,mau ngomong sesuatu gimana nih wi."cerocosku kepada Dewi.
"bagus dong, berarti ada yang mau jadian nih,wah asyik makan-makan".jawab Dewi sambil tertawa.
"makan-makan apaan ,makan tuh batu diluar banyak,udah tau sahabat lagi bingung malah mikir makan-makan,dasar ya.. teman gak berprikemanusiaan"celetukku sewot
"ya maaf,emang kamu gak ada rasa apa sama Rama."tanya Dewi
"jujur gak ada sih wi."jawabku
"masak sih kalian bersahabat udah 3 tahun masak gak ada suka atau nyaman sih."selidik Dewi
"kalau sayang sebagai sahabat dan kakak, ya ada sih tapi klu cinta,kayaknya gak deh."jawabku sambil berfikir
"atau.. jangan-jangan kamu suka sama orang lain."tanya Dewi
"siapa."tanyaku lagi
"mas Bagas mungkin,tadi kalian pulang bareng kan."selidik dewi
"Apa!"jawabku kaget
"asal aja ya kamu kalau ngomong, gak mungkinlah aku suka sama mas Bagas walaupun dia itu tampan,tapi aku tau diri,gak mungkin mas Bagas tuh suka sama aku,tadi itu kebetulan aja mas Bagas nebeng pulang bareng, karena gak bawa motor gitu loh".cerocosku menerangkan kepada Dewi degan penuh emosi.
"apa iya."ledek Dewi.
"udah ah, diajak ngobrol serius malah ngeledek terus".emosiku .
"iya,maaf, klu suka juga gak apa-apa kok,tapi hati-hati aja sama bude Dina siap-siap dibully kamu".ucap Dewi yang terus menggodaku.
"sembarangan kalau ngomong,udah ah lanjut nanti ya ngobrolnya hp ku lowbet".
ucapku pada Dewi.
"iya deh,oh ya,aku tunggu kelanjutan cerita kamu sama Rama besok ya."ucap Dewi lagi.
akupun menutup panggilan setelah mengucapkan salam.
kemudian aku beranjak keluar kamar, untuk makan malam kulihat adikku Laila sedang menonton YouTube,entah video apa yang sedang dilihatnya,kulihat ibu sedang menyiapkan makan malam,aku menemuinya dan berniat untuk membantunya.
"ada yang bisa aku bantu Bu."tanyaku ketika sampai di dapur.
"iya kamu ambil piring sana letakkan diatas meja,piringnya 3 aja".perintah ibu
"emang bapak gak ikut makan Bu."tanyaku heran kenapa cuma 3 piring biasanya kan 4.
"iya, bapak lagi keluar paling ngobrol sama tetangga dan pasti lupa waktu".jawab ibu kesal,bapak memang suka seperti itu kalau udah ngobrol sama tetangga suka lupa waktu.
"ya udah, ayok makan aja,panggil adikmu sana biar kita makan bersama".sambung ibu.
"kamu ada hubungan apa sama sibagas"
tanya ibu disela-sela waktu makan.kaget aku mendengar pertanyaan ibu.
"gak ada apa-apa kok Bu,cuma teman biasa."jawabku meyakinkan ibu.
"bukan apa-apa Ra,ibu sih suka sama Bagas tapi...kamu tau sendirikan, bagaimana sikap ibunya Bagas kekeluarga kita.yah walaupun gak terlihat, tapi ibu bisa merasakan kalau mbk Dina tidak begitu suka sama keluarga kita.kamu mengertikan maksud ibu".ucap ibu memberi penjelasan.
aku cuma mengangguk mengiyakan omongan ibu.lagian mana mungkin mas Bagas menyukai ku gadis miskin yang penampilannya biasa saja.
"baguslah kalau kamu mengerti". sambung ibuku lagi.
selesai makan separti biasa aku langsung kembali kekamar untuk beristirahat.ketika hendak duduk aku lihat lampu dihp berkedip tanda ada pesan masuk,lalu kulihat notifikasi ternyata pesan wathsapp,dan pesan dari no baru yang tak ada namanya,karena penasaran, ku buka hp dan langsung ku pencet aplikasi berwarna hijau tersebut, dan ku buka pesan dari no baru tersebut.betapa kaget dan terkejutnya aku ketika ku tahu siapa yang chat kemudianku baca pesannya,no tersebut sampai mengirimi ku 5 pesan.
[Assalamualaikum]
[Ra apa benar ini no wa kamu]
[ini aku Ra,Bagas]
[aku tau nomor kamu dari adik kamu]
[kalau benar ini nomor kamu tolong balas ya Ra]
begitulah kira-kira isi pesan dari mas Bagas,tapi aku bingung mau balas apa aku malu jadi ku urungkan niat untuk membalas Wanya.
"Entah mengapa,sekarang aku jadi malu dan grogi kalau bertemu mas Bagas,padahal dulu aku sering ngobrol dan bermain dengannya,tapi biasa aja kenapa ya.. apa aku memang mulai menyukainya."batinku dan segera ku tampar pipiku sendiri sambil ngomong didepan kaca. "jangan mimpi Ira gak mungkin lah seorang Bagas Setiawan menyukai kamu,Nur Syafira...gadis yang gak punya keistimewaan apapun.ayo bangun Ira....?"
kemudian aku merebahkan badan diatas kasur dan berusaha untuk menutup mata, walaupun sangat susah sebab fikiranku tertuju pada 2 laki-laki tetanggaku yang membuat ku bingung dan galau.
POV.Bagas
lama ku tunggu balasan dari Ira, gadis manis tetangga sebelah rumahku.
aku mencoba menghubungi lewat wa yang nomornya kudapat dari Laila adik Ira, ketika tadi sore minta ikut nebeng WiFi dirumah ku.
sebenarnya udah lama aku menyukai Ira,tapi aku takut untuk mendekatinya, karena semakin kesini sikap Ira semakin cuek kepada ku.tapi ketika tadi sore,saat pulang kerja waktu aku memboncengkan nya,perasaanku tak karuan,jantungku berdetak sangat kencang aku pun grogi, apalagi ketika melewati jalan yang tidak rata,dan tanpa sengaja Ira menabrak punggungku, rasanya jantungku semakin tak karuan kalau saja aku tidak sedang mengendarai motor,pasti aku sudah pingsan.
sedang asyik mengkhayal bersama Ira, tiba-tiba hp ku berbunyi.
"pasti dari Ira".batinku sambil kubuka hp dengan hati yang begitu senang.
tapi setelah kubuka ternyata bukan dari Ira, tapi dari Yuni,mantan pacarku ketika SMA, malas k*****a pesan dari Yuni jadi tidak kubuka Wanya.
kemudian, karena bosan dikamar dan lama juga nunggu wa dari Ira,jadi kuputuskan keluar dan ikut nongkrong bareng anak-anak yang biasa berkumpul didepan rumahku,untuk sekedar nebeng WiFi maupun Mabar.
"kamu sakit gas kok gak bersemangat,Mabar yuk."tanya Deni temanku.
"gak ah ku lagi malas".jawabku singkat.
"kamu lagi jatuh cinta ya gas."selidik Deni sambil menatapku tajam
"ah sok tau kamu den".jawabku gelagapan gak nyangka Deni tau isi hatiku.
"udahlah gas,gak usah ngelak aku tau kok,kelihatan dari tingkah mu." cerca Deni sok tau.
"emang kamu jatuh cinta sama siapa sih,aku kenal gak orangnya."tambahnya lagi.
"ada deh..., kepo banget kamu sih loh den."jawabku sambil kutinggalkan Deni dan teman2 yang lagi asyik main hp.
"emang kamu sedang jatuh cinta sama siapa gas."tanya ibu tiba-tiba yang berada di depanku.
"ibu ah,bikin kaget Bagas aja sih."jawabku kesal.
"kamu ini ya, ditanya kok gak jawab."
gerutu ibuku.
"jangan bilang ya kalau kamu jatuh cinta sama Ira,ibu tidak setuju."tambah ibu
"emang kenapa Bu."aku balik bertanya karena penasaran.
"berarti benar ya kamu suka sama siIra."
"kalau benar gas,ibu gak rela,Ira gak pantas gas buat kamu."ucap ibu dengan nada lebih tinggi dan menahan emosi.
"gak pantas apanya sih Bu...lagian belum tentu jugakan Ira itu suka sama aku."berusaha pelan ku balas perkataan ibu ku.
"gak mungkin kalau Ira itu gak suka sama kamu,apalagi kalau kamu deketin terus pasti nanti tambah kegeeran,apalagi orang tuanya pasti akan mengunggulkan anaknya karena bisa dapatin kamu,dan pasti ujung-ujungnya kamu cuma dimanfaatkan sama pedagang balon itu gas,kamu sadar gak sih."cerocos ibu.
"ya Allah ibu,gak mungkinlah kalau keluarga paklik Harjo sama Bu ayu kayak gitu,mereka orang baik Bu...."terangku memberikan penjelasan pada ibuku.
"kamu itu ya,kalau dibilangin ngeyel, pokoknya kalau kamu sampai jadian sama Ira,ibu gak setuju."ucap ibu penuh penekanan.
"udah ah,Bagas capek ngomong sama ibu,Bagas mau tidur aja ngantuk."kutinggalkan ibu ku yang masih penuh emosi kalau masih kutanggapi, pasti gak akan selesai,apalagi melawan perkataan ibu,pasti gak akan menang.
kurebahkan diri ditempat tidur sambil kubuka hpku,berharap Ira membalas wa ku,tapi harapan ku sirna Waku cuma diread aja tanpa ada balasan.
membayangkan wajah Ira dan mengingat omongan ibuku tadi, membuat aku semakin pusing dan sulit untuk tidur tapi kalau gak tidur,maka pasti akan semakin pusing,jadi aku memaksa memejamkan mata,dan berharap bisa mimpi indah bersama Ira.