Semesta Masih Mendukung

1379 Kata
Café milik Ciwa terlihat ramai pengunjung. Bangunan bertingkat dua dengan design vintage tersebut memang acap didatangi pemuda pemudi menjelang sore dan paling ramai ketika malam. Aleta belum mau beranjak, dia masih diam di kursi penumpang sebelah Ethas. Pelukannya pada buku semakin erat, tanya bahwa ia hanya sedang merasa tidak nyaman. Selain pelajaran, sikap Ethas juga membuatnya bertanya-tanya. Sebelum ini mereka juga sudah sering bertengkar kecil, namun tidak sampai melayangkan kata putus seperti yang Aleta perbuat kemarin. Gadis itu hanya sedang berada pada titik dimana ia merasa sangat kecewa. Aya. Satu nama itu berputar terus di dalam kepalanya bersamaan dengan ucapan teman-teman yang mengatakan bahwa Ethas sudah sejak lama berselingkuh. Aleta lebih baik diputuskan daripada harus dikhianati. Toh, banyak hal yang dapat dia lakukan diluar hubungannya bersama Ethas. Belajar, salah banyaknya. “Ta,” panggil Ethas pelan mencoba menyentuh lengan Aleta. Gadis itu menoleh, air wajahnya masih sama seperti semalam. Masih ada raut kecewa yang terlukis di sana, bahkan mata gadis kutu buku itu kentara memancarkan keraguan. “Nggak mau masuk dulu? Seenggaknya duduk sebentar buat minum.” Aleta menggeleng, membuang wajah lagi hingga Ethas tidak bisa melihat wajah cantik gadis itu. Kebiasaan lain Aleta ketika tidak nyaman, dia akan terus memainkan jari jemarinya. “Pengen pulang,” kata Aleta pelan, suaranya bergetar sedikit. Ethas menahan ekspresi kecewanya agar tidak dilihat oleh Aleta. Dia memilih tersenyum, “Mau pulang? Atau aku beliin makanan dulu ke dalem baru abis itu kita pulang, gimana?” Aleta menatap Ethas di manik mata lelaki itu,  turun pelan ke lengan Ethas yang selalu tampak indah ketika ia men-dribble bola. “Kamu tau kenapa aku mau jadi pacar kamu?” Punggung Ethas perlahan tegap, dia kaget mendapati pertanyaan Aleta yang tiba-tiba. “Kenapa nanyain itu, Ta?” “Aku seneng liat kamu main basket. Rasanya, tiap aku belajar di tepi lapangan di jam-jam sepi pulang sekolah, kamu sama tim basket kamu selalu di sana. Ketawa, saling lempar banyol yang menurutku nggak penting sama sekali, nempeleng satu sama lain. Bebanku berasa hilang aja tiap liat kalian ketawa. Lucunya, aku malah paling sering liatin kamu. Curi pandang ke nomor punggung kamu dan akhirnya bisa tahu nama kamu buat pertama kalinya. Alterio A.” Mata Aleta panas, jemari dengan kuku dilapis kuteks rosegold tersebut mengusap matanya yang basahnya. “Aku mulai tanyain kamu ke salah satu temen deket, siapa Alterio anak basket yang nomor punggungnya 17. Terus temenku bilang, ‘Loh, itu Ethas! Si bego tengil yang cuma menang di muka sama skill doang di basket. Pelajaran gugur semua dia, mah. Anak SD disuruh ngerjain soal mtk kabataku juga bakal menangan anak SD.’ Tapi tau nggak?” Aleta berhenti bicara, telapak tangannya menutup kedua matanya yang sukses basah. Entah mengapa dia sendiri menjadi emosional memulai pengakuannya yang satu ini. Hampir dua tahun hubungan mereka, Aleta menyimpan cerita ini sendirian tanpa Ethas pernah tahu. “Kamu ngajarin aku kalau hidup nggak harus dibawa serius terus. Nilai kamu anjlok, tapi kamu selalu bisa ketawa. Tiap abis dimarahin sama mama soal nilai merah, kamu tetep bisa nikmatin makanan kamu. Kamu tuh hidupnya kayak nggak pernah mikirin masa depan, seolah kita cuma hidup di satu hari itu aja dan kamu coba bikin bahagia yang maksimal buat diri kamu sendiri. Itu yang aku liat dari kamu, Ethas. Sebulan setelah itu, aku kaget karena kamu tiba-tiba nyamperin aku yang lagi duduk di tepi lapangan lagi asik ngehapal pelajaran.” “Pacaran sama aku, mau?” tanya Ethas mengulang ucapannya kala itu. Dia sudah asik tersenyum sejak tadi. Pengakuan Aleta membuat Ethas merasa istimewa dan begitu dihargai. “Lucu, ya, aku sama sekali nggak pikir panjang waktu itu. Bahkan waktu ngadepin soal tiap kuis, aku selalu ngebawa isi pikiranku diskusi dulu. Tapi kuis dari kamu sore itu, kenapa bisa-bisanya ya aku langsung jawab iya?” “Ta, maafin aku, ya? Sekali lagi.” “Kamu emang selalu nyebelin, Ethas. Kamu selalu ajak aku debatin hal-hal yang bahkan nggak penting. Kamu selalu semangat tiap diajakin ayah nonton bola bareng. Kamu selalu jadi temen masaknya Ciwa yang rela disuruh potongin bawang. Kamu nyebelin, Ethas, tapi di sisi lain kamu selalu punya cara buat bikin orang lain bahagia sama kehadiran kamu. Termasuk aku, yang paling bersyukur. Kamu emang susah banget tiap diajakin belajar bareng, tapi lucunya kamu selalu mau nemenin aku belajar berjam-jam lamanya.” Ethas terpaku. Badannya kaku bagaikan paku yang ditancap dalam pada sebuah kayu. Dia tidak pernah menyangka bahwa gadis di hadapannya ternyata memberikan perhatian sedetail itu padanya. Aleta selama ini memang penyayang, namun terkadang bisa begitu tidak acuh. Tidak ada yang dia temukan selain kejujuran pada setiap kata yang Aleta ucapkan. Menyenangkan beserta haru rasanya menerima kejujuran gadis itu. Ethas mendekat, menarik Aleta untuk ia peluk erat. “Aku sayang banget sama kamu, Ta. Aku bakal bilang ini terus sampai kamu bosen.” “Terus kenapa kamu bohongin aku, Ethas? Kenapa kamu nggak pernah cerita soal Aya. Kenapa semua dari dulu bilang kalau kamu selalu main di belakang aku?” Ethas menarik diri, dia ingin sekali memberikan plester pada mulut orang-orang yang berlagak sok tahu terhadap kehidupannya. “Aku nggak pernah cerita soal Aya karena dia nggak cukup penting, Ta. Ngertikan maksud aku? Lagian orang-orang nggak tau apa yang udah aku sama kamu jalanin. Kamu tau nggak sebanyak apa cowo di sekolah yang pengen banget bisa jadi pacar kamu? Mereka mikir kalau cowo bego yang nggak punya masa depan tandanya nggak pantes dapetin kamu yang masa depannya udah pasti di genggaman sendiri. Aku tau siapa yang nyebarin gosipnya pertama kali. Aku biarin dia nyebar dan aku liat sebanyak apa yang nerima berita bodoh itu. Tapi aku nggak pernah kepikiran kalau kamu ternyata juga tau dan sering kepikiran.” Aleta menarik napas panjang. Dia menyayangi laki-laki di depannya dengan tulus walaupun kadang perhatiannya lebih berat pada pelajaran dan impiannya untuk masuk ke universitas ternama. Tetapi jujur dari hatinya yang terdalam, bahwa dia bersyukur dengan keberadaan Ethas sejak awal. Cintanya pada lelaki itu tumbuh perlahan, namun setiap waktu. Seakan Ethas tidak pernah absen menyiraminya hingga benih tadi terus tumbuh. Sederhananya, cinta Aleta pada Ethas seperti kuku. Akan selalu tumbuh. Aleta mencoba untuk tersenyum, dia sesekali menoleh ke café milik Ciwa. “Yaudah aku belajar di sini aja kalau gitu.” “Serius?” Ethas bertanya dengan eskpresi sangsi. Badannya condong sedikit ke depan untuk melihat suasana café yang semakin ramai dengan pengunjung. “Udah makin ramai.” “Nggak apa-apa. Yuk, aku yang traktir kali ini.” Ethas nyengir bahagia. “Lagi bahagia, ya?” “Diem bisa?” “Yakin mau traktir pacar kamu yang makannya kayak badak?” Aleta mencibir, mengedikkan bahu sambil membuka pintu mobil. “Aku nggak bakal nawarin dua kali, ya, Ethas.” “Ya maulah! Masa iya nolak?” Ethas bergegas ikut keluar dari mobilnya. Senyumnya sudah lebih mudah terbit. Bukan perkara akan ditraktir oleh pacar sendiri, tetapi lega rasanya karena masalah mereka masih dipertemukan dengan terang. “Ta, tungguin.” “Buruan, ih, lama. Nanti tempat duduknya pada abis diborong remaja-remaja ibukota.” “Ta, café Ciwa tuh gede, seenggaknya pasti masih ada sisa buat kita duduk. Tapi kalau bareng kamu, lesehan juga aku mau.” Ethas menggoda, sedang Aleta mulai lagi memasang ekspresi kesal. “Kamu aja yang lesehan, aku ogah.” “Selalu aja jahat,” keluh Ethas mencebik. Kemudian diambilnya buku di pelukan Aleta, membawakannya untuk gadis itu. Dibiarkannya Aleta memilih meja kosong yang masih tersedia, beruntung ada satu di yang nyaman di dekat jendela. Sembari mendekati meja, Ethas merasakan getaran pada sakunya. Ponselnya baru saja bergetar. Ethas mengeceknya dengan cepat, mengernyit melihat nama mamanya di layar. Bukan sebuah panggilan, hanya pesan singkat yang isinya cukup mengharukan. Mama: Jangan lupa makan, Abaaaang Ethas! Ethas tersenyum, membalas langsung pesan mamanya dan mengambil tempat di seberang Aleta. Gadis itu menyambut buku pelajarannya, kemudian tanpa peduli sekitar jari jemarinya langsung sibuk dengan pena dan lembaran buku. Ethas mana mau begitu, ia memilih membolak-balikkan lembaran yang tidak lain adalah buku menu. Wajah lelaki itu tidak kalah seriusnya dengan Aleta. Dasar Ethas! Selalu begitu kalau sudah berhadapan dengan makanan. “Ethas, jadi partner yang temenin aku belajar terus, ya? Nggak apa-apa. Aku rela kamu gendut karena selalu makan tiap nemenin aku belajar.” Ethas terbahak, “Ngejek terooooos! Iya, aku rela jadi badak karena nemenin kamu belajar.”  * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN