Genggaman yang Melemah

1112 Kata
“Sayang, buka pintunya dulu, boleh?” Suara lembut dari wanita paruh baya memecah sunyi di dalam rumah yang memang ramainya sudah hilang sejak lama. Sekarang, bangunan yang menjadi tempat mereka berteduh hanya menyisakan kenangan masa lalu yang sempat berikatan dengan kebahagiaan. “Rel, Mama mau ngomong sama Varel.” Belum ada jawaban. Hanya hening yang menjalar di sekitar. Bahkan untuk menghela napas berat pun rasanya sudah sulit untuk dilakukan. Mama dari dua laki-laki remaja itu menatap bubur beserta kotak P3K yang ia bawa. Semalaman suntuk memikirkan si bungsu pergi kemana, tentu saja pagi ini ia harus menagih cerita. Walau kedekatannya dengan Zavarel tidak bisa dibilang terlalu sebab ada alasan yang membuat wanita tersebut mencoba memahami situasi mereka. Sejak kecil, Zavarel lebih senang berinteraksi dengan papanya. Pria yang menjadi role model bagi Zavarel tersebut bekerja sebagai seorang pilot. Jarang pulang, sebab harus melakukan penerbangan antar negara. Sang papa seorang yang pintar, hebat di segala bidang, disiplin namun terlalu tidak acuh terhadap sekitar. Semua itu turun pada Zavarel, si bontot yang ingin sekali menjadi sosok sang papa ketika ia besar nanti. Anak lelaki itu juga lebih senang mengobrol bersama papanya ketimbang mama karena topik pembicaraan terasa lebih menarik dengan bahasan hal-hal hebat. Seperti bagaimana cara pesawat dapat terbang, apa peran black hole bagi bumi, bagaimana rotasi planet terhadap matahari, bahkan seperti apa bentuk manusia di beberapa ribu tahun ke depan jika bumi masih bertahan. Tidak seperti Ethas yang nyaman-nyaman saja apabila harus membahas harga bawang merah di pasar bersama mamanya. Bertanya soal apa menu sarapan pagi dan bagaimana cara membuat roti bakar istimewa dengan berbagai macam isi yang nikmat. Kalau sudah mendengarkan sang papa dan Zavarel berdebat, Ethas pasti undur diri dan mencari mamanya, atau asik dengan kesibukannya sendiri—yang pasti bukan belajar. Ethas lebih senang mencuci motor beserta mobil kesayangannya sembari menyirami tanaman sang mama kalau ia sempat. Ethas anak mama dan papa, tetapi Zavarel tampaknya hanya nyaman menjadi anak papa. Semenjak sang papa menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan luar negeri dalam bidang penerbangan pula, Zavarel enggan memberikan izinnya. Bekerja di dalam negeri saja sudah sulit sekali untuk bertemu, apalagi harus ke luar. Kala itu Zavarel mulai merasa ditinggalkan dan sendiri. Ia tidak lagi memiliki teman mengobrol yang satu frekuensi. Berharap pada mama untuk membahas soal pesawat dan planet, hanyalah sebuah hal yang sia. Kini, semua semakin berjalan terlalu jauh dan masing-masing. Wanita yang hanya bercita-cita memiliki ruang untuk ia berbahagia lewat keluarga, tampaknya tidak diberi izin oleh semesta. Bahkan ia gagal. Wanita berstatus ibu itu hanya merasa gagal dari hari ke hari sebab genggamannya terhadap kedua putranya semakin melemah. Zavarel membuka pintu, sampai buyar semua lamunannya. Senyum wanita itu terbit tatkala ia mendapati si bungsu mau membuka pintu kamar untuknya. Zavarel yang baru selesai ganti baju dan mencuci wajahnya memilih meninggalkan ambang pintu, duduk di atas tempat tidur dengan raut wajah sayu. Dia tidak berminat melakukan apapun sekarang selain tidur. Bahkan untuk sekedar menerima makanan yang dibawakan oleh mamanya, Zavarel tidak berminat. “Belum makan, kan, Dek?” tanya mamanya dengan nada teramat lembut. Memanggil Zavarel dengan sapaan adek sudah ia lakukan sejak anak lelaki itu terlahir ke dunia. Sayang saja karena Zavarel kerap risih. Persis seperti sekarang, ia semakin enggan menatap mamanya karena panggilan yang menurutnya konyol tersebut. Zavarel memilih berbaring, menentang matahari pagi dengan cara tidur tampaknya tidak begitu buruk. Ia ingin mengabaikan segala hal di sekitar setelah lelah semalaman. Menemani Aya bukanlah perkara sulit, yang membuat segalanya menjadi sulit ketika harus mendengarkan Aya bercerita soal Ethas semalam suntuk. Ethas yang konyol, Ethas yang gampang tertawa, Ethas yang senang membahas makanan, dan masih banyak tentang Ethas sampai Zavarel muak sendiri. Perjuangannya terhadap gadis itu, entah akan sampai dimana dan kapan. “Varel, makan dulu nggak mau?” tanya mamanya lagi. Kali ini meletakkan makanan di meja nakas. Kotak P3K ia peluk, duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh pelan bahu si bungsu. “Kamu tuh dengerin Mama sebentar aja emangnya susah? Kamu keliatannya sayang banget sama Aya, tapi ngehargain mama kamu sendiri bahkan kamu belum bisa, Varel.” Varel menyingkap lengan yang menutupi wajah. Ia menatap mamanya tidak senang, “Mama kenapa jadi bawa-bawa Aya? Dia nggak ada hubungannya sama benci mama ke Varel.” “Be—benci? Kapan Mama pernah bilang kayak gitu?” “Nggak harus nunggu Mama bilang, semuanya juga udah jelas. Yang penting buat mama cuma Ethas dan cewe ambisius yang selalu dia ceritain tiap kita makan bareng.” “Seenggaknya Aleta nggak ngebuat Ethas berubah.” Zavarel menahan dirinya mati-matian. Hasrat untuk keluar dari rumah muncul lagi. Percuma ia di sini, tidak ada yang mampu membuatnya mengerti selayaknya sang papa. “Nggak puas cuma banding-bandingin Varel sama Ethas? Sekarang Mama juga ikut-ikutan ngebandingin Aya sama Aleta? Cewek manja yang mikir kalau semua orang sayang sama dia.” Sang mama terdiam. Sadar bahwa yang ia ucapkan sebelumnya memang salah. Namun itu karena tingkah Zavarel yang semakin keterlaluan. “Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?” Zavarel tidak menjawab, namun tidak pula memberikan larangan. Pertanda kalau mamanya diberi izin. “Apa sebenernya salah mama ke kamu? Kenapa kamu susah buat sekedar ngobrol sama mama, bahkan untuk nanyain kabar mama aja, Rel. Mama emang bukan papa, mama enggak paham obrolan favorit kamu sama papa. Mama cuma ibu, yang setiap hari usaha buat mastiin kamu nggak apa-apa. Yang kangen papa enggak cuma kamu, Nak. Mama sama kakak kamu juga ngerasain hal yang sama. Tapi kalau Mama emang masih kurang jadi ibu buat kamu, terus yang sempurna menurut kamu gimana?” Zavarel melihat mamanya menangis. Kepalanya mendadak pusing dan terasa akan pecah. Dia ingin menjawab ucapan mamanya, namun selagi ia dapat menahannya, maka akan ia tahan. Zavarel menatap bubur di meja nakas, lantas berganti pada kotak P3K di pangkuan sang mama. “Varel nggak apa-apa, nggak laper juga.” Untuk kesekian kali, helaan napas berat lolos dari mulut sang mama. Dia tidak ingin membuat bungsunya kian terpojok dengan ucapannya. Wanita lemah lembut itu berdiri, bagaimanapun dia tetaplah seorang ibu dan selamanya akan begitu. Yang dapat ia tawarkan pada kedua putranya tetaplah sebuah kasih sayang yang tidak dapat diukur dengan alat ukur apapun. Air matanya tetap akan tumpah kalau anaknya dalam bahaya. Tetapi kali ini untuk sejuta kali wanita itu memilih mengalah. Dia takut apabila Zavarel terlalu jauh dan pada akhirnya benar-benar terlepas darinya. “Yaudah, Varel tidur. Kalau laper kasih tau Mama, nanti Mama masakin makanan enak buat Varel.” Zavare mengambil bantal, menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badan. Isi kepalanya sudah tidak tertata lagi, dia butuh pelepasan dari segala sesak disana  dan disini. Zavarel berharap dapat keluar secepatnya dari rumah ini. Dia ingin meninggalkan ketidak-beruntungan yang barangkali juga ikut bersemayam di bawah atap ini.  * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN