MAKAN BERSAMA

1017 Kata
Bab 13 "Makanan nya siap! selamat menikmati," ucap si abang tukang nasi goreng. "Hmm, harum sekali," ucap Sasa sembari menghirup aroma nasi goreng tersebut. "Mari kita makan," ucap Miksel yang menyuap suapan pertama nya. "Ayo makan Andine!" Ujar Arman. Andine hanya mengangguk dan mulai menyuap nasi goreng tersebut dari balik cadar nya. "Enak ya, nasi goreng di sini,Sa," ucap Miksel kepada Sasa. "İya dong, pilihan Sasa selalu yang terbaik," ucap Sasa mengacungkan ibu jari nya kedepan. Mereka tertawa melihat tingkah Sasa, dan menikmati kembali makanan mereka masing-masing. Setelah selesai menyantap habis makanan mereka, mereka pun bergegas untuk kembali kerumah masing-masing. "Andine kamu pulang sama mereka bertiga ya! arah rumah kita kan berlainan arah," ucap Sasa menunjukkan ke arah jalan rumah nya. "Tapi.. aku tidak bisa berjalan bersama mereka, aku takut menyebabkan fitnah kedepannya," ucap Andine cemas. "Aduh, bagaimana ya?" ucap Sasa kebingungan. "Tidak masalah, aku akan menunggu di sini sampai Miksel dan Arman pergi terlebih dahulu," ucap Andine duduk kembali di bangku tukang nasi goreng. "Tapi sudah malam, kami tidak bisa membiarkan mu berjalan sendirian, apa lagi kau seorang wanita," ucap Miksel. "Cie.. cie .. perhatian banget sama Andine," Goda Sasa melirik Andine. "Sasa jangan bercanda seperti itu!" Ucap Andine tersipu malu. "Begini saja, kita bertiga bisa pulang bersama, Andine jalan terlebih dahulu 1 meter di depan kita, setelah itu kita akan berjalan di belakang Andine, kita tetap bisa menjaga Andine dari kejauhan," Terang Arman mencari solusi. "İtu baru benar, Andine tetap aman, fitnah pun tidak terjadi, tapi tidak adakah yang berniat mengantarkan aku pulang?" ucap Sasa cemberut. Arman dan Miksel saling berpandangan, mereka terdiam membisu. "Aku hanya bercanda! jangan terlalu serius, rumah aku dekat kok, itu udah kelihatan," ucap Sasa menunjuk ke arah rumah nya. "Yasudah mari kita pulang!" ajak Andine bangkit dari tempat duduknya. "Hati-hati ya sayang ku," ucap Sasa melambaikan tangan nya kepada Andine. Andine membalas lambaian tangan Sasa dan mengucapkan salam, lalu pergi berjalan mendahului Arman dan Miksel. setelah berjarak 1 meter, Miksel dan Arman mulai berjalan mengikuti Andine dari belakang. "Kita pamit ya, Assalamualaikum," pamit Arman kepada Sasa. "Waalaikumsalam," Ucap Sasa tersenyum. Sasa memandangi Andine dan Miksel,Arman, berjalan dengan senyuman. sampai mereka tidak terlihat lagi, Sasa pun berbalik untuk pulang kerumahnya. "Astagfirullah! apaan sih Bang? kok berdiri di belakang aku?" ucap Sasa terkejut, kerena tukang nasi goreng berdiri tepat di belakang nya tiba-tiba. "Mau nganterin neng kerumah, si Eneng kan sedih tidak ada yang mau nganterin pulang," ucap tukang nasi goreng dengan wajah lugunya. "İh itu cuma bercanda atuh, yaudah ah aku mau pulang aja, lagian rumah dekat kok," Cetus Sasa berlalu pergi. "Jadi beneran gak mau di antar,Neng?" "Ogah! mending pulang sendiri aja!" ucap Sasa kesal. Tukang nasi goreng tersebut bingung dan mengangkat bahunya, dan kembali melanjutkan pekerjaan nya. "Rumah Andine sudah sampai! terimakasih ya udah nganterin pulang," ucap Andine tersenyum pada Miksel dan Arman. "İya sama-sama, kita balik dulu ya," pamit Arman. "Engak mempir dulu?" tawar Andine. "Engak usah, di lain waktu aja, udah malam juga," ucap Arman tersenyum. "oh, yaudah, hati-hati di jalan ya," jawab Andine. Miksel dan Arman hanya tersenyum dan mengangguk, mereka pun beranjak untuk meneruskan perjalanan pulang. "Miksel!" panggil Andine. Langkah Arman dan Miksel terhenti, dan menoleh ke belakang di mana Andine sedang berdiri. "iya, ada apa?" tanya Miksel menatap Andine. "Masih lanjut kerja sama bapak kan?" Tanya Andine memastikan. "Masih kok," jawab Miksel tersenyum. "oh, yaudah cuma nanyak itu aja, besok jangan telat ya!" ucap Andine. "Pasti kok, tenang aja!" ucap Miksel meyakinkan. "Yaudah, aku masuk dulu ya! Assalamualaikum," pamit Andine yang berjalan menuju ke arah pintu rumah nya. "Waalaikumsalam," jawab Miksel tersenyum. Miksel kembali berbalik arah dan melanjutkan perjalanan pulang. "Kamu sama Andine mulai dekat ya?" Tanya Arman. "Dekat apa nya? kita cuma temanan aja, sama seperti kamu dan dia," jawab Miksel. "Aku berharap sih lebih," ucap Arman. Miksel terdiam mendengar perkataan Arman, dari awal, Arman sudah mengatakan kalau dia mencintai Andine saat pertama kali bertemu. Dia juga tidak bisa membohongi perasaannya kepada Andine, bahwa dia sudah mulai menyukainya. "Hey! kenapa kau berhenti di situ?" Arman yang mengejutkan lamunan Miksel. "Oh, aku melihat sesuatu melintas," ucap Miksel mencari alasan dan melanjutkan langkahnya menuju Arman. "Kau melihat apa?" tanya Arman yang mulai merinding. "Aku melihat bidadari terbang," jawab Miksel sambil tertawa. "Jangan bercanda! kamu buat aku merinding saja," ucap Arman yang mempercepat langkah kakinya. "kamu ini penakut amat! kamu kan rajin sholat, masak sama setan aja takut," cetus Miksel. "Jangan bawa-bawa soal agama dong! itu berbeda dengan mental aku, kamu kan tahu Sedari kecil aku tidak suka cerita horor," ucap Arman yang melihat kekanan kekiri. "İya, aku ingat! kamu menangis dan kencing dalam celana saat lampu di rumah mu mati, dan kamu menjerit saat aku masuk ke kamar mu memakai baju serba putih," ucap Miksel yang tertawa mengingat masa lalu. "Udah dong! nanti ada yang dengar, itu rahasia kita berdua, tidak boleh ada yang tau," ucap Arman ikut tertawa. "Masa kecil kita sangat indah ya,Man!" ucap Miksel mencoba mengenang masa kecil mereka. "Sangat indah, kamu yang ketahuan makan permen di malam hari, dan bersembunyi di kolong tempat tidur sampe ketiduran, Tante yang khawatir di kira kamu kena culik," Kata Arman ikut mengingat masa kecil mereka. "İya kamu benar! kamu kan yang nemuin aku di kolong tempat tidur?" ucap Miksel tertawa bahagia. "iya, iya benar" jawab Arman ikut tertawa. "Semoga persahabatan kita tetap bertahan ya Man," ucap Miksel. "İya dong, harus dong! nanti kalau kita sudah bertemu jodoh kita, aku nikah sama Andine, dan kamu nikah sama wanita lain, terus anak kita jadi penerus persahabatan kita," Ucap Arman membayangkan masa indah mereka di masa depan. Miksel hanya terdiam dan tersenyum saat mendengar Arman ingin menikahi Andine. Dia tak tahu, apakah mempertahankan perasaan nya kepada Andine, atau membiarkan nya begitu saja, dia juga tidak bisa menyakiti perasaan Arman, dia juga tak rela kehilangan sahabat terbaiknya hanya kerena cinta. Tapi Miksel juga tak yakin, bisa membiarkan perasaan nya kepada Andine berlalu pergi begitu saja. "Kenapa ini semua ini harus terjadi Antara aku dan Arman, kenapa kami harus mencintai wanita yang sama?" ucap miksel dalam hati. Bersambung ... Happy reading ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN