Rencana Temu Kangen

1656 Kata

Mas Edgar mengusap wajahnya kasar. Jelas sekali kalau dirinya keberatan dengan permintaanku yang aku akui memang tidaklah mudah. Ah! Wajar saja. Bukankah yang dia tahu cuma hidup enak sejak kecil? Jadi, pasti persyaratan itu sangat berat untuk orang sepertinya. "Apa nggak ada persyaratan yang lebih ekstrim lagi, Afifah? Misalnya … memintaku untuk terjun dari atas gunung begitu?" Aku tertegun dengan jawabannya. Bukannya mengucap kata setuju, dia justru menantangku dengan kalimat yang terdengar mengerikan. Tak tahukah dia kalau kata-kata itu adalah doa? Kenapa mudah sekali mengatakan itu? "Please, mintanya jangan yang aneh-aneh, ya. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau Rafka belum lama kelar dari pendidikan S2-nya? Baru beberapa bulan ini?" tanyanya mengingatkan. Memang benar, Rafka baru seki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN