"Gerah, Kay? Perlu diambilin kipas atau … es batu sekalian biar seger?" tanya Rafka saat melihat gadis 23 tahun yang duduk di sampingnya tampak duduk tak tenang setelah melihat berapa banyak jejak yang kutorehkan di leher mantan sang mantan kekasih. Laki-laki yang hampir delapan bulan resmi menjadi suamiku, meski belum aku ketahui secara pasti kalau hatinya sudah kumiliki atau belum. "Nggak nyangka, euy, bisa ganas juga bumil satu ini. Jadi pengen hamilin orang juga, nih, kalau begini ceritanya." Aku berusaha tetap tenang meski ingin sekali menyembur tawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut adik iparku. Sungguh, keberadaan Rafka dengan segala ucapan dan perangainya yang kadang menjengkelkan, membuatku benar-benar terhibur dan bisa membuatku melupakan sejenak pahitnya hidup karena

