Sebulan telah berlalu sejak hari di mana terukir sejarah manis untuk Karin, tapi pahit untukku. Kini, wanita berhati lembut itu telah berbahagia dengan pasangan baru, sedangkan diri ini masih merana. Meratapi kebodohan yang membuatku harus kehilangan berlian indah. Sesal ini tak bertepi karena Karin takkan pernah kembali di hidupku. Kondisi kakiku sudah membaik. Akan tetapi, sesekali masih harus melakukan pengecekan dan terapi. Dokter juga melarang mengangkat beban berat yang mengharuskan bertumpu kuat pada kaki. Ekonomi semakin memburuk, sedangkan hidup harus terus berjalan. Aku berusaha mencari pekerjaan ke sana-kemari, tapi belum juga berhasil. Kemarin sempat pergi ke alamat kantor yang diberikan Anthony. Katanya, di sana sedang buka lowongan untuk staf baru. Sayang seribu sayang, aku

