Hanya Tinggal Kenangan

2766 Kata

"Mas Fandi ...," lirih Karin. Dokter Fandi mendekat dan langsung menggendong Kamal yang meronta-ronta dari gendongan Karin. Bayi lucu itu tersenyum dan tertawa saat wajahnya diciumi pria yang sebentar lagi akan menjadi Papa sambungnya. Bolehkah aku cemburu? Kamal darah dagingku, tapi kenapa dia seolah lebih dekat dengan Dokter Fandi? Aku menoleh pada Papa yang menepuk pundak, lalu tersenyum dan segera menyeka air mata. "Papa bangga padamu," ucapnya dengan mata berembun. Mendengar ucapan itu, aku langsung memeluk Papa. Aku butuh kekuatan agar bisa ikhlas dan kuat menerima kenyataan kalau dua orang yang kusayangi akan menjadi milik orang lain. "Kamu kuat, Mal. Kamu hebat. Aku juga bangga padamu," ujar Anthony yang ikut mengusap-usap punggungku. Syukurlah. Setidaknya, upaya terakhir u

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN