keanehan

1128 Kata
*** aku langsung masuk kerumah mencari ibu , mas putra dan ridwan . ternyata ibu sedang menyiapkan semua barang - barang ibu , sedih rasanya ibu juga harus meninggalkan rumah ini , bagaimana pun aku dan mas putra harus memikirkan yang terbaik untuk ibu . aku biarkan dulu ibu membereskan barang - barang nya , agar menjadi lebih tenang dan tidak ada yang tertinggal . aku tidak menemukan ridwan bersama mas putra , lalu ku berjalan melewati taman belakang rumah , aku dengar ridwan sedang menelepon seseorang . " pokok nya bereskan saja dia , aku tidak mau dia ada lagi mengganggu " siapa yang ditelepon ridwan pikirku . tapi mungkin saja urusan pekerjaan pikirku " hai " sapa ku pada ridwan " kau sudah pulang , lama sekali " ucap ridwan manja " tadi aku duduk dulu di tempat pak de tukang bakso " aku terpaksa berbohong " benar saja kau makan bakso tidak mengajakku , pasti itu enak " ucap ridwan " kau suka bakso ? nanti aku ajak kesana " aku beralasan " kenapa harus nanti kalau ternyata sekarang bisa " ajak ridwan langsung menarik tangan ku *** " pak de , baksonya dua mangkok ya " pesan ku pada pak de setelah bakso datang ridwan langsung menyantap bakso sampai habis , ini lapar apa doyan pikirku . " pak de , bakso nya dua mangkok lagi ya " pesan ridwan " buat siapa dua ? aku sudah kenyang " tolak ku " itu buat aku dua - dua nya sayang , baru kali ini aku makan bakso enak " jawab ridwan " lapar atau doyan sayang ? " ledekku ridwan hanya bergumam , liat ridwan makan dengan lahap seperti tidak pernah memakan bakso . " kamu kapan balik kerja lagi sayang " tanyaku pada ridwan setelah ridwan menghabiskan tiga mangkok bakso " belum tau , aku nyaman disini . aku suka daerah ini " jawab ridwan yang sedang kekenyangan " apa atasanmu tidak marah jika kau tidak masuk kerja " tanya ku pada ridwan " tenang saja , semua sudah aku atur , aku bisa saja mengajukan cuti " jawab ridwan santai *** kami langsung menuju rumah ku kembali , sebentar lagi ibu , mas putra dan mba lisa berangkat , sedangkan aku juga kembali ke kos ku . sepanjang perjalanan aku merasa binggung dengan pekerjaan ridwan . apa dia benar - benar mempunyai pekerjaan atau hanya seorang pengangguran pikirku . sesampai dirumah kami langsung menuju ke dalam , aku lihat barang - barang yang akan ibu bawa sudah diletakkan dekat pintu rumah . aku lihat ibu seperti berat untuk meninggalkan rumah , aku tau dirumah inilah ibu dan ayah bersama dan berjuang selama ini demi aku dan mas putra . " ibu sudah siap ? " tanya mba lisa " sudah nak , ibu rasa barang - barang ibu sudah cukup untuk dibawa " jawab ibu " ibuu " sapa ku sambil memeluk ibu " ridwan , mas titip vacia ya , kalau memang niat kau serius untuk menikahi adikku satu - satunya mohon kau segerakan saja " ucap mas putra pada ridwan " semoga mas , nanti aku dan vacia rencanakan lagi pernikahan kami . aku berjanji akan menjaga vacia sebaik mungkin mas , melebihi diri ku sendiri " jawab ridwan pada mas putra diam - diam aku meneteskan air mata , aku meminta pada tuhan jika memang benar ridwan adalah orang nya tolong jaga hatinya agar tetap terpaut dengan ku , aku tak ingin luka lagi seperti dulu dengan puja . aku sebenarnya merasa aneh dengan kerjaan ridwan , aku tidak pernah melihat ridwan sedang bekerja , aku tidak pernah mendengar atasan ridwan menelepon , jadi selama ini dia bekerja dimana , apa aku tanyakan langsung pada ridwan saja pikirku . " sayang , aku ingin bertanya sesuatu boleh ? " tanya ku " tentu saja " jawab nya datar " kau sebenarnya bekerja dimana ? aku tidak pernah melihat kau bekerja " tanya ku hati - hati takut ridwan tersinggung " aku bekerja di perusahaan swasta , perusahaan itu tidak menuntut kehadiranku , hanya ingin totalitas sebagai karyawan " jawab ridwan aku sengaja tidak memperpanjang pertanyaan mengenai pekerjaan ridwan lagi , takut akhirnya dia tersinggung , semuanya tetap menjadi pertanyaan di otakku , apa jangan - jangan dia pembunuh bayaran pikir ku . aku menggeleng - geleng sendiri karena pertanyaan di otakku yang akhirnya tanpa aku sadari ridwan memberhentikan mobil dan memegang jidat ku . " kau pusing ? sakit ? " tanya ridwan binggung " ha ? tidak , aku tidak kenapa - kenapa " jawab ku kikuk aku biarkan pertanyaan tentang pekerjaan dan sikap ridwan yang seperti orang tidak pernah memakan bakso . aku berusaha berfikir positif . mungkin saja tadi sewaktu memakan bakso dia lapar , dan mungkin saja kantornya membebaskan para karyawan . tidak menutup kemungkinan jika ridwan berbohong pasti akan ketahuan juga . *** sesampai di kos aku langsung mengangkat satu persatu barang - barang ku . ridwan membantu mengangkat barang - barang ku ke kamar . teman - teman kos ku memang biasanya duduk di taman kos kami hanya untuk bersenda gurau . mereka melihat ridwan mengangkat barang - barang ku . ridwan tampak tampan dengan kemeja hitam lengan panjang yang dia gulung sampai siku nya , dan celana levis santai beserta sepatu sneaker menambah kesan cool penampilannya . ridwan dengan sopan meminta permisi pada ibu kos ku untuk naik ke lantai dua kamar ku sekedar mengangkat barang - barang ku . dan sudah aku yakini kalau ibu kos juga terpesona dengan ketampanan ridwan . " sekarang kau istirahat , aku akan langsung kembali , besok aku harus bekerja agar cepat bisa menjadikan mu istri ku " ucap ridwan " ha ?? kau hati - hati dijalan , kabari aku jika terjadi apa - apa dengan mu " pipi ku memerah tersipu malu dengan ucapan ridwan barusan " ini kunci mobil mu , aku yakin besok kau butuh mobil untuk melanjutkan kegiatan mu " ia menyerahkan kunci mobilku " lalu kau kembali dengan apa ? " tanya ku binggung " tidak usah kau pikirkan , aku bisa menyewa angkutan umum ridwan pergi dengan mengacak rambutku sedikit dan memberi ku setangkai bunga mawar merah , ridwan memang penuh kejutan gumam ku . aku mengantar ridwan sampai pintu gerbang kos ku aku melewati taman tempat teman - teman kos ku bersantai . aku berencana duduk sebentar sekedar tegur sapa agar keakraban kami tetap terjalin . " itu tadi pacar baru mu ? " ucap aleta " kau berkenalan dimana ? sangat tampan ya ? aku mau dong dicarikan seperti itu " ucap aleta lebih lanjut aku hanya menjawab dengan tersenyum dan menggaruk kepala ku yang tidak gatal . aku segera permisi menuju kamarku . * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN