***
setelah semua barang - barang ayah selesai aku kemasi dan aku pastikan tidak ada yang tertinggal , lalu mas putra datang menghampiri ku memberitahu bahwa ambulance yang membawa jenazah ayah telah siap . sebelumnya kabar kepergian ayah sudah diberitahu kepada saudara lainnya , jadi rumah juga sudah disiapkan untuk kedatangan jenazah ayah . di sekitar rumah juga mungkin sudah diumumkan bahwa ayah sudah meninggal dunia .
aku membiarkan ibu yang menemani jenazah ayah di mobil ambulance , sedangkan aku bersama Ridwan di mobil ku , sedangkan mas putra juga di mobil nya bersama mbak lisa . rasanya ini adalah perjalanan pulang paling berat untuk hidupku . aku pulang kerumah bersama duka dan air mata . ini adalah patah hati terbesarku sebagai seorang anak perempuan , kehilangan cinta pertama sebelum aku mampu membahagiakannya , tidak pernah terbayang oleh ku akhirnya ayah bukanlah menjadi wali nikahku . bagaimana aku setelah tanpa ayah nantinya . aku menangis tersedu kali ini , rasanya begitu sakit aku bisa menerima kenyataan ini .
***
sesampainya dirumah ku , aku melihat tetangga sudah ramai dirumah , tenda dan bendera hitam juga sudah dipasang , mas putra beberapa kali mengecup puncak kepala ku , aku tau dia juga begitu terguncang dengan kepergian ayah . jenazah ayah sudah di bawa kedalam rumah , aku lihat mas putra bersama Ridwan menyalami satu persatu pelayat yang datang , ibu juga didampingi oleh para tetangga , sedangkan aku masih duduk bersimpuh disamping jenazah ayah , ku pandangi wajah yang selama ini sendu di hadapanku , tangan yang selama ini aku salami aku ciumi bahkan begitu erat memelukku . wajahnya tampak masih gagah meskipun umurnya sudah mencapai enam puluh lima tahun . aku tidak akan meninggalkan ayah walaupun sedetik disaat - saat terakhir aku bisa mendampingi ayah .
sudah pukul sebelas malam , para pelayat satu persatu pamit untuk pulang , rasa sepi mulai mendera , aku meminta ibu untuk istirahat sejenak walaupun disamping jenazah ayah , aku tidak ingin malaikat ku jatuh sakit karena kepergian ayah , menghadapi keadaan begini saja membuat ku merasa berat . tiba - tiba ada yang datang mengetuk pintu mengucap salam , memakai baju hitam , awal nya aku tidak melirik sedikitpun siapa yang datang , tetapi aku mengenal bau parfum itu , iya itu Puja .dihampirinya aku , aku melihat kearah mas Putra yang tampak emosi melihat kedatangan Puja , dan Ridwan yang menatap tidak suka , aku rasa Ridwan mengenali Puja dari mas Putra .
Puja duduk disamping ku, memegang bahuku kemudian aku tepis dengan halus , enggan rasanya disentuh dengan seorang laki - laki yang akhirnya bukan hanya menghancurkan aku , tetapi juga menghancurkan perasaan ayahku . tetapi Puja masih berusaha untuk memegang tanganku yang akhirnya membuat mas Putra dan Ridwan bereaksi , mas Putra dan Ridwan langsung menghampiriku , tatapan tajam dari Ridwan membuat aku sadar jika Ridwan membenci kehadiran Puja disini .
" mau apa kau disini ? apa belum cukup kau menghancurkan hidup adikku satu - satunya " bentak mas Putra
" bukan begitu mas , aku disini hanya untuk menghibur dan menghampiri cia agar tidak terlalu terpuruk dengan kepergian ayah , aku tidak ada maksud lain mas " sanggah Puja
" cia tidak butuh kau , aku ada disini sebagai kekasih dan calon suami cia " balas Ridwan dingin dan penuh penekanan
tatapan mas Putra dan Ridwan membuatku takut akan terjadi keributan , sedangkan Puja menatap ku penuh dengan tanda tanya meminta jawaban dari ucapan Ridwan .
" kalau kau mau disini silahkan , cukup kau duduk disini tanpa mendekati ku , aku butuh sendiri , dan ini Ridwan kekasih ku sekaligus calon suami ku " ucapku berusaha menengahi
aku lihat Puja masih belum terima dengan jawabanku . dia benar - benar tidak pergi dari rumahku , hanya saja dia duduk agak menjauhi ku sekedar memberi aku ruang sendiri sesuai dengan permintaan ku . aku pun meminta mas Putra dan Ridwan jangan terlalu khawatir , selang tak berapa lama aku melihat kedatangan orang tua Puja , aku bersyukur mas Putra masih tetap ramah pada orang tua Puja , karna bagaimana pun orang tua Puja tidak bersalah atas kejadian kegagalan pernikahan aku dan Puja .
***
hari ini jam dua belas siang akan dilaksanakan pemakaman ayah , ayah dimakamkan di taman pemakaman umum kampung ku , aku menghantarkan ayah sampai ketempat istirahat terakhirnya .
ini adalah hal paling berat dalam hidupku . aku tidak menyangka ayah akan pergi secepat ini . masih banyak pertanyaan dalam otak ku apa yang menyebabkan kondisi jantung ayah menurun . aku urungkan bertanya pada ibu , takut juga jadi beban pikiran untuk ibu .
di pemakaman ayah hari ini banyak tetangga yang ikut mengantarkan . termasuk papa dan mama Puja , juga Puja hadir pada hari ini . Ridwan selalu berdiri dibelakang ku agar Puja tidak bisa mendekati ku atau mengambil kesempatan pada saat seperti ini . mba lisa juga selalu mendampingi ku , meskipun mba lisa dan mas putra belum menikah tapi keluarga sudah saling tau karna hanya terikat kontrak mba lisa sebagai salah satu karyawan bank pada saat ini .
sepulang dari pemakaman ayah aku langsung menuju kamar untuk membersihkan diri , sebelumnya aku hantarkan dulu ibu ke kamar agar bisa beristirahat sebentar sebelum menemui para tamu kembali . aku lihat Ridwan dan mas Putra juga menuju kamar mas Putra , aku ternyata ketiduran karna lelah menangis , aku turun dari kamar ku menuju lantai satu , aku tidak menemukan Ridwan , aku menelepon Ridwan tetapi tidak dijawab , akhirnya aku mencoba berkeliling rumah dan pandangan ku terhenti pada taman belakang melihat Ridwan dan Puja sedang beradu argumen . sengaja aku tidak langsung menghampiri , aku ingin mendengar terlebih dahulu apa yang mereka bicarakan .
" jangan pernah lagi mengganggu cia , cukup selama ini luka dihati nya sulit untuk sembuh " ucap Ridwan datar
" tau apa kau tentang luka dan hidup cia , aku yang terlebih dahulu bersama cia , aku yang lebih tau bagaimana hidupnya " balas Puja
" dia saat ini kekasihku dan akan menjadi calon istri ku , biarkan dia bahagia dengan ku . dan kau jalani pilihan yang sudah kau tentukan " sahut Ridwan
" jangan mengatur kau , lihat saja siapa yang akan dipilih oleh cia nantinya , aku pastikan kau bakal kalah " jawab Puja tak mau kalah
setelah itu Ridwan segera berlalu dari Puja , aku tau betul bagaimana Ridwan menghindari perselisihan , dari pada berdebat dan banyak bicara Ridwan lebih memilih membuktikan semua ucapannya selama ini . aku langsung segera menuju keruang tengah kembali . aku tidak mau Ridwan maupun Puja tau jika aku mendengar percakapan mereka tadi . Ridwan datang menghampiri ku , duduk disebelah ku dan sekedar mengacak - acak rambut ku , aku lihat senyum tenang itu dari bibirnya , aku pandang mas Putra mengangguk tanda menyetujui ini semua , karna bagaimana pun saat ini mas Putra adalah satu - satunya laki - laki yang akan melindungi ku seperti ayah .
" aku besok harus kembali sayang , ini sudah hampir seminggu aku izin dari pekerjaan " ucap Ridwan
" iya , maafkan aku , demi aku pekerjaan mu jadi terbengkalai " ucapku sesal
hanya senyuman yang aku dapat dari Ridwan , aku tau dia memilih tidak memperpanjang perdebatan antara kami
*
*
*