Anya tak bisa tidur, dan ini bukan untuk pertama kalinya. Ia berusaha menghitung domba, babi atau apa pun, dan sekarang Anya mondar-mandir di dalam kamar dengan semua kesedihannya, matanya bengkak, dan hatinya lebih tak berbentuk lagi kini. “Aku mengkhawatirkanmu. Aku mencarimu kemana-mana, aku minta maaf, Sayang. Aku merindukanmu.” Suara Nathan kembali terngiang di telinga Anya bagaikan Nathan yang mengatakannya secara langsung. Anya masih merasakan panasnya napas Nathan yang naik-turun, bau keringatnya yang bercampur dengan aroma mint. Anya menelan ludah, ia kembali berjalan, berdiri memandangi langit malam yang tak berbintang, tampak lebih gelap dari malam-malam sebelumnya. “Maafkan aku, maafkan aku, Sayang,” Pinta Nathan dengan suara penuh kesakitan. Anya menggelengk

