Nathan - 5

1087 Kata
Hari sudah gelap saat Nathan menepi di rumah itu. Cahaya lampu tampak membanjiri jendela rumah bergaya Tudor Inggris hingga ke taman yang terbentang di depannya. Nathan dapat melihat dua orang sedang berdiri menunggunya. Nathan keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk. Ia sempat melirik ke arah garasi, dan ia cukup bernapas lega karena tak mendapati mobil sedan mewah milik mamanya. “Kau baru pulang, Nak?” tanya Jacob. Nathan menarik senyum datar diwajahnya. Di ruang depan sudah menanti Jacob dan Irene. Nathan berjalan mendekat ke arah Irene, istri Jacob yang baru dilihatnya hari ini. Nathan memeluk Irene sambil bertanya, “Apa kabar, Bi?” Irene membalas usai melepaskan pelukan sang keponakan. “Baik, Nak. Aku senang melihatmu di rumah ini.” Keduanya saling melepaskan senyuman. “Kau sudah makan?” tanya Irene lembut. Nathan menjawab dengan anggukan pelan. Nathan suka dengan keluarga pamannya. Mereka semua memperlakukan dirinya dengan baik dan keluarga yang benar-benar hangat. Kehangatan yang tak pernah ia dapatkan di keluarganya sendiri. Jacob mengamati Nathan yang terasa berbeda. Aura dalam dirinya tidak seperti Nathan yang tadi pagi meninggalkannya dengan dering telepon dari Valerie. “Dimana Casey?” tanya Nathan. Ada banyak hal yang ia ingin tanyakan dengan Casey mengenai Massachusetts Institute of Technology dan hal ini berhubungan dengan gadis cantik yang ditemuinya siang ini. Gadis bernama Anya Platas. “Dia belum kembali. Mungkin sebentar lagi.” Irene menyahut dilanjutkan dengan senyuman manis. “Baiklah, aku akan tinggalkan kalian berdua. Selamat malam, Nath.” “Selamat malam, Bi,” balas Nathan seraya memberikan kecupan sayang pada Irene sebelum wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Nathan dan Jacob. Irene menghilang di balik dinding. “Valerie menanyakanmu, Nath. Kau sudah meneleponnya?” Wajah Nathan langsung berubah masam. Menatap sang paman dengan datar.  Jacob sadar akan itu. Ia menatap Nathan dengan kerut dikeningnya. “Aku tidak ingin membahas tentangnya, Paman.” Nathan menghempaskan tubuhnya ke salah satu sofa. Memijat keningnya, dan ia menarik udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru. “Ada baiknya kau pulang ke Manhattan. Maksudku---” Jacob berhenti saat mendapati pandangan mata Nathan yang berubah keruh, ada jeda sebentar. “Kau bisa tinggal di sini lagi setelah urusanmu selesai.” “Urusanku tidak akan pernah selesai dengan mama ku sebelum ia berhasil menjodohkan aku dengan salah satu anak dari rekan bisnisnya, Paman.” Nathan meracau panjang lebar, mengungkapkan semua yang ada di kepalanya. Ia tahu betul rencana Valerie untuk dirinya. “Karena hal itu kau tidak pernah kembali?” Jacob mencoba untuk menebak isi pikiran Nathan. Nathan menolehkan kepala ke samping, menatap Jacob yang telah duduk tepat bersisian dengannya. “Ya, salah satunya.” Nathan mengakui keputusannya selama ini pada Jacob, tepat sebelum ponselnya berdering di dalam saku celana jins yang dikenakannya. Nama Valerie muncul di layar ponsel Nathan. Jacob dapat melihat itu. Keduanya saling melirik. “Jawab teleponnya. Aku yakin dia merindukanmu, Nak.” Jacob menepuk bahu Nathan sebelum ia beranjak dari duduk dan meninggalkan Nathan sendirian diruang depan rumahnya. “Yes, Ma.” “Nathan, kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Kenapa kamu memilih pulang ke Boston? Kau tahu kalau---” “Mama,” potong Nathan cepat sebelum lebih banyak lagi pertanyaan tajam yang meluncur dari mulut mamanya yang membuat telinganya terasa panas. Terdengar Valerie menarik napas. “Mama, aku akan pulang. Tapi tidak sekarang.” Nathan mengatakannya dengan tegas sambil beranjak dari sofa. Ia berjalan keluar rumah, berdiri di teras sambil memandangi taman hijau yang terhampar di hadapannya. “Kau tahu, banyak yang harus mama diskusikan denganmu, Nak.” Nathan tersenyum miring seorang diri. Dunia terasa membosankan secara tiba-tiba bagi Nathan jika sudah berhadapan dengan Valerie, Mama-nya.  “Mama ingin mengenalkanmu dengan rekan bisnis baru kita, Nath. Mama ingin---” “Menjodohkan ku, iyakan?” tembak Nathan langsung. Ada keheningan menyelinap. Apa yang dikatakan Nathan memang benar. Valerie memang tidak mengakuinya. Tapi ini merupakan usaha kesekian kalinya. Wajah cantik dengan senyum manis milik Anya berkelebat di dalam kepala Nathan. “Dia gadis yang cantik, Nath. Dia baru lulus dan---” “Iya. Aku akan pulang dan menemui rekan bisnis mama setelah urusanku selesai disini.” “Urusan apa?” tanya Valerie tak sabar. Nathan tak ingin menceritakan apa pun mengenai bisnisnya diluar perusahaan keluarga Stephenson. Ia menyembunyikan bisnisnya yang telah menggurita tanpa membawa nama keluarga ayahnya. Ada dua bisnis yang sedang dikerjakan Nathan dan tidak satu pun Valerie diberitahukan. “Setelah acara wisuda Casey dan acara yang dibuat paman akhir pekan ini.” Nathan mengatakan hal lain untuk menutupi rencana ia yang sebenarnya. Wajah Anya masih terus membayang dalam kepala Nathan. “Kau benar-benar keterlaluan. Lebih mengutamakan--” “Stop it!” sela Nathan tegas. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya, “Paman Jacob yang telah membuatku bebas dari penjara. Aku juga lebih suka disini.” “Mama yang telah menyelamatkanmu, Nath.” Valerie tak ingin kalah. “Kau harus tahu, gadis itu telah pergi dari Manhattan. Jadi tidak ada alasan kau untuk tidak kembali kesini.” Valerie menarik napas, terdengar napasnya naik turun. “Pamanmu hanya menyelamatkanmu dari jeruji besi. Tapi mama yang telah menyingkirkannya dari kota ini. Kau dengar itu, Nath?!” “Apa yang mama lakukan padanya?” tanya Nathan memburu. Seketika seluruh tubuhnya bagai tersengat bara panas. “Katakan padaku, apa yang telah mama lakukan padanya?!” tanya Nathan sekali lagi dan terdengar lebih tegas. Ada amarah tersirat disana. Tak ada jawaban yang meluncur. “Mama, jawab aku,” tuntut Nathan dengan lantang. Bukan jawaban yang didapatkan Nathan, tapi Valerie memilih untuk memutus percakapannya. Suara nut…nut…nut yang terdengar. “Sial!” maki Nathan. Bayangan wajah gadis malam nahas itu berkelebat, suara histerisnya kembali memekik ditelinga Nathan. Rasanya begitu menyiksa, ia kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Jacob dengan kecepatan yang luar biasa. *** Anya telah mencari semua nama Nathan Grayson di sosial media miliknya. Nyaris semua sosial media ditengah pencariannya pada situs lowongan pekerjaan. Tak juga Anya mendapatkan informasi mengenai pria tampan yang ia temui tadi siang. Pria yang nyaris ia tabrak. Anya masih menekuri laptop miliknya. Laptop hasil dari tabungannya. “Kau sedang apa, An?” tanya Sue saat mendapati kamar Anya masih terang. Ia muncul dari balik pintu. “Bibi,” desah Anya terkejut. Ia menutup laptopnya saat bibinya berjalan mendekat lalu duduk di tepian ranjangnya. “Aku sedang mencari pekerjaan.” Tampak Sue datang dengan membawa sebuah bungkusan plastik. “Anya, Bibi punya ini untukmu.” Sue memberikan kantong di tangannya pada Anya. Kening Anya berkerut, matanya memicing penuh tanya pada sang bibi. “Apa ini?” Sue tersenyum, lalu membelai rambut Anya yang tergerai di punggung. “Buka lah, An. Bibi sengaja membuatkannya untukmu.” Anya langsung membuka bungkusan di tangannya. Betapa terkejutnya Anya. Mata birunya membulat, mulutnya membentuk huruf O lalu menatap Sue yang tersenyum lembut.  “Bibi…ini…” Anya terkejut dengan yang didapatnya. Sebuah gaun berwarna merah dengan potongan sederhana namun tampak elegan. Anya menatap Sue sebelum berhambur memeluknya. “Terima kasih, Bibi,” tukas Anya bahagia. “Sama-sama, Sayang. Bibi buatkan khusus untukmu. Untuk acaramu.” “Ya Tuhan, Bibi. Betapa beruntungnya aku memilikimu.” Anya menghadiahi Sue dengan banyak kecupan di pipi hingga tawa Sue lepas disusul dengan tawa Anya. Ruangan berubah ramai. “Kau benar-benar b******k, Anya,” desis Fedra dari balik pintu sebelum ia kembali keluar meninggalkan rumahnya.   *** Bersambung... Jangan lupa tinggalkan Love kalian ya                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN