Luka Yang Membekas

1504 Kata
Ricky berjalan keluar kamar dan menuju ke kamar mandi, matanya terlihat merah di perhatikan oleh Indra yang duduk di kursi meja makannya. Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, Ricky berjalan kembali ke kamarnya dan mengenakan pakaiannya yang di belikan oleh Indra kemarin malam. Ia berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya, bibirnya masih rapat membisu. Kini dia mencoba keluar kamarnya berjalan perlahan masih menundukkan kepala menghampiri meja makan, disana Indra sudah menunggu dengan senyumannya. Indra memasak sop ayam dan kini mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan hening tanpa ada yang berbicara sama sekali. Indra merasa sedikit canggung, dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya setelah menceritakan sebuah kenyataan tentang kedua orangtua Ricky. "Setelah selesai makan, kita akan berkeliling kota. Disini udaranya masih segar dan sejuk alami lho," ucap Indra mencoba menghibur hati Ricky yang masih gundah, di balas anggukan oleh Ricky sembari menyusup kuah sop ayamnya. Mengenakan pakaian santai dengan celana panjang selutut, mereka berdua kini bersiap untuk keluar jalan-jalan pagi. Berjalan kaki menelusuri jalanan yang damai dan tentram, apalagi Indra begitu di kenal oleh warga sekitar. Setiap ada orang yang berselisihan atau pun hanya lewat saja, selalu menyapa Indra dengan tersenyum ramah. Ada seorang gadis juga menyapa Indra kemudian melihat kearah Ricky dan mencubit pipinya yang berdiri bersampingan dengan Indra. "Ini putra mu, Indra? Iiihh lucu nyaa," tanya seorang gadis itu sembari tangannya masih gemas-gemas Ricky. "Iyaa, namanya Ricky. Sekarang dia adalah putra ku," jawab Indra tersenyum tipis. "Waaahh imut sekali putra mu! Mana ibunya?" tanya Mary, dia berjongkok berhadapan dengan Ricky. "Hah?? Ibunya?? Hmm, dia.." belum sempat Indra menjawab pertanyaan dari Mary. Mata Ricky mulai berkaca-kaca dan meneteskan air matanya. Mary yang tidak tahu apa-apa tentang Ricky, dia melihat air mata yang menetes membasahi pipinya, namun dia langsung memeluk Ricky dengan perasaan penuh kasih sayang. Di pinggir jalan dengan tiupan angin berhembus sejuk, adegan pelukan seorang gadis kepada anak kecil yang sedih gundah mampu meluluhkan hatinya, Ricky pun membalas pelukan itu dengan erat. "Aku merindukan ibu," suara Ricky lirih. Indra hanya terdiam saat melihat dan mendengar suara Ricky, namun lain dengan Mary begitu sangat mengerti akan perasaan seorang anak kecil yang merindukan ibunya, gadis itu mengusap-usap punggung Ricky dengan lembut. Mary adalah seorang pengawas atau pengasuh di asrama anak yatim piatu. Tentu dia langsung mengerti akan keadaan Ricky meski dia baru mengenal dan bahkan untuk yang pertama kalinya. "Indra!! kenapa kamu tidak bilang, hah!!" seru Mary menatap tajam kearah Indra yang jadi serba salah. "Tadinya kami mau jalan-jalan juga kesana. Tapi secara kebetulan kita berjumpa disini, jadinya aku tidak sempat deh," jawaban Indra tidak menyambung akan pertanyaan yang di maksud Mary. Indra pun menjadi salah tingkah, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Mary pun mendengus kesal melihat tingkah Indra yang masih terlihat belum dewasa. Kini Ricky merasa lebih tenang dari sebelumnya setelah Mary memeluknya, dan Mary mencoba memberi semangat kepada anak itu untuk tetap tegar dan ceria. Memberikan sebuah permen lolipop sebagai tanda perkenalan Mary kepada Ricky. Ricky mengangguk tersenyum tipis di balas lambaian tangan Mary yang mulai berjalan menjauh dan melangkah menuju arah asrama. Indra mencoba untuk melambaikan tangannya juga kepada gadis idamannya itu namun di balas ejekan oleh Mary yang menjulurkan lidah imutnya. Mary memang seorang gadis yang hanya berpenampilan sederhana, namun kecantikan alaminya mampu membuat para pria jatuh hati padanya termasuk Indra sang Kapten sekali pun jatuh hati kepada Mary. Meski mereka berteman dekat sejak kecil hingga dewasa, akan tetapi tidak ada di antara mereka saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. "Aaahh ... kenapa tadi aku tidak basa basi dulu! Kamu dari mana? apa kabarnya?!" gerutu Indra, merutuki dirinya sendiri. "Kapten! Kita sekarang mau kemana?" tanya Ricky, dia menatap kearah Indra yang masih merutuki dirinya. "Hmm ... kita ke taman saja, mau?" ajak Indra. "Apakah ada sesuatu yang menarik di sana, kapten?" tanya Ricky sudah mulai berbicara kembali dan bahkan terlihat tenang. "Banyak, permainan jungkat jungkit, ayunan, perosotan, besi panjat, bak pasir dan ada sebuah labirin lho. Dan juga kamu bisa menemukan teman-teman bermain di sana." jelas Indra, mereka berjalan dan saling berpegangan tangan terlihat hangat seperti seorang ayah dan anak. Melihat Ricky kini sudah mulai bersemangat, Indra mencoba memahami apa yang tengah terjadi kepada anak itu. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sifat dan tingkahnya Ricky, di mana malam kemarin dipanggil Rocky dengan sifat tingkahnya lebih berani dan tampak selalu ceria bahkan di malam itu dia tidak mengungkit sama sekali tentang keberadaan orangtuanya. Sedangkan dengan nama Ricky, nampak sifatnya pendiam dan mudah terpuruk juga bertingkah pemalu. Seharian Indra mengajak Ricky berkeliling-keliling kota dan menunjukan keindahan alam di sekitar kota yang dibanggakan oleh dirinya. Merasa sudah hampir menjelang sore mereka berdua kini berjalan pulang. Ricky berjalan terlebih dulu di depan dan Indra mengikutinya dari belakang. "Suasana hatinya mulai membaik. Kalau di lihat-lihat dia memang lucu juga wajahnya imut dan menggemaskan. Pantas saja Mary langsung menyukai Ricky, eeh ... Berarti aku dapat saingan anak kecil?" Aaaahh, tidak-tidak mungkin aku bisa di kalahkan anak kecil. Masa seorang Kapten tak bisa menaklukan hati seorang wanita," gumam batin Indra sembari tersenyum tipis melihat tingkah kekanakan Ricky yang memang terlihat menggemaskan. Indra sengaja berjalan mengarah ke tempat asrama dimana Mary berada. Berjalan meski Ricky sempat bingung, dia merasa jalannya sudah benar ke arah rumah namun Indra membelokkan tubuhnya dan memegang bahu Ricky berjalan belok ke kiri yang di mana perkiraan Ricky itu adalah jalan memutar dan bahkan memakan waktu lebih lama sampai ke rumah. "Kita mau kemana, Kapten?" tanya Ricky. "Hmmm ... Kamu pasti suka setelah melihatnya nanti," balas Indra tersenyum tipis pandangannya melihat lurus ke depan sana tanpa menoleh ke arah Ricky yang keheranan. Indra melangkahkan kakinya santai dengan kedua tangan di dalam saku celana. Ricky mengangkat kedua bahunya merasa heran dengan tingkah Kapten, dia pun mengikuti gaya Indra berjalan santai dan kedua tangannya pun di masukan ke dalam saku celana. Sesampainya di depan pagar asrama Putera Masa Depan, di luar pagar Indra melihat-lihat sekitaran dalam asrama dan mencari seseorang hingga matanya tertuju kearah wanita cantik di sana ketika membereskan halaman depan asrama. Ricky memasang wajah malasnya melihat ke arah Indra dengan pipi memerah saat pandangan matanya tertuju kepada gadis cantik yang memeluknya pagi tadi. "Hmmm, ini maksudnya!? Yang suka itu bukan aku tapi Kapten!" seru Ricky, namun tak di hiraukan oleh Indra yang masih terpesona akan kecantikan Mary. Melihat beberapa anak kecil disana seusia sama dengan dirinya, mencoba berjalan mendekati pagar dan tangan Ricky menggenggam pagar melihat keceriaan anak-anak itu berada di dalam asrama sedang asyik bercanda ria di sana. "Kenapa? Apa kamu mau masuk kesana?" tanya Indra mengagetkan Ricky yang tengah fokus memperhatikan anak-anak di sana. Tetapi Ricky kembali diam dan melangkah terlebih dulu menuju pulang. "Yaa ampuuunn, ini anak kambuh lagi dinginnya," ucap Indra menggelengkan kepalanya dan mengikuti Ricky dari belakang. Sesampainya di depan rumah, Ricky masih dalam diamnya menunggu Indra membukakan pintu yang di kunci menggunakan kartu. Malam hari pun tiba, kini mereka sudah selesai dengan aktivitas makan malam. Ricky dan Indra memasuki kamar mereka masing-masing dan saling mengucapkan kata selamat malam. Setelah berada dalam kamar Indra memeriksa tas yang di bawanya, mengambil sebuah buku diary milik ayahnya Ricky. Membuka halaman pertama yang tertulis Dimensi Iblis. Indra mengerutkan dahinya, dia tidak memahami apa maksud dari tulisan itu kemudian dia melanjutkan membaca namun Indra semakin tidak memahami isi diary milik Alex yang menceritakan bahwa dia adalah makhluk Kill keturunan ras legenda. Hingga kisah Alex menjadi salah satu pemegang Pedang 7 Naga di alam dimensi lain. Suatu ketika terjadi sebuah bencana besar yang melanda alam itu, amukan penguasa paling mengerikan telah bangkit kembali di alam itu hingga melenyapkan banyak para makhluk kill di sana. Sampai semua pemegang Pedang 7 Naga pun bertindak cepat mengatasi sesosok yang sangat mengerikan itu, wujud hitam dengan aura paling jahatnya ingin menguasai semua dimensi di alam jagat raya ini. Iblis yang paling mengerikan tercipta dari sebuah api hitam bahkan kekuatannya mampu memasuki dimensi-dimensi alam lain. Di tengah asyik membaca, Indra kembali mengingat-ingat kejadian tempo hari saat berhadapan melawan makhluk besar, bersayap dan bertanduk bahkan meninggalkan bekas luka cakar di tubuhnya. Indra melepaskan pakaian bajunya dan menghampiri cermin, melihat 4 goresan memanjang di punggungnya. Tiba-tiba rasa sakit dilukanya terasa kembali, dengan segera Indra mencari obat pereda sakit untuk lukanya. Tetapi obat yang dibawanya sudah habis, ia tidak menyangka jika luka yang diberikan makhluk Kill itu tidak mudah sembuh begitu saja. Bahkan obat dari resep Prof Dokter ternama saja hanya memberikan pereda sakit dan bukan menyembuhkan, infeksi dari lukanya tidak mampu di atasi dengan tenaga medis berteknologi canggih sekali pun. "Aaaahh!! Luka ini kenapa belum sembuh juga bahkan sekarang terasa panas!!" Jerit Indra mengerang kesakitan yang tak tertahan, rasa terbakar di punggung bekas luka cakaran itu. Kegaduhan dari kamar Indra terdengar sampai ke kamar Ricky, ia terbangun dari tidurnya karena suara Indra yang mengerang membuat sekujur tubuh Ricky merinding. Mencoba memberanikan diri untuk turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar melihat ke arah kamar Kapten. "Kapten, kapteeenn!! Apa yang terjadi kapten?" Panggil Ricky, dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Indra. Detak jantung Ricky berdenyut sangat kencang, nafasnya menjadi tak beraturan. Dia mencoba memberanikan diri membuka pedal pintu kamar Indra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN