Indra yang kedatangan atasannya, tanpa basa basi lagi Ryuga bertanya langsung ke poin utama.
"Aku lebih suka berbicara dengan 4 mata saja," ucap Indra menatap tajam kearah Ryuga.
Merasa anak buahnya tidak dibutuhkan, hanya dengan isyarat saja Ryuga pun menyuruh anak buahnya menunggu di luar saja.
"Sekarang kau bisa ceritakan dari pertama," pinta Ryuga dengan sedikit penasaran, karna mendapat laporan dari Edwin bahwa sahabatnya Indra berstatus kapten mengalami luka dalam pertarungan yang tidak di ketahui siapa musuhnya.
"Aku juga tidak tahu harus mulai dari mana menceritakannya kepada mu," balas Indra tertunduk kedua tangannya masih mengepal.
"Lalu anak siapa yang kau bawa bersama mu ke rumah sakit ini! Jangan bilang anak itu adalah hasil karya mu," ucap Ryuga dengan nada sedikit bercanda, dia mencoba menghibur Indra yang kesal karna gagal dalam penyelamatan meski hanya 2 orang saja.
"Iyaa, dia sekarang menjadi tanggung jawab ku!" Indra masih menunduk mengingat wajah pria yang memintanya untuk membawa putranya bersamanya.
Namun Ryuga salah paham akan maksud dari Indra, berpikir sejenak dan dia pun menatap kembali kearah Indra terlihat sesuatu yang berbeda dari kebiasaannya sifat yang suka membalas candaan. Terlihat wajah penyesalan Indra, namun sebagai sahabat sekaligus atasannya Ryuga menepuk bahu Indra.
"Ada kalanya kita tak harus selalu menang, ada kalanya kita akan mengalami sesuatu yang pahit dan kalah. Tetaplah menjadi diri sendiri, dan pantang menyerah adalah gaya mu dari dulu," ucap Ryuga mencoba menenangkan Indra yang masih bergelud dalam pikirannya.
"Yang ku hadapi bukanlah seorang pria! Wajahnya, tubuhnya, dan suaranya membuatku tak berdaya. Bahkan baju yang super canggih pun tak mampu menahan serangannya dan kau lihat tubuh ku di balut perban ini, bagaimana aku tidak kesal akan kekalahan ini!" jelas Indra membuat Ryuga mencerna setiap perkataannya.
"Sungguh tidak masuk akal," balas Ryuga menyilangkan kedua tangan di dadanya, dia membayangkan sesuatu yang berbeda dari kenyataan Indra.
"Berapa lama kau bertarung melawannya, sampai-sampai kau di kalahkan begitu saja dan jejak musuh mu pun tak di ketahui keberadaannya?" Ryuga bertanya lagi.
"Tidak lama, durasinya mungkin 30 menit saja," jawab Indra turun dari tempat tidur dan berjalan kearah jendela.
"Hah! Kau di kalahkan hanya dalam waktu 30 menit!" suara kaget Ryuga sampai terdengar keluar ruangan.
"Sungguh hebat! Katakan yang sebenarnya siapa yang kau lawan itu?" tanya Ryuga semakin penasaran.
"Si buruk rupa!" jawab datar Indra.
"Hah! Kau yakin?" lagi-lagi suara Ryuga kembali terdengar sampai keluar ruangan. Anak buahnya yang mendengar dari luar mereka hanya menggelengkan kepala, pasalnya kalau Indra dan Ryuga adalah sahabat yang dimana kalau mereka berjumpa dan mengobrol pasti sesuatu hal aneh yang di bicarakan oleh mereka berdua.
Ketika Indra mengatakan sesosok Iblis, makhluk yang menjadi lawannya kemarin. Seketika membuat suasana hati Ryuga menjadi serius dengan seksama mendengarkan dan juga sebuah pesan dari makhluk Kill yang di sampaikan oleh Indra. Bahwa suatu saat nanti akan kembali lagi ke dunia manusia, tidak menutup kemungkinan akan lebih besar lagi kekacauan yang akan datang.
"Lalu bagaimana dengan anak itu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Apakah kau akan mencarikan seorang ibu baru?" tanya Ryuga di balas raut wajah Indra yang menatap kearahnya, dia juga tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka saat ini.
"Aaah ... Sudah lah, nanti aku pikirkan itu," ucap Indra membuyarkan kebingungan mereka masing-masing.
Ryuga tersenyum tipis, bukan berarti dia tidak mengerti tapi terlihat sengaja agar menghibur hati Indra yang gundah akan kekalahan yang pertama kali di alaminya.
"Baiklah ... setelah kau keluar dari rumah sakit, kau bisa ambil hari cuti mu selama satu bulan," ucap Ryuga di balas hormat oleh Indra yang bersemangat.
"Kenapa dia tidak berbicara seperti itu dari awal," gumam batin Indra tersenyum tipis.
Suara ketukan terdengar dari luar, seorang dokter memasuki ruangan Indra dan mengabarkan berita buruk bahwa anak kecil yang bersamanya itu. Akan mengalami depresi yang hebat jika anak kecil itu tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya setidaknya salah satu di antara mereka, bahkan luka cedera di kepalanya karna benturan keras saat kecelakaan kemarin kemungkinan membuat anak itu mengalami amnesia ringan. Mendengar hal itu, Ryuga hanya terdiam melihat kearah Indra yang kosong dalam pandangannya seolah-olah dia adalah orangtua bagi anak itu.
Sempat terjadi perdebatan kecil dalam hal terkait amnesia anak kecil itu, Indra tidak percaya bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengalami hal itu. Namun dokter hanya tersenyum tipis menanggapinya, bahwa itu hanya kemungkinan saja. Panjang lebar dokter yang berstatus spesialis anak, dia menjelaskan kepada Indra bahwa dia harus tetap menemaninya meskipun kenyataannya Ricky sudah tidak memiliki kedua orang tua kandung dan sebagai gantinya dokter itu meminta Indra menjadi orang tua yang penyayang bagi Ricky. Kini Indra pun menjadi penanggung jawab atas nama Ricky.
Di hari berikutnya masih berada di rumah sakit. Indra menghampiri ruangan kamar dimana Ricky di rawat. Melihat peralatan medis yang terpasang di tubuh Ricky, dia mengerutkan dahinya dan melangkah mendekati dan melihat monitor grafik alat pengukur detak jantung anak itu terlihat normal saja.
"Aku bersumpah akan menjadikan mu seorang pria sejati," ucap batin Indra melihat kearah Ricky yang terlihat pulas dalam tidurnya.
Namun terjadi hal mengejutkan saat Indra berpaling dan berjalan melangkahkan kakinya ingin keluar dari ruangan itu, terhenti ketika mendengar suara anak kecil dengan lantang meski hanya sekilas.
"Aku lah hero!" matanya masih terpejam dengan suara pelan Ricky, terdengar jelas bagi Indra yang berada disana. Dia tersenyum tipis dan kembali melangkah membuka pedal pintu kamar, dia pun keluar dari ruangan Ricky dan menutup pelan pintunya.
Indra berjalan menuju taman yang ada di rumah sakit itu. Terlihat bersih dan indah akan bunga-bunga yang menyegarkan mata saat memandang dan menikmati suasana taman bunga disana. Bersantai di bangku taman dan meminum air mineral, hembusan angin segar disana cukup menyegarkan hati Indra. Dia masih mengingat-ingat kembali pertarungannya dengan makhluk Kill itu. Namun dia baru tersadar ketika saat mengeluarkan dan menyelamatkan Ricky waktu itu, orang tua anak itu sempat memberikan sebuah buku diary yang cukup tebal.
Indra bergegas menghampiri kamar Ricky kembali, betapa terkejutnya dia saat membuka pintu kamar Ricky. Anak itu sudah terduduk di tepi ranjangnya dan menjuntai kan kakinya kebawah.
Indra pun mengatur exspresi wajahnya di depan Ricky, tersenyum kaku berjalan menghampiri Ricky.
"kau sudah bangun yah?," tanya Indra dengan nada lembut meski dia tidak pernah melakukan hal seperti itu.
"Selamat siang," kalimat pertama yang di ucapkan Ricky dan tersenyum polos kepada Indra, membuat Indra terheran.
Suara anak itu benar-benar terasa seperti bernyanyi seolah tidak ada perasaan beban yang dia rasakannya.
"Apa kepala mu sudah tidak sakit lagi?" tanya Indra dengan lembut. Namun Ricky seperti orang yang tidak tahu apa-apa bahwa kepalanya terbalut perban. Bahkan dia menggelengkan kepalanya menandakan kepalanya baik-baik saja. Beberapa kali Ricky memanggil Indra yang termenung dalam pikiran tak jelas sampai pada akhirnya Ricky menendang kaki Indra dengan keras.
"Aaawww!! Ke ... kenapa kaki ku di tendang?" tanya Indra mengaduh kesakitan, namun anak itu malah menertawakan Indra.
"Baiklah jagoan ... Kamu sudah sehat dan baik-baik saja. Besok kita akan pulang ke rumah ku. Mengerti!" seru Indra di balas anggukan Ricky.
Sesuai dugaannya buku diary itu ada di atas meja di sebelah tempat tidurnya Ricky, dan membawa buku itu bersamanya. Saat hendak berjalan keluar, celana Indra di tariknya hingga membuatnya terhenti sejenak.
"Nama paman siapa?" tanya Ricky masih tersenyum seperti tadi.
"Indra, tapi kamu juga boleh memanggil ku Kapten," jawab Indra berbalik dan jongkok di hadapan Ricky.
"Dan nama kamu Ricky, yaa kan?bertanya balik kepada anak itu. Namun dia terlihat bingung dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau nama itu!" seru anak kecil itu. Membuat Indra kebingungan, namun terlintas penjelasan dokter kemarin bahwa jangan memaksakan kalau anak itu tidak menyukai apa yang kita tunjukan kepadanya sekali pun sebuah nama.
"Okey okey! Bagaimana kalau kamu, ku panggil Rocky!" pemberian nama dari Indra membuat anak kecil itu menyukai dan mengatakan pemberian nama Rocky adalah keren.
"Padahal nama aslinya Ricky, kenapa malah suka dengan nama Rocky?" gumam batin Indra yang keheranan akan tingkah laku anak kecil itu.
Hari berikutnya di malam hari. Kini mereka berdua sudah bersiap ingin keluar dari rumah sakit. Edwin yang datang menjemput menggunakan sepeda motor milik Indra, kini sudah berada di depan tempat parkiran rumah sakit. Indra dan Rocky berjalan keluar dari rumah sakit.
Rocky yang terlihat mematung saat keluar dari rumah sakit dan matanya yang memandangi gemerlap-gemerlap lampu membuatnya terpesona akan keindahan lampu-lampu kota Modern.
"Sepertinya Rocky belum pernah melihat keindahan kota di malam hari. Atau karna dia hilang ingatan, yah?" gumam batin Indra bertanya-tanya heran akan senyuman dan kegirangan seorang anak kecil dihadapannya.
Edwin memberi hormat kepada Indra yang berjalan menghampirinya dengan tersenyum tipis.
"Lapor Kapten, motor anda sudah siap melaju," ucap Edwin dengan tangan masih memberi hormat.
"Kerja bagus," balas hormat Indra kepada Edwin.
Indra menaiki motornya dan Rocky yang di bantu Edwin untuk duduk di belakang Indra. Tangan Rocky melingkar memeluk Indra dengan erat, saat motor sudah jalan cukup jauh dari keberadaan Edwin. Lambaian tangan Rocky, dia tersenyum ceria mengarah kepada Edwin dan membalasnya dengan lambaian tangan juga tanpa menyadari bahwa dirinya di tinggal begitu saja oleh Indra.
"Eeeh eeeehh! Aku di tinggal! Kapteeeeeenn!!" Edwin berlari sambil memanggil-manggil Indra yang sudah jauh dari pandangan mata. Namun mobil taksi berhenti tepat di hadapannya yang sudah di pesan oleh Indra, membuat Edwin tersenyum lega.