Pan!c

1000 Kata
Sepertinya Raiden Javas benar-benar harus mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu bersabar jika tidak ingin tekanan darahnya naik, berhadapan dengan Jean si kepala batu benar-benar menguras emosi dan tenaga. Malam ini saja contohnya setelah mereka sampai di Keraton Regency sehabis dari Marine Square Park, Jean benar-benar harus mendebatnya karena dia tidak tidur di dorm Seven Antres, gadis itu berusaha mengusir Raiden secara halus dari apartemen miliknya sendiri. "Kamu kan bisa tidur di dorm Seven Antres seperti yang biasa kamu lakukan kenapa harus repot-repot pindah kemari sih menyusahkan saja." Selain keras kepala, fakta lain yang di dapat Raiden malam itu adalah Jean juga bermulut pedas. Raiden ingin sekali membungkam mulut Jean dengan ciuman manis misalnya ? Tapi maaf saja Raiden masih sayang dengan nyawanya dari yang Raiden amati beberapa Minggu terakhir ini juga atas laporan dari orang yang ia perintahkan untuk memata-matai istrinya itu Jean itu adalah wanita independen, galak dan berpendirian teguh tidak tergoyahkan bukan tidak mungkin juga kalau Jean adalah wanita tangguh yang dapat membantingnya dalam sekali angkatan. “Saat itu aku ada di dorm Seven Antres selama kurang dari sepuluh menit dan yang terjadi adalah kamu kabur." Raiden yang menyindir kejadian yang lalu membuat Jean gelagapan ditempatnya dan tidak menyangka kalau Raiden juga se ke kanak-kanakan ini. Mainnya sindir-sindiran, gak gentle sama sekali kan? "Tapi untung saja aku tidak bilang orang tua mu, bayangkan saja apa yang terjadi jika putri kesayangan mereka kabur dan absen dari pekerjaannya kan tidak profesional sama sekali.” “Siapa yang bilang aku absen!” “Loh bukannya tidak masuk ke kantor itu dikatakan absen ya?” “Jangan sok tahu aku masih mengerjakan tugas ku ya!” “Oh begitu” "Oke oke oke terserah kamu! Tidur saja disini ini kan apartemen mu" pasrah, Jean, ia tidak ingin mendebat Raiden. ia memutuskan untuk berbalik menuju master room, di ikuti Raiden di belakangnya. "Kenapa kamu mengikuti ku?" "Tidur lah." "Ya ampun! Apa perlu kuingat kan jika ada tiga kamar tidur di apartemen ini kamu kan bisa menggunakan salah satunya kamu bisa menggunakan yang ada di dekat ruang depan!! Atau aku saja yang kelantai atas.” Raiden menghela nafas panjang, tidak mengerti lagi bagaimana caranya mengingatkan Jean. "Tidak ada ranjang, semua perabotan belum sepenuhnya dipindahkan aku terlalu sibuk dengan Seven Antres dan juga mengawasi istriku yang kabur." Jawaban kalem di warnai dengan sarkasme dari Raiden membuat Jean kesal sendiri dia melanjutkan langkahnya tidak peduli lagi. Terserah pada Raiden saja. Jean mau tidur! Sesampainya di dalam kamar, Jean meraih piyama Rwear yang tergantung di depan pintu lemari lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan menggosok gigi. "Ngomong-ngomong kamu kelihatan suka sekali sama piyama Rwear." Gumaman pelan Raiden membuat Jean menoleh dan mendapati pria itu tahu-tahu sudah ada di atas ranjang sudah berganti dengan piayamnya juga dan bersiap untuk tidur- piyama polos berwarna putih bersih. Mungkin Raiden berganti di bathroom di lantai atas karena terlalu lama menunggunya, pikir Jean. "Bukannya aku tidak punya pakaian disini." Jean bertanya dengan tidak yakin walaupun begitu, gadis itu sibuk menggulung lengan piyamanya yang kepanjangan – Size pria. "For your information, pakaian mu sudah di pindahkan kemarin Jean ada di wardrobe itu." Raiden menunjuk pintu kayu yang mengarah ke Wardrobe pakaian. "Ha?!" "Ibumu sendiri yang mengantarkannya kemarin sore." "Apa bagaimana bisa!! Ibu ku kan tahu jika aku tidak benar-benar istrimu!! Jika Hera kembali aku yang repot harus membereskan barang-barang ku yang ada disini!" “Pertemuan orang tua kita, kamu belum mendengar hasilnya?” “Apa?” “Keluarga kamu dan keluarga aku sepakat untuk melanjutkan pernikahan.” “Apa? bagaimana bisa begitu?” Memilih tidak menanggapi Jean, Raiden meraih handphonenya di nakas dan memainkannya. Jean cemberut merasa semua omelan nya sia-sia. Jean ikut-ikutan Raiden, memainkan handphonenya dan detik berikutnya suara deringan nyaring terdengar-Handphone Jean berbunyi dengan dering lagu SoMo or Nah yang membuat Jean kelihatan kesal karena melupakan jika Nari yang baru saja mengutak-atik handphonenya dan mengganti nada dering sesuka hatinya. "Kamu mengganti nada dering ku lagi ya tadi?" Jean mengangkat Handphonenya sejajar dengan wajahnya berusaha menyembunyikan Raiden Javas yang ada di atas tempat tidur. "Lupakan dulu somo or Nah dimana kamu! Sudah kubilang menunggu kenapa malah meninggalkan aku sendiri di Marine Square aku bingung tahu mencari kamu kemana-mana.” Jean memutar bola matanya kelihatan sebal sendiri, kalau mengingat bahwa Nari yang sempat melupakannya karena sibuk ngobrol dengan kawan Sasaeng nya yang lain. "Di Rumah lah, suruhan Ibuku menyeret ku pulang" Jean tidak bohong Raiden kan pasti suruhan Ibunya secara harfiah. "Ouh pantas saja.." Nari disebrang sana mengangguk paham lalu pandangannya mengedar membuat Jean gugup sendiri. "Itu bukan kamarmu, dan oh apa itu kenapa kamu pakai piyama Rwear sejak kapan kamu jadi suka pakai begituan oh sialan kamu sedang bersama pria ya, yaampun punggung siapa itu tadi." "Ha apa!!" Jean terkejut mendengar teriakkan Nari dan dengan reflek dia menurunkan handphone sehingga kini kamera handphonenya menghadap ke bawah dengan Nari yang terus bersuara menuduh Jean macam-macam. "Ya!! Jean apa yang sedang kamu lakukan!!" Itu adalah teriakan terakhir Nari sebelum Jean mematikan sambungnya secara sepihak. "Ya!! Raiden Javas apa yang baru saja kamu lakukan?" Jean berbalik kesal menatap Raiden dengan tampang polosnya yang minta di gampar, pria itu meregang kan tubuhnya terlihat masa bodoh. "Mau tidur ngantuk, kita bicara lagi besok.” Raiden masih bersandar di headboard ranjang, sambil menarik selimut menutupi kakinya dengan santai. Jean geram dia meraih bantal terdekat dan melemparnya ke Raiden yang ditangkis pria itu dengan mudahnya. "Hei hei jangan melempari ku seperti itu apa salahku!." "Kamu pantas mendapatkannya sialan!” "Apa yang sudah ku perbuat memangnya aku kan hanya merenggangkan punggung ku, kamu tidak tahu kan bagaimana sibuknya aku hari ini.” “Mana ku tahu itu kan bukan urusan ku, terserah lah!" Jean tidak peduli, dia naik ke atas tempat tidur menendang b****g Raiden dengan sangat keras hingga pria itu jatuh dengan suara gedebum, Jean yang gak peduli dengan hal yang baru saja ia lakukan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. "Kenapa menendang ku ya ampun Jean Javas!" teriak Raiden gak terima karena diperlukan seenaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN