From : +82 2 899 9999
Jean, maafkan aku untuk Shangri La dan segalanya.
From : +82 2 899 9999
Maafkan aku eungg.. I don’t mean that
I’ll meet you soon
***
Sore itu, Jean harusnya menolak tegas Nari Pramudya yang mengajaknya jalan-jalan dari pengalamannya yang sudah-sudah Nari tidak pernah benar-benar mengajaknya hangout dengan normal pasti ujung-ujungnya dia harus menemani Nari menguntit idolanya.
Jean tahu itu tapi bodohnya dia malah membiarkan Nari menarik-narik tangannya memaksanya untuk ikut ke sana kemari, dan sialnya lagi kini Jean berakhir di jalanan yang mengarah ke Marina Square bersama Nari yang sedari tadi mengoceh tidak jelas, Jean sangsi jika itu karena Wine yang sempat Nari minum sebelum menyeretnya ke Jalanan Marina Square. karena yang sudah-sudah Nari itu kan memang begitu.
"Mau kemana sih?!"
Jean capek, kesal sendiri karena dari tadi mereka hanya berjalan kaki, dia itu lelah mengikuti Nari yang menyeretnya kesana kemari-mengajaknya ke Bar, ke Line Store, dan sekarang mereka berjalan di Jalanan yang sekarang hawanya mulai dingin.
Harusnya Jean itu di Apartemennya menyelesaikan dateline pekerjaannya dan ha ha hi hi menonton Netflix setidaknya waktunya menjadi produktif daripada harus terjebak dengan Nari yang benar-benar menyebalkan.
"Hampir sampai! Sabar dong Je ingat kamu harus membalas budi padaku tahu, aku sudah berbaik hati memberimu tempat tinggal yang layak loh ini balasan mu keterlaluan mana jiwa persahabatan mu."
Hah sialan!
Jean sebal ketika kembali diingatkan, dia tahu dia menumpang tapi kan tidak perlu diulang-ulang setiap saat kan.
"Dasar tidak tulus!!"
"Apa katamu, sebentar aku sepertinya perlu menelpon bibi"
"Ehhh!!!.."
Jean gelagapan sendiri ketika Nari meraih handphone di clutch bag nya dan mengutak-atik nya di depan Jean.
"Iya iya iya jangan telephon."
Gawat! Jean tidak bisa membiarkan Nari menelpon Ibunya nya, bisa-bisa dia akan di kirim kembali ke suaminya –ngomong-ngomong soal suami, Jean sejujurnya kabur lagi dari Raiden sudah berjalan hampir dua minggu sehabis pertengkaran di Hotel, Jean kabur berakhir menginap di apartemen Nari Pramudya tidak pulang sama sekali ke Keraton ataupun ke rumah orangtuanya.
Dan karena itu Jean harus membuat seribu alasan masuk akal untuk meyakinkan Nari saat itu untungnya dia tidak curiga semuanya aman terkendali–Nari masih tidak tahu status Jean sekarang, yang Nari tahu dia bertengkar hebat dengan keluarganya dan mengakibatkan dirinya kabur dari rumah dan mogok bekerja –
"Nah begitu dong."
Jean hanya bisa mendecak sebal dan mengikuti Nari yang kini mulai berjalan mendekati bangunan mini berbentuk seperti Box dan berwarna Pink itu, Jean tidak tahu itu apa dan tidak ingin tahu.
"Duh kenapa hari ini ramai sekali sih.” gerutu Nari sebal, Jean mengedarkan pandangannya dan memang banyak orang di sekitar bangunan itu padahal hari sudah sangat gelap.
"Kutunggu disini ya sudah sana," Jean mendorong Nari.
"Jangan kabur tunggu sampai aku selesai pokoknya aku harus memperingatkan mereka karena menyebar berita tidak benar yang terakhirnya," peringat Nari sebelum berbalik meninggalkan Jean.
Sepeninggalan Nari, Jean hanya duduk di trotoar yang tidak jauh dari bangunan itu mengamati dalam diam orang yang berlalu lalang. Lima belas menit berlalu Jean bosan sekali menunggu Nari, gadis menyebalkan itu belum selesai, dari kejauhan dia malah terlihat mengobrol asik dengan segerombolan orang yang Jean tidak kenal mungkin teman-teman sasaeng? Jean tidak tahu, menit demi menit berlalu dan mereka masih mengobrol disana dan kelihatan asik sekali Jean yakin mungkin Nari melupakan jika Jean masih menunggu sampai lumutan disini.
Ha ha
"Aduh!!!"
Jean terdorong ketika beberapa orang pria mendorongnya menjauh setelah beberapa mobil terparkir tepat disampingnya, dia tersungkur dengan keras di aspal.
Sialan
Jean berdiri dengan susah payah, berbalik ingin mengumpati siapa saja yang dengan bodohnya mendorongnya padahal jelas-jelas dia terlihat besar! Bukan kasat mata. Tapi umpatannya tertelan di tenggorokan ketika melihat siapa yang keluar dari pintu mobil yang terbuka, diiringi dengan bodyguardnya yang berjaga di sekelilingnya.
"Beri jalan."
Tubuhnya tersenggol bodyguard Seven Antres, Jean ingin berbalik dan melarikan diri tapi terlambat ketika matanya bersibobrok dengan Raiden Javas, pria itu menatapnya dengan tajam Jean berharap pria itu tahu tempat dan tidak melabraknya sekarang.
"Kamu sasaeng ya!!"
Jean berjengit kaget di tempatnya ketika suara bentakan itu terdengar jelas di telinganya, seorang wanita bermasker dengan kameranya tiba-tiba sudah berada di depan Jean menatap sinis.
Kenapa Sasaeng terus yang dibicarakan!
"Bukan!!!!"
Sebal sendiri, Jean menemukan kembali suaranya dan balas berteriak di depan wanita bermasker itu, dasar tidak sopan kenapa coba harus berteriak di telinga Jean.
"Ngaku saja!! Siapa namamu ayo katakan biar ku blacklist!!"
"Hell! Yang benar saja lakukan sesukamu."
Jean mengibaskan rambutnya pongah ia melupakan dimana ia berada, melupakan Raiden Javas dan anggota Seven Antres yang kini menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Dasar sasaeng tidak tahu diri!!"
Jean bersiap mengumpati wanita yang membawa kamera di depannya itu tapi belum sempat ia mengucapkan umpatannya dia tiba-tiba di tarik kebelakang bukan sejenis tarikan kasar namun tarikan itu membuat Jean terkejut dan tanpa sadar Jean sudah di bawa menjauhi tempat kejadian seiiring wartawan yang mulai berdatangan mengerubungi Seven Antres.
"Akhirnya Bang gue bertemu kakak ipar.”
Suara Jake yang berada di sampingnya membuat, Raiden menoleh menyipit penuh curiga.
"Siapa yang lo sebut kakak ipar itu.”
"Yang tadi itu istri lo kan?"
"Pengen tahu saja sih kepo, gue bilangin zee baru tahu rasa!!"
"Ah apaan sih lo gak asik banget."
Jake menggerutu lalu fokus menandatangani board di depannya.
Raiden tersenyum, kearah para wartawan yang mengambil gambar Seven Antres setelah mengunjungi dan menandatangani Sevfolds with Letter mereka menunduk sebagai salam terakhir sebelum berjalan masuk kembali ke dalam mobil yang diiringi suara riuh Sevfolds, pertanyaan para wartawan dan kilatan flash kamera.
Raiden menahan tawanya ketika pintu mobil terbuka, menampilkan managernya di kursi depan dan Jean yang menyembunyikan tubuhnya di kursi belakang, gadis itu menutupi tubuhnya dengan tas-tas Seven Antres, dan wajahnya yang tertutup hoodie hitam menyatu sepenuhnya dengan tempat duduk.
Raiden mendudukkan tubuhnya di kursi belakang mengurung Jean disana, ketika mobil mulai berjalan barulah Jean membuka Hoodie bersiap meneriaki Raiden
"Ya!!! Bagaimana bisa kamu membawaku seperti ini sih ini namanya penculikan!"
Jean kesal dan marah, dia tidak bisa memberontak atau kabur dari manager Seven Antres yang tadi jelas-jelas mengawasinya mana seram dengan satu bodyguardnya lagi mana bisa Jean kabur.
"Terimakasih Bang Reza."
Raiden menoleh kedepan tersenyum tulus kepada Managernya memilih mengabaikan Jean yang mencak-mencak tidak jelas.
"selamat malam kakak ipar."
Jean hampir mengumpat ketika sosok di depannya berbalik memamerkan senyum kotaknya. Kikuk sendiri Jean hanya tersenyum t***l, bagaimana bisa dia baru menyadari jika dia bukan hanya bersama Raiden tapi dengan anggota Seven Antres yang lain aduhh!! Mau menghilang saja Jean rasanya mana tadi dia sempat berteriak-teriak lagi.
"Kita belum berkenalan secara resmi, saat itu di resepsi kami ingin sekali menyapa tapi kami sedikit sibuk jadi tolong maklumi ya aku Dash.”
Dash mengeluarkan tangannya kebelakang sedikit kesusahan karena dia harus memutar tubuhnya demi bisa menghadap Jean.
"Joe Jean"
Dengan canggung dia membalas uluran tangan Dash menjabatnya sebentar sebelum beralih ke anggota lain yang duduk di samping Dash.
"Andaru, senang bertemu dengan mu Jean Javas. Yang lain berada di mobil yang satunya mereka pasti akan senang berkenalan dengan kamu."
Jean mengangguk canggung ketika pria itu sepertinya sengaja memangilnya dengan Javas mengingatkan kembali jika statusnya telah berubah.
Diam-diam Raiden tersenyum ditempatnya melihat kegugupan Jean di depan Andaru –Anggota Seven Antres yang tertua dan paling dihormati.
Jean tiba-tiba menjadi pendiam sepanjang perjalanan menuju Keraton Regency. Haruskah Raiden bersyukur karena itu?